Sepakbola Primadona

Senin, 22 Agustus 2011

Tampaknya saat ini sepakbola kembali naik daun. Meski sudah lama timnas (tim nasional) tidak memperoleh prestasi (maksudnya tidak pernah menjadi juara sebuah kejuaraan, terakhir meraih emas Sea Games tahun 1991) namun tampaknya publik negeri masih menyisakan asa. Apa indikasinya? Salah satunya saat perhelatan Piala AFF akhir tahun lalu. Berbondong-bondong orang mendatangi Stadion Gelora Bung Karno, menanggalkan baju kedaerahan, bahasa, suku, agama. Ribuan orang berjejal untuk sekedar mendapatkan tiket. Ribuan lain tak tertampung di dalam stadion karena kapasitas duduknya sudah terpenuhi. Tak ketinggalan jutaan manusia menyaksikan di layar kaca. Sayang memang perjuangan heroik timnas sejak babak penyisihan hingga final belum mengantarkan tropi juara.

Sejak saat itu sepakbola kembali menjadi primadona (setidaknya bagi saya). Para pemain layaknya selebritis yang diburu para kuli tinta dan penggemar. Nama Ahmad Bustomi, M. Nasuha, Hamka Hamzah, Oktovianus, dan lain-lain menjadi terkenal. Irfan Bachdim dan Firman Utina menjadi bintang iklan. Bahkan Cristian Gonzales, sang striker yang berjulukan El Loco (Si Gila) diajak main sebuah sinetron. Ia juga pernah diundang di beberapa acara talk show stasiun televisi.

Masyarakat bangga memakai kaos timnas, terutama yang berwarna merah. Anak-anak kecil bermain bola dengan menyebut dirinya sebagai para pemain timnas. Sebenarnya potensi kita luar biasa di dunia bola. Masyarakat sungguh tergila-gila dengan permainan 90 menit ini. Namun sayang seringkali pengurus terlibat konflik, pemain terlibat perkelahian, suporter terlibat tawuran.

Saya sendiri terus terang saat inilah kembali seperti masa-masa kecil dulu, suka dengan sepakbola. Selain senang bermain bola, saat kecil saya juga senang menonton pertandingan bola. Kalau di televisi saat itu hanya melalui TVRI, satu-satunya stasiun yang bisa ditonton. Kalau yang langsung, saya menonton saat ada kompetisi antar klub se-Madiun dan sekitarnya. Lapangannya ditutup gedheg (pagar dari bambu). Penonton menonton di pinggir lapangan.

Tapi setelah berkali-kali timnas gagal menjadi juara saya jadi malas menonton pertandingan bola. Namun setelah menyaksikan timnas bertanding di piala AFF lalu itu, saya kok menjadi tertarik. Jujur, meski saya menilai penampilan mereka masih kalah jauh dengan tim-tim Eropa atau Amerika, saya bisa menikmati permainan Firmas cs. Ada kelegaan saat timnas berhasil menjebol gawang dan ada kekhawatiran saat timnas terjebol gawangnya.

Kenapa? Saya rasa masyarakat sama dengan saya. Kita membutuhkan hiburan. Berhari-hari kita disuguhi tontonan para politikus yang saling mencerca. Berhari-hari pula kita melihat berita tentang korupsi, mafia hukum, mafia pajak, mafia anggaran, dan lain-lain. Maka ketika timnas mulai dipolitisasi banyak orang yang kecewa. Bukan berkonsentrasi menghadapi pertandingan, malah timnas diajak sowan ke tokoh politik (tak ada relevansinya dengan pertandingan apalagi kejuaraan belum selesai). Akhirnya kalah kan!

Saat Piala AFF itu sedang ramai-ramainya kasus Gayus Tambunan. Dan saat timnas melakoni laga pra kualifikasi Piala Dunia, sedang ramai-ramainya kasus Nazarudin. Jenuh, sungguh masyarakat sungguh jenuh. Saya rasa kemenangan timnas atas Turkmenistan bagaikan memberi kesegaran.

Pasca lebaran timnas akan bertandang ke Iran, berikutnya lawan yang akan dihadapi adalah Qatar dan Bahrain. Mereka negara Timur Tengah, amat jauh dan mahal bagi suporter untuk menyaksikan langsung ke sana. Tapi saat laga di Indonesia, saya sangat yakin penonton pasti membeludak.

Minggu lalu timnas melakukan pertandingan persahabatan, sesama timnas, yakni timnas senior yang diproyeksikan untuk PPD dan timnas U23 yang diproyeksikan untuk Sea Games. Pertandingan di Solo itu ditonton banyak pasang mata. Kursi-kursi penuh. Nanti malam timnas akan melakoni pertandingan persahabatan dengan Palestina, masih di tempat yang sama, Solo. Saya yakin antusias penonton akan tetap tinggi. Dan saya juga yakin, di mana pun timnas bertanding, antusias penonton masih tetap tinggi, setidaknya untuk waktu dekat ini.

Pesan saya untuk timnas, jangan sombong tetaplah rendah hati, jagalah emosi jangan terpancing provokasi lawan, banyaklah belajar baik dari kemenangan maupun kegagalan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)