Bahasa Diplomasi

Selasa, 06 Oktober 2026

Upacara pemakaman biasanya dipahami sebagai ruang berkabung. Di sana orang datang untuk mengantar yang wafat dengan doa, penghormatan, dan kenangan. Namun pemakaman Ayatollah Ali Khamenei pada Juli 2026 menunjukkan bahwa sebuah prosesi kematian juga dapat berubah menjadi panggung diplomasi internasional. Yang berbicara bukan pidato resmi, bukan konferensi pers, melainkan potongan-potongan ayat Al-Qur'an.


Setiap delegasi yang datang memperoleh bacaan ayat yang berbeda. China mendengar ayat tentang pertolongan. Hamas memperoleh ayat mengenai orang-orang yang menepati janji. Hizbullah disambut ayat tentang ketabahan menghadapi kekalahan. Arab Saudi justru memperoleh ayat yang dalam berbagai kitab tafsir berkaitan dengan Perang Badar dan Uhud, yang oleh banyak pengamat dibaca sebagai teguran politik.


Apakah semua itu kebetulan? Sulit mempercayainya.


Dalam tradisi politik Iran, simbol hampir tidak pernah dipilih secara acak. Sejak Revolusi Islam 1979, bahasa agama menjadi bahasa negara. Ayat Al-Qur'an, hadis, maupun kisah Karbala bukan hanya menjadi materi ceramah keagamaan, melainkan juga menjadi instrumen komunikasi politik.


Di sinilah menariknya. Diplomasi ternyata tidak selalu berlangsung melalui nota diplomatik, pernyataan bersama, atau perundingan tertutup. Ada kalanya pesan justru disampaikan melalui simbol yang hanya dipahami oleh mereka yang mengerti konteks sejarah dan tafsirnya.


Fenomena semacam ini sesungguhnya bukan hal baru. Sejarah mencatat bahwa kitab suci sejak lama menjadi bagian dari bahasa politik. Dalam tradisi Islam klasik, para khalifah Abbasiyah maupun Utsmaniyah sering mengutip ayat tertentu ketika mengirim surat kepada penguasa lain. Pemilihan ayat tidak sekadar memperindah pembukaan surat, melainkan menyiratkan posisi politik. Ada ayat yang menunjukkan ajakan damai, ada pula yang menjadi peringatan halus.


Tradisi serupa juga dapat ditemukan di Eropa abad pertengahan. Raja-raja Kristen mengutip ayat Injil dalam piagam kerajaan, deklarasi perang, maupun surat kepada Paus. Bahkan pada masa Perang Dingin, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan berkali-kali menggunakan kutipan Alkitab ketika menyebut Uni Soviet sebagai “empire of evil”. Kutipan agama menjadi bagian dari legitimasi politik.


Artinya, kitab suci sering berfungsi ganda. Ia tetap menjadi pedoman spiritual bagi pemeluknya, tetapi dalam tangan negara dapat pula berubah menjadi bahasa simbolik yang mengandung pesan diplomatik.


Ilmu komunikasi menyebut praktik semacam ini sebagai symbolic communication. Simbol bekerja karena tidak pernah sepenuhnya eksplisit. Ia membuka ruang tafsir. Justru karena tidak diucapkan secara langsung, simbol sering kali lebih kuat daripada pidato. Iran tampaknya memahami logika tersebut.


Alih-alih mengeluarkan daftar negara sahabat dan lawan, Iran membiarkan publik dunia membaca sendiri pilihan ayat yang diperdengarkan kepada masing-masing delegasi. Negara tidak perlu mengatakan bahwa Arab Saudi harus bercermin atas sikapnya selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Publik sendiri yang menyimpulkan demikian setelah melihat konteks ayat yang dibacakan.


Dengan cara itu, Iran memperoleh dua keuntungan sekaligus. Apabila pesan tersebut diterima sesuai maksudnya, diplomasi simbolik berhasil. Namun apabila dipersoalkan, pemerintah selalu dapat mengatakan bahwa mereka hanya membacakan ayat Al-Qur'an tanpa memberikan tafsir resmi. Di sinilah kekuatan komunikasi simbolik. Ia selalu menyediakan ruang ambiguitas.


Namun penggunaan ayat sebagai instrumen politik juga menyimpan risiko besar. Kitab suci memiliki otoritas moral yang jauh melampaui kepentingan negara mana pun. Ketika ayat diposisikan sebagai pesan diplomatik, orang mudah terjebak mencampurkan tafsir keagamaan dengan kepentingan geopolitik.


Padahal tafsir Al-Qur'an sendiri tidak pernah tunggal. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, misalnya, sering memberikan penekanan yang berbeda dibandingkan Al-Jalalain atau mufasir lain. Sejarah tafsir Islam justru memperlihatkan kekayaan perspektif. Karena itu, mengaitkan satu ayat secara mutlak dengan satu pesan politik selalu mengandung penyederhanaan.


Di sisi lain, simbol keagamaan memiliki daya hidup yang panjang. Sebuah pidato mungkin dilupakan dalam hitungan minggu, tetapi pilihan satu ayat dapat terus diperbincangkan selama bertahun-tahun. Ia menjadi bagian dari memori kolektif dan narasi politik sebuah bangsa.


Boleh jadi itulah yang ingin diwariskan Iran melalui pemakaman Ali Khamenei. Prosesi itu bukan semata penutupan riwayat seorang pemimpin tertinggi. Ia juga menjadi deklarasi bahwa arah politik Republik Islam tidak berubah. Sekutu tetap dipandang sebagai sekutu. Lawan tetap diperlakukan sebagai lawan. Semuanya disampaikan tanpa satu pun kalimat diplomatik yang eksplisit.


Peristiwa ini mengingatkan bahwa dalam hubungan internasional, kata-kata bukan satu-satunya bahasa. Bendera, warna pakaian, urutan tempat duduk, bahkan menu jamuan kenegaraan telah lama menjadi bagian dari diplomasi. Kini, dunia kembali melihat bahwa sepotong ayat pun dapat menjadi pesan politik yang sangat kuat.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (300) kepegawaian (180) serba-serbi (148) oase (104) hukum (101) saat kuliah (71) pustaka (70) tentang ngawi (65) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)