Memilih Benteng Pendhem sebagai lokasi acara bukan sekadar mencari tempat makan yang nikmat, melainkan tentang meresapi makna ketangguhan. Benteng yang dibangun pada abad ke-19 ini memiliki keunikan arsitektur yang jarang ditemui. Nama pendhem (terpendam) disematkan karena benteng ini sengaja dibangun lebih rendah dari tanah sekitarnya, dikelilingi oleh tanggul tinggi yang membuatnya seolah bersembunyi dari pandangan luar.
Di Benteng Cafe, yang menempati salah satu sudut bangunan bersejarah ini, kesan kaku dan dingin khas peninggalan kolonial seketika mencair. Cahaya mentari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela kayu besar yang masih kokoh, menyentuh lengkungan bata merah yang ikonik. Tekstur bata yang sengaja diekspos memberikan sentuhan estetik sekaligus dramatis pada pertemuan pagi itu, menciptakan suasana yang intim namun tetap megah. Di sinilah sejarah masa lalu bersanding harmoni dengan tawa masa kini.
Di dalam ruangan dengan langit-langit tinggi tersebut, sebuah meja kayu panjang menjadi pusat gravitasi. Di sinilah ruh sesungguhnya dari acara bertajuk “Happy Anniversary 21th CP 04 ASN 05” berada. Pada wajah-wajah yang penuh binar kebahagiaan. Tak ada lagi sekat pangkat atau kaku formalitas kantor. Yang tersisa hanyalah obrolan hangat dan kenangan-kenangan lama yang diputar kembali melalui memori kolektif mereka.
Jika kita melihat lebih dekat pada interaksi di meja tersebut, ada sebuah harmoni yang unik. Keakraban ibu-ibu, candaan bapak-bapak, dan simbol rasa syukur. Para ibu tampak anggun dengan hijab berwarna senada, saling bertukar cerita dengan antusias sembari sesekali menyiapkan gawai untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka.
Di sisi lain meja, para bapak dengan gaya yang lebih santai terlihat menikmati kopi atau teh panas sembari melontarkan candaan ringan yang memecah tawa di seluruh penjuru kafe. Kehadiran nasi tumpeng yang sederhana di tengah meja menjadi puncak dari ritual syukuran. Potongan tumpeng pertama bukan sekadar soal rasa, melainkan simbol fisik dari rasa syukur atas dua puluh satu tahun pengabdian yang telah dilewati bersama.
Ada momen singkat yang sangat manusiawi ketika tawa mereda sejenak. Semua terdiam, menundukkan kepala untuk berdoa bersama. Dalam keheningan di balik dinding bata tebal itu, doa-doa dipanjatkan untuk kesehatan, keberkahan, dan persaudaraan yang terus berlanjut hingga masa purna tugas nanti.
Setelah puas bercengkerama di dalam kafe, rombongan pun bergeser ke area luar ruangan yang sangat fotogenik. Bangunan utama yang dicat putih bersih dengan deretan pilar besar memberikan kontras yang luar biasa dengan area interior bata merah tadi. Struktur bangunan yang simetris dan jendela-jendela kayu cokelat yang tertata rapi menjadi latar belakang yang sempurna untuk foto keluarga besar.
Di sana, di depan fasad megah Benteng Van Den Bosch, mereka berdiri berjejer dengan rapi. Sebagian menunjukkan gestur jempol sebagai tanda semangat, sebagian lagi tersenyum lebar menatap masa depan. Melihat pose di depan struktur yang telah berdiri ratusan tahun, kita diingatkan bahwa meskipun bangunan fisik bisa bertahan lama, hubungan antar manusia yang tuluslah yang memberi nyawa pada sebuah tempat. Para abdi negara itu tidak hanya mengunjungi situs bersejarah, namun sedang menuliskan sejarah kecil mereka sendiri di dalam bangunan besar Benteng Pendhem.
Merayakan Anniversary 21th bagi CP 04 ASN 05 bukan hanya soal menghitung hari atau tahun yang telah berlalu. Angka ini menjadi bukti nyata dari loyalitas kepada negara dan keteguhan dalam menjaga ikatan persahabatan yang melampaui urusan birokrasi. Dua dasawarsa lebih adalah waktu yang cukup untuk saling mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing, menjadikannya sebuah keluarga kedua nan solid.
Di era digital di mana interaksi sering kali hanya berupa teks di layar ponsel, pertemuan fisik di Ngawi ini menjadi sangat berharga. Kehangatan tatap muka, suara tawa yang bergema di bawah langit-langit kayu benteng, dan momen makan bersama adalah kemewahan yang tak tergantikan oleh teknologi apa pun. Benteng Pendhem, dengan segala kerahasiaan dan kekokohannya, menjadi tempat yang tepat untuk merajut persahabatan ini akan tetap sekuat dinding-dinding bata yang mengelilingi mereka.
Pagi itu, ketika mentari mulai naik dan bayangan pilar benteng mulai memendek, acara pun berakhir. Namun, keluarga besar CP 04 ASN 05 tidak hanya membawa pulang foto-foto estetik untuk dibagikan di grup WhatsApp atau media sosial. Mereka membawa pulang semangat baru untuk kembali bekerja, rasa memiliki yang lebih dalam, dan keyakinan bahwa perjalanan tahun-tahun berikutnya akan tetap menyenangkan selama mereka masih bisa duduk di bangku yang sama.
Benteng Pendhem Ngawi telah sukses menjadi tuan rumah bagi kenangan indah ini. Di balik dindingnya yang tebal, bukan lagi derap langkah serdadu masa lalu yang terdengar, melainkan gema tawa dan doa dari sekelompok abdi negara yang merayakan indahnya pertemanan, pertemuan, dan kebersamaan.






0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya