Air Mata Venezuela

Senin, 05 Januari 2026

Berbicara tentang Venezuela sering kali memancing memori yang kontradiktif di kepala kita. Bagi generasi yang tumbuh di era 90-an, Venezuela ibarat “rumah” bagi perempuan-perempuan cantik di dunia dengan gaun pesta yang megah dan drama percintaan yang menguras air mata. Namun, bagi mereka yang rajin menyimak berita internasional hari ini, Venezuela sering kali digambarkan sebagai negeri yang sedang terkoyak, penuh ketegangan politik, dan didera krisis kemanusiaan yang pelik. Memahami Venezuela seperti menonton sebuah plot cerita yang penuh kejutan, kadang manis, namun lebih sering berakhir tragis.


Salah satu pintu masuk paling akrab bagi masyarakat Indonesia untuk mengenal negara Amerika Selatan ini tentu saja melalui fenomena Kassandra. Siapa yang bisa melupakan sosok gadis gipsi dengan bandana khas dan mata indahnya yang menghiasi layar kaca kita puluhan tahun silam? Telenovela ini bukan sekadar tontonan. Ia seolah menjadi duta budaya yang memperkenalkan Venezuela sebagai negeri romantis. Kassandra mencatatkan sejarah sebagai salah satu acara TV yang paling banyak ditonton secara global. Kepopulerannya bahkan sempat dikabarkan mampu menghentikan sementara konflik bersenjata di Bosnia karena semua orang ingin menonton kelanjutan nasib sang tokoh utama.


Namun, romansa ala Kassandra kini terasa seperti mimpi lama yang kabur. Realitas Venezuela saat ini jauh lebih keras daripada naskah drama mana pun. Jika di layar kaca kita melihat konflik perebutan harta warisan, di dunia nyata kita melihat perebutan kekuasaan yang melibatkan negara adidaya. Bayangkan betapa mencekamnya ketika sebuah negara berada dalam bidikan Amerika Serikat. Hubungan panas antara Caracas dan Washington mencapai puncaknya saat pemerintahan Donald Trump secara terang-terangan meluncurkan upaya untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.


Klaim-klaim provokatif sering bermunculan, termasuk tuduhan keterlibatan dalam perdagangan narkotika yang berujung pada pengumuman hadiah jutaan dolar bagi siapa saja yang bisa membantu menangkap Maduro. Ketegangan ini menciptakan suasana “ngeri-ngeri sedap” di mana rakyat sipil terjepit di antara sanksi ekonomi yang mencekik dan ambisi politik para pemimpinnya. Venezuela yang dulu kaya akan minyak, kini harus berjuang keras sekadar untuk mengisi piring makan rakyatnya.


Di tengah himpitan ekonomi dan ketidakpastian politik yang ekstrem, manusia sering kali mencari pelarian ke hal-hal yang bersifat transendental atau mistis. Inilah yang membawa kita pada sisi gelap dan misterius dari kebudayaan Venezuela. Di sebuah gunung terpencil bernama Sorte, terdapat sebuah praktik spiritual yang mungkin membuat bulu kuduk kita meremang, yaitu Kultus Maria Lionza.


Kultus tersebut menjadi percampuran unik antara tradisi pribumi, kepercayaan Afrika, dan Katolik. Namun, yang menjadikannya sorotan dunia (sebagaimana diulas oleh National Geographic) adalah ritual melukai diri sendiri yang dilakukan oleh para pengikutnya. Dalam keadaan trans atau kerasukan roh, para pemuja ini melakukan aksi ekstrem seperti menyayat kulit atau menusukkan benda tajam tanpa terlihat merasakan sakit. Bagi mereka, hal tersebut bentuk pembersihan diri dan cara untuk mendapatkan kekuatan spiritual di tengah dunia yang makin kacau. Fenomena yang seolah menjadi metafora bagi kondisi rakyat Venezuela secara umum: mereka terluka, mereka berdarah, namun mereka terus bertahan dengan cara-cara yang kadang sulit dinalar oleh logika luar.


Keberadaan kultus tersebut menunjukkan betapa putusnya asa dan dalamnya luka batin kolektif sebuah bangsa. Ketika hukum negara dianggap gagal memberikan keadilan dan ekonomi tak lagi menawarkan harapan, maka ritual mistis menjadi tempat bersandar. Mereka melukai fisik untuk menyembuhkan jiwa yang barangkali sudah terlalu lama menderita akibat krisis yang tak kunjung menemui titik terang.


Melihat Venezuela dari tiga kacamata ini, gemerlap telenovela, kerasnya intervensi politik luar negeri, dan mistisisme ritual yang menyakitkan, memberi kita gambaran yang utuh tentang sebuah bangsa yang sedang berjuang mencari identitasnya kembali. Venezuela bukan sekadar negara dengan cadangan minyak terbesar, bukan pula sekadar pabrik “Miss Universe”. Ia sebuah entitas yang sedang mengalami ujian sejarah yang sangat berat.


Kita mungkin masih merindukan masa-masa ketika satu-satunya masalah yang kita tahu dari Venezuela hanyalah apakah Kassandra akan bersatu kembali dengan Luis David. Namun, hari ini kita diajak untuk lebih peduli. Di balik berita-berita tentang Donald Trump yang menangkap Maduro, atau laporan tentang ritual berdarah di Gunung Sorte, ada jutaan manusia yang hanya ingin hidup tenang tanpa dihantui inflasi yang meroket atau ancaman kekerasan.


Pada akhirnya, Venezuela adalah pengingat bagi kita semua bahwa kejayaan sebuah negara bisa sangat rapuh. Kekayaan alam yang melimpah tidak menjamin kesejahteraan jika tidak dibarengi dengan stabilitas politik dan kearifan kepemimpinan. Sambil berharap agar badai politik di sana segera berlalu, kita bisa belajar untuk lebih menghargai kedamaian. Dan mungkin, sesekali, kita boleh memutar kembali lagu tema telenovela lama itu, sekadar untuk mengingat bahwa Venezuela pernah memberi kita senyum, sebelum mereka tenggelam dalam air mata yang nyata.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (174) kepegawaian (173) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (68) hukum (64) pustaka (62) keluarga (59) tentang ngawi (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)