Siklus Tahun Baru

Jumat, 02 Januari 2026

Setiap kali jarum jam mendekati angka dua belas pada malam 31 Desember, atmosfer global mendadak berubah. Ada ketegangan kolektif yang memuncak dalam hitungan mundur, diikuti ledakan kegembiraan sebagian orang yang meluap. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa mereka begitu terobsesi dengan transisi waktu ini? Mengapa harus menghitung mundur, menyapu rumah, atau bahkan mengaitkan pergantian kalender dengan nasib baik?


Jika kita membedah sejarah melalui lensa antropologi dan sains, perayaan Tahun Baru ternyata bukan sekadar pesta pora. Ia percampuran antara penghormatan terhadap alam, ritual pembersihan jiwa, hingga warisan kelam dari era pengembangan senjata nuklir.


Jauh sebelum kembang api ditemukan, peradaban Mesir Kuno sudah memiliki konsepsi yang sangat sakral tentang tahun baru. Melansir National Geographic, bagi orang Mesir Kuno, tahun baru yang disebut Wepet Renpet (Pembuka Tahun) tidak terjadi di tengah musim dingin seperti Januari kita saat ini. Tahun baru mereka ditentukan oleh fenomena alam: banjir tahunan Sungai Nil.


Peristiwa ini bertepatan dengan kemunculan kembali bintang Sirius setelah menghilang selama 70 hari. Bagi mereka, hal tersebut bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momen “kelahiran kembali”. Rakyat Mesir merayakannya dengan festival besar yang melibatkan musik dan tarian dalam Festival Mabuk.


Analisis tajamnya adalah bahwa perayaan tersebut merupakan mekanisme pertahanan psikologis. Banjir Sungai Nil bisa berarti berkah bagi pertanian, namun juga bisa berarti bencana jika debit air terlalu tinggi. Dengan berpesta, mereka mencoba merayu para dewa agar siklus alam tetap berpihak pada manusia. Intinya, tahun baru sebagai bentuk negosiasi antara manusia dengan ketidakpastian alam.


Bergeser ke Timur, Jepang menawarkan perspektif yang lebih meditatif namun tetap disiplin. Tradisi menyambut tahun baru di Negeri Sakura sangat kental dengan simbolisme pembersihan. Mengutip National Geographic, salah satu tradisi paling krusial adalah osoji atau ritual pembersihan besar-besaran. Masyarakat Jepang tidak sekadar menyapu lantai. Mereka menyapu jelaga (susu-harai) untuk mengusir roh jahat tahun lalu dan menyambut Toshigami, dewa tahun baru yang dipercaya membawa keberuntungan. Selain itu, ada tradisi menumbuk mochi (mochitsuki) yang melambangkan kebersamaan dan ketahanan.


Secara sosiologis, tradisi Jepang ini menunjukkan bahwa tahun baru adalah momen katarsis. Manusia membutuhkan titik henti untuk membuang beban masa lalu, baik secara fisik (debu dan kotoran) maupun mental. Dengan rumah yang bersih dan perut yang terisi mochi, mereka menciptakan ruang kosong untuk harapan baru. Hal tersebut sebagai bentuk kontrol diri di tengah dunia yang kacau.


Mungkin bagian paling mengejutkan dari anatomi tahun baru modern adalah tradisi hitung mundur (countdown). Kita sering menganggapnya sebagai hal yang lumrah, namun sejarahnya ternyata cukup kelam. Berdasarkan laporan National Geographic, tradisi hitung mundur yang banyak orang lakukan setiap malam pergantian tahun tidak lahir dari keceriaan, melainkan dari protokol militer dan sains, khususnya uji coba bom atom.


Sebelum menjadi budaya populer, hitung mundur digunakan oleh para ilmuwan di Los Alamos saat mempersiapkan peledakan nuklir dalam proyek Manhattan. Hitungan mundur diperlukan untuk sinkronisasi presisi tinggi dalam momen yang menentukan hidup dan mati. Tradisi ini kemudian merembes ke budaya populer melalui siaran televisi dan peluncuran roket ruang angkasa, hingga akhirnya diadopsi secara global sebagai puncak perayaan tahun baru.


Ada ironi yang mendalam. Ritual yang awalnya diciptakan untuk menandai peledakan senjata pemusnah massal, kini digunakan oleh jutaan orang untuk merayakan kelanjutan kehidupan. Ini membuktikan bahwa manusia sangat mahir dalam merebut simbol ketakutan dan mengubahnya menjadi simbol harapan.


Jika kita sintesiskan ketiga referensi di atas (banjir Nil di Mesir, sapu jelaga di Jepang, dan hitung mundur bom atom), muncul sebuah pola besar, yaitu manusia membutuhkan struktur dalam waktu yang tidak berujung. Manusia butuh pembuka tahun seperti orang Mesir, untuk merasa bahwa hidup memiliki awal yang baru, bukan sekadar garis lurus yang membosankan menuju kematian. Manusia melakukan osoji, karena merasa tidak berdaya melawan kekacauan dunia, sehingga mengompensasinya dengan membersihkan lingkungan terdekat. Manusia melakukan hitung mundur untuk menciptakan rasa kebersamaan. 


Dalam sepuluh detik terakhir sebelum tengah malam, seluruh dunia merasa berada dalam satu frekuensi yang sama, sebuah ilusi persatuan yang sangat dibutuhkan oleh spesies sosial seperti manusia. Tahun Baru, dengan demikian, menjadi sebuah konstruksi budaya. Ia mencampurkan ketakutan akan masa depan (seperti uji bom atom) dengan harapan akan keberuntungan (seperti kunjungan dewa Toshigami).


Perayaan Tahun Baru harusnya bukan sekadar hura-hura tanpa makna. Ia akumulasi dari ribuan tahun evolusi budaya. Dari para pendeta Mesir yang menatap bintang Sirius hingga anak muda zaman sekarang yang menatap layar ponsel saat hitung mundur. Motivasinya tetap sama: mencari kepastian di tengah ketidakpastian.


Sejarah mengajarkan bahwa Tahun Baru merupakan alat manusia untuk “menyetel ulang” (reset) jiwanya. Apakah itu dengan menyibukkan diri secara ritual, menyapu debu di sudut rumah, atau menghitung mundur detik-detik terakhir, manusia sedang melakukan hal yang sama: merayakan kemenangan karena telah berhasil melewati satu tahun lagi dan menyatakan kesiapan untuk menghadapi misteri di tahun berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (173) coretan (170) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (68) hukum (63) pustaka (62) keluarga (59) tentang ngawi (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)