Pencari Keadilan (Bagian 1)

Kamis, 18 Agustus 2011

Saat kuliah hukum dulu ada cerita menarik namun sekaligus memilukan. Benar-benar terjadi. Sebuah kisah nyata anak manusia yang ada di muka bumi Pancasila ini. Ironis. Kejam. Tak berkemanusiaan. Benar-benar binatang. Saya dan kawan-kawan hanya bisa berguman, sebagian ada yang mengumpat. Hukum dan aparatnya dibuat untuk main-main. Sang dosen yang bercerita pun berharap kami para mahasiswanya, mahasiswa Fakultas Hukum di kampus tertua negeri ini, tetap menjaga moral. Ilmu dan pengetahuan barangkali telah punya, namun moral juga amatlah penting. Dunia hukum tidaklah lempang.

Cerita di bangku kuliah tersebut adalah tentang dua orang bersaudara, Sengkon dan Karta. Berulangkali, dalam mata kuliah Hukum Pidana, cerita ini disentil. Cerita tentang kesalahan tangkap dua orang yang tak melakukan pidana. Polisi bergeming, jaksa bergeming, hakim pun bergeming. Kami, para mahasiswa saat itu berharap semoga kasus itu menjadi terakhir terjadi di Indonesia. Namun ternyata dunia ini berputar, pun dengan kisah-kisahnya, terulang lagi. Saat ini di jaman sekarang ini, di jaman reformasi. Ada kasus pembunuhan di Jombang yang menyebabkan beberapa orang menjadi tertuduh. Mereka dihukum penjara setelah sebelumnya mengalami penyiksaan hebat oleh aparat hukum agar mengakui perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Hingga akhirnya muncul si jagal Rian. Kasusnya menasional. Sama dengan kasus Sengkon dan Karta, Rian mengakui ialah sebenarnya sang pelaku pembunuhan.

Inilah cerita tentang Sengkon dan Karta, puluhan tahun silam. Sungguh benar terjadi. Dan esok, akankah terjadi lagi? Jika melihat tertangkapnya para pengacara, polisi, jaksa, dan hakim yang terlibat mafa hukum, cerita-cerita seperti ini tidak mustahil terulang lagi. Dengan kuantitas dan kualitas yang mencengangkan. Hanya saja belum terungkap. Ada pelaku aslinya yang bungkam. Ada orang-orang tak bersalah dipaksa menjalani hari-harinya di balik jeruji besi. Penuh sisksaan, hinaan, rasa malu.

Wahai aparat hukum, ingatlah dunia hanyalah sementara. Dunia ini fana. Ingatlah hari pembalasan kelak. Pengadilan akhirat tak pernah bisa dimasuki mafia hukum.

Kisah tentang Sengkon dan Karta besok saja saya unggah.
 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)