Skoring Manual?

Selasa, 28 Desember 2010

Awalnya sudah ada rasa sangsi terhadap kinerja ITB, PTN yang digandeng pemkab dalam perhelatan tes CPNS tahun ini. Beberapa kejadian membuat publik bertanya-tanya tentang kinerja salah satu perguruan tinggi negeri terbesar negeri ini. Apalagi pelaksanaan tes CPNS selalu menjadi sorotan masyarakat. Akibatnya mau tak mau nama besar ITB pun menjadi ternoda. Setelah kisruh pelaksanaan tes, ternyata kisruh kembali terjadi. Kali ini pada pengumuman yang ternyata molor dari rencana.

Namun demikian saat pengumuman sepertinya segalanya lancar-lancar saja. Meskipun molor, di Ngawi pengumuman bisa ditampilkan lewat situs BKD siang hari itu. Tak lupa skor pun juga terpampang. Esoknya tak mau ketinggalan, Radar Madiun pun juga menampilkan. Alhamdulillah tidak ada gejolak, hingga akhirnya ada sebuah SMS masuk.

SMS dari teman yang menanyakan keanehan temannya yang tidak lulus. Nomor temannya yang tidak lulus itu ternyata berbeda dengan 2 orang peserta yang lulus meskipun masih dalam 1 formasi yakni S1 Perikanan. Oke saya janji mencari penyebabnya. Namun beberapa hari itu libur panjang saya tidak bisa ke kantor. Saat masuk kerja hal pertama yang saya lakukan adalah menepati janji kepada teman saya tadi. Saya lihat kode formasi S1 Perikanan di pengumuman, saya sandingkan dengan kode formasi di hasil tes, ternyata memang tidak sama. Namun demikian 2 nama yang tertera di hasil tes itu ada pada buku register, sama persis nomor urutnya dengan yang di hasil tes, jadi tidak fiktif. Terus kenapa ada perbedaan nomor? Akhirnya saya baru ketemu jawabannya, setelah mengonfirmasi beberapa teman yang lebih paham permasalahan.  

Begini ceritanya. Pemkab Ngawi membuat pengumuman tentang penerimaan CPNS yang disampaikan untuk khalayak umum. Di dalam pengumuman tersebut tercantum juga kode formasi. Peserta yang memenuhi persyaratan diberikan kartu tanda peserta (KTP) melalui pos. KTP ini terdiri dari 12 digit yakni 2 digit kode daerah, 6 digit kode formasi, dan 4 digit nomor urut.

Nah di sinilah awal masalah itu timbul. Dari sekian kode formasi itu, ada 1 kode formasi yang bermasalah yakni S1 Perikanan. Antara kode di aplikasi komputer yang dibuat oleh ITB dan kode formasi di pengumuman pemkab tidak sama. Kode formasi ala ITB adalah 335239 sedangkan pemkab 335239. Padahal KTP yang dicetak dan diberikan kepada peserta adalah KTP dengan formasi ala ITB. Dari sinilah sebenarnya teman-teman sudah mulai ragu dengan kerja ITB, jauh sebelum pelaksanaan tes yang di daerah lain bermasalah (ditunda).

Akhirnya panitia membuat solusi dengan membuatkan KTP baru pengganti KTP lama. KTP baru ini sesuai dengan pengumuman yang juga disesuaikan dengan nota persetujuan Menpan yakni 335239. Penggantian dilaksanakan pada hari H pelaksanaan ujian dan hanya dilakukan bagi peserta S1 Perikanan. Hal ini pun juga sudah dikomunikasikan dengan ITB. Harapannya nanti tidak timbul masalah saat pihak ITB men-scan LJK. Namun janji tinggal janji (yang terus terulang) saat pengumuman ternyata nomor yang lulus masih menggunakan nomor yang lama.

Kasus ini membuat naluri keingintahuan saya timbul untuk mencari barangkali ada kasus lain. Iseng-iseng saya hitung jumlah karakter nama-nama yang lulus sesuai dengan hasil tes. Masyarakat pun bisa melihat karena sudah ada di internet dan koran. Beberapa nama ternyata namanya melebihi 20 karakter. Terus apa anehnya, toh itu hanyalah nama yang bahkan nomornya juga sesuai. Kalau jeli, di sinilah letak permasalahan itu. Dalam LJK karakter untuk nama maksimal 20, tidak bisa lebih, sehingga tidak mungkin peserta (yang lulus) itu menuliskan lebih dari 20 karakter namanya. Tapi kenapa dalam pengumuman hasil tes namanya bisa melebihi 20 karakter?

Beranjak dari 2 temuan di atas, saya menduga skoring LJK oleh ITB dilakukan secara manual, tidak menggunakan komputer. Kalau memang menggunakan komputer harusnya tidak ada perbedaan nomor dan nama antara LJK dan hasil tes. Kenapa ITB yang namanya saja ada embel-embel ”teknologi” malah tidak menggunakan teknologi. Inilah yang barangkali, menurut saya, salah satu penyebab molornya pengumuman hasil tes. Kira-kira ada penjelasan nggak dari ITB?

Dugaan saya mungkin tidak keliru. Berita Radar Madiun pun mengiyakan. ”Teka-teki molornya pengumuman hasil tes CPNS Magetan terjawab. Keterlambatan itu ternyata terkait persoalan teknis saat proses skoring. Yakni, adanya kerusakan sistem komputerisasi. Sehingga, tahapan itu terpaksa dilakukan secara manual. Itu diketahui dari surat yang dikirim tim ITB”. (Radar Madiun 23/12/2010: Skoring Manual, Pengumuman CPNS Molor).

Ah kalau seleksi CPNS seperti ini kenapa jauh-jauh menggunakan PTN di Bandung. Gunakan saja PTN terdekat. Kalau boleh urun rembug, kalau memang ingin cari PTN yang jauh ya jangan yang nanggung, ajak saja Universitas Syiah Kuala di Aceh atau Universitas Cendrawasih di Jayapura sana.  
   

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)