Menolak Takdir Kota Sampah

Sabtu, 17 Januari 2026

Bayangkan sebuah kota di mana bau busuk bukan lagi gangguan, melainkan identitas yang melekat pada setiap embusan napas warganya. Pemandangan tumpukan plastik yang menggunung di sudut jalan bukan lagi sebuah anomali yang memicu amarah, melainkan dianggap sebagai dekorasi kota yang lazim. Jika kita tidak segera berbenah secara radikal, tahun ini akan dicatat dalam buku sejarah bukan sebagai era keemasan kemajuan digital, melainkan tahun di mana kota-kota di Indonesia resmi “menyerah” dan tertimbun oleh limbahnya sendiri.


Laporan tajuk rencana Kompas memberikan peringatan yang sangat keras bagi kita semua: timbunan sampah nasional diperkirakan telah menembus angka mengerikan, yakni 140.000 ton setiap harinya. Namun, ironi yang menyesakkan dada adalah kemampuan pengelolaan kita baru mampu menyentuh angka 15 persen saja. Ini berarti terdapat lubang besar dalam sistem kita. Sekitar 85 persen sisanya, atau setara dengan 119.000 ton sampah per hari, kini menjadi “bom waktu” ekologis yang berceceran di aliran sungai, mengapung di lautan, dan menumpuk di lahan-lahan kosong di sekitar pemukiman kita. Kita benar-benar sedang berjalan di atas titian rapuh menuju kebangkrutan lingkungan.


Sejarah sebenarnya telah memberikan kita peringatan keras sejak berabad-abad lalu. Jika hari ini kita mengeluh tentang sungai-sungai di Jakarta yang hitam dan berbau menyengat, kita harus ingat bahwa Batavia pada abad ke-17 adalah cermin masa depan yang suram jika kita terus abai. Catatan dari Historia mengungkap bahwa Batavia pernah dijuluki sebagai “kota polusi”. Jika saat ini musuh kita adalah plastik, maka bentuk utama polusi di Batavia kala itu adalah feses.


Dahulu, warga Batavia menampung kotoran manusia dalam guci-guci dan membuangnya langsung ke kanal-kanal kota. Saat musim kemarau tiba dan debit air mengecil hingga mampat, bau busuk kotoran tersebut menyengat hingga berhari-hari. Akibatnya fatal. Penyakit misterius melanda dan menewaskan hampir 85.000 orang pada pertengahan abad ke-18. Begitu parahnya tingkat polusi air saat itu, hingga Gubernur Jenderal Van Imhoff terpaksa mengeluarkan larangan resmi bagi warga untuk mandi di kali. Padahal, mandi di kali adalah kebiasaan yang awalnya dianggap aneh oleh orang Belanda, namun akhirnya mereka adopsi karena kegerahan menghadapi cuaca tropis.


Kini, kita menghadapi tantangan yang jauh lebih gigih. Jika dulu musuhnya berupa limbah biologis yang bisa terurai, hari ini musuh kita berwujud plastik. Berbeda dengan kotoran manusia, plastik ibarat “keabadian yang terkutuk”. Ia tidak bisa hancur. Ia hanya mengecil menjadi partikel mikroskopis yang disebut mikroplastik, yang kini bahkan telah ditemukan dalam air hujan yang membasahi Jakarta. Kita sedang mewarisi kegagalan sanitasi Batavia, namun dalam skala yang jauh lebih masif, beracun, dan sulit dihilangkan.


Secara hukum, Indonesia sebenarnya sudah memiliki instrumen untuk mencegah bencana ini, yaitu UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Namun, masalah sampah di negeri ini bukan sekadar masalah teknologi, melainkan masalah kemauan politik (political will). Di saat pemerintah pusat dan daerah sering kali bersembunyi di balik istilah-istilah teknokratis yang membingungkan masyarakat, kita melihat ketimpangan nyata dalam penegakan aturan.


Penilaian transparan terhadap pengelolaan lingkungan di tiap wilayah memang langkah awal yang baik, namun itu saja tidak cukup. Penegakan hukum terhadap industri penghasil plastik sekali pakai harus dilakukan dengan lebih galak. Selama produsen tidak dipaksa bertanggung jawab atas siklus hidup produknya, maka timbunan sampah akan terus menggunung. Tanpa adanya kebijakan radikal, target besar seperti “Indonesia Bersih Sampah” hanya akan berakhir menjadi jargon manis yang terkubur di bawah tumpukan sampah yang membusuk.


Di tengah kepungan limbah yang seolah tanpa jalan keluar, muncul secercah harapan dari tempat yang tak terduga. Di Nusa Tenggara Timur, SDN Papela di Rote Ndao membuktikan bahwa keterbatasan infrastruktur bukan alasan untuk menyerah pada sampah. Mereka menunjukkan cara beradab dengan mengubah limbah menjadi alat belajar yang kreatif, bahkan berhasil memenangkan hadiah sebesar Rp650 juta dari kompetisi tingkat Asia-Pasifik. Keberhasilan sekolah kecil di NTT ini adalah tamparan keras bagi pemerintah daerah di kota-kota besar yang memiliki anggaran triliunan, namun selalu menggunakan dalih kekurangan dana sebagai alasan untuk gagal mengelola sampah.


Kreativitas ini juga diikuti oleh inovasi tingkat tinggi di dunia sains. Indriana Kartini dan tim ilmuwan dari Universitas Gadjah Mada telah membuktikan bahwa sampah plastik tidak harus berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Melalui metode canggih pirolisis-hidrotermal, mereka berhasil mengubah kantong plastik bekas menjadi Carbon Quantum Dots (CQD). Ini adalah nanomaterial bercahaya yang memiliki fungsi vital sebagai sensor pendeteksi logam berat di air. Ini adalah bentuk alkimia modern: sebuah upaya intelektual untuk mengubah sampah yang mematikan menjadi alat yang mampu menyelamatkan nyawa manusia.


Namun, kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan aksi heroik dari segelintir ilmuwan atau inisiatif sekolah di NTT untuk membereskan kekacauan yang kita ciptakan bersama secara kolektif. Data menunjukkan bahwa sampah sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar (39,62%), diikuti oleh plastik (19,15%). Angka-angka ini adalah potret telanjang dari gaya hidup konsumtif kita yang sangat tidak bertanggung jawab.


Tahun ini harus menjadi titik balik bagi peradaban kita. Kita dihadapkan pada dua pilihan yang sangat kontras: terus menimbun kota dengan limbah hingga kita benar-benar tenggelam di dalamnya, atau mulai mengubah paradigma dengan melihat sampah sebagai sumber daya yang berharga. Jangan sampai anak cucu kita di masa depan harus membaca sejarah yang memilukan; bahwa generasi kita adalah generasi yang gagal menyelamatkan bumi hanya karena kita terlalu malas untuk memilah apa yang kita makan dan apa yang kita pakai.


Cukup sudah kita mewarisi bau busuk dan sanitasi buruk peninggalan era kolonial di Batavia. Sekaranglah saatnya kita mewariskan nilai-nilai baru: teknologi kuantum dari plastik bekas dan kecerdasan ekologis seperti yang ditunjukkan anak-anak di Rote Ndao. Sampah adalah cermin peradaban sebuah bangsa; mari kita bergerak bersama untuk memastikan cermin itu tidak retak dan hancur berkeping-keping.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (178) kepegawaian (173) serba-serbi (86) saat kuliah (71) hukum (69) oase (68) pustaka (63) tentang ngawi (60) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)