Kebetulan dan Kebenaran

Senin, 05 Oktober 2026

Imbuhan sering dianggap sekadar aksesori tata Bahasa. Padahal, dalam bahasa Indonesia, imbuhan dapat bekerja seperti belokan tajam di jalan raya. Kata yang semula tampak searah dapat tiba-tiba menuju tujuan makna yang berbeda. “Betul” dan “benar”, misalnya, tampak seperti saudara kembar. Keduanya lazim dipakai bergantian untuk menyatakan sesuatu yang tidak salah. Namun, ketika diberi imbuhan, keduanya tidak selalu lagi berjalan beriringan. Dari sana kita belajar bahwa kebetulan tidak sama dengan kebenaran.


Dalam percakapan sehari-hari, orang bisa mengatakan, “Jawabanmu betul,” atau “Jawabanmu benar.” Kedua kalimat itu sama-sama dapat diterima. Kata “betul” dan “benar” sama-sama menunjuk pada kesesuaian antara pernyataan dengan fakta, antara jawaban dengan soal, atau antara tindakan dengan aturan. Keduanya juga dapat berarti tidak bohong, tidak keliru, dan tidak menyimpang dari keadaan yang sesungguhnya.


Namun, bahasa tidak berhenti pada kata dasar. Ketika “betul” memperoleh imbuhan ke-an, lahirlah “kebetulan”. Ketika “benar” memperoleh imbuhan yang sama, lahirlah “kebenaran”. Secara bentuk, keduanya tampak serupa: sama-sama kata benda, sama-sama berawalan ke- dan berakhiran -an. Akan tetapi, maknanya justru berjarak jauh.


“Kebetulan” menunjuk pada sesuatu yang terjadi tanpa direncanakan, tanpa disengaja, atau datang secara tidak terduga. “Saya kebetulan bertemu dia di pasar,” misalnya, tidak berarti pertemuan itu benar atau sesuai fakta. Kalimat itu justru menyatakan bahwa pertemuan tersebut tidak dirancang sebelumnya. Ada unsur kejadian acak di sana, seolah dua orang yang berjalan di jalur masing-masing mendadak berpapasan.


Sementara itu, “kebenaran” menunjuk pada keadaan yang sesuai dengan kenyataan, fakta, atau prinsip yang diyakini. Dalam ilmu pengetahuan, kebenaran dicari melalui pengamatan, pengujian, dan pembuktian. Dalam hukum, kebenaran diupayakan melalui pemeriksaan bukti dan kesaksian. Dalam kehidupan beragama, kebenaran sering dikaitkan dengan nilai moral dan ajaran ilahi. Kebenaran menuntut dasar; kebetulan tidak selalu memerlukannya.


Perbedaan itu tampak sederhana, tetapi penting. Jika seseorang berkata, “Penemuan ini terjadi karena kebetulan,” ia sedang membicarakan proses yang tidak direncanakan. Tetapi jika ia berkata, “Penemuan ini membuktikan kebenaran teori,” ia sedang membicarakan kesesuaian antara teori dan realitas. Mengganti satu kata dengan yang lain akan membuat kalimat bukan hanya janggal, melainkan juga kehilangan makna.


Pelajaran serupa muncul pada pasangan “pembetulan” dan “pembenaran”. Sekilas, keduanya sama-sama tampak sebagai tindakan membuat sesuatu menjadi betul atau benar. Namun, pemakaian sehari-hari memperlihatkan perbedaan yang cukup tajam. Pembetulan umumnya berarti koreksi terhadap kesalahan. Editor melakukan pembetulan pada naskah yang salah ketik. Auditor meminta pembetulan pada laporan keuangan yang keliru. Guru membetulkan jawaban murid yang salah hitung.


Pembenaran, di sisi lain, dapat mengandung dua makna. Pertama, pembenaran dapat berarti tindakan menyatakan sesuatu benar. Kedua, dan ini yang sering muncul dalam bahasa politik maupun moral, pembenaran berarti upaya memberi alasan agar sesuatu yang sesungguhnya salah tampak dapat diterima. Korupsi, kekerasan, manipulasi data, atau penipuan sering tidak dibela secara terang-terangan; ia dicari-cari pembenarannya.


Di sinilah bahasa menunjukkan wataknya yang tidak netral sepenuhnya. Kata “pembetulan” mengandaikan adanya kesalahan yang hendak diperbaiki. Kata “pembenaran” kadang justru mengandaikan adanya kesalahan yang hendak dilindungi dengan alasan. Seorang pejabat dapat melakukan pembetulan atas data yang keliru. Namun, ia bisa melakukan pembenaran apabila berusaha menjelaskan mengapa kekeliruan itu seolah layak dimaklumi.


Perubahan makna akibat imbuhan bukan perkara remeh bagi para penyunting atau guru bahasa saja. Ia berkaitan dengan cara masyarakat berpikir. Bahasa yang cermat membantu kita membedakan antara fakta dan peristiwa acak, antara koreksi dan pembelaan, antara kesalahan yang diperbaiki dan kesalahan yang dipoles agar tampak wajar.


Karena itu, kebetulan tidak sama dengan kebenaran. Yang satu dapat datang tanpa rencana, yang lain harus dicari, diuji, dan dipertanggungjawabkan. Dalam kehidupan publik yang kerap dipenuhi alasan, dalih, dan permainan kata, membedakan keduanya menjadi lebih dari sekadar pelajaran imbuhan. Ia menjadi latihan kecil untuk tidak mudah tertipu oleh bahasa.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (300) kepegawaian (180) serba-serbi (148) oase (104) hukum (101) saat kuliah (71) pustaka (70) tentang ngawi (65) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)