Mari Budayakan Antri

Kamis, 08 Juli 2010


Suatu hari saya berbelanja di Tiara, supermarket terbesar di kota tempat tinggal saya, Ngawi. Setelah selesai memilih barang-barang tibalah saya antri di depan kasir. Ada beberapa pembelanja yang antri juga di depan saya yang masing-masing juga membawa barang belanjaan dalam jumlah yang banyak sama seperti saya. Namun tiba-tiba saja, tanpa rasa malu dan bersalah ada ibu-ibu yang menyerobot antrian di depan saya. Duh kesalnya hati ini. Kenapa sih susah benar membudayakan antri. Bukankah kalau kita mau antri segalanya menjadi teratur, orang pun tidak ada yang merasa dikecewakan. Bukankah kita juga sama-sama punya banyak barang belanjaan. Menyerobot itu termasuk perbuatan tidak sopan. Akhirnya saya berkata kepada anak saya yang masih berumur 3,5 tahun sekaligus memberikan nasehat kepadanya, ”Nak, kalau kamu suatu saat berbelanja, antrilah”. Saya lihat ibu-ibu tadi merah padam mukanya.
Di tempat perbelanjaan lain, Indomaret, saya juga pernah mengalami hal yang sama. Di depan saya ada pria yang sedang dilayani kasir. Namun karena komputer di tempat perbelanjaan tersebut rusak, maka transaksi dilayani dengan sistem manual, sehingga lama sekali, sudah begitu sang pria tadi minta tukar uang receh, bertambah pegal deh kaki saya berdiri di belakangya. Pada saat menjelang saya menaruh barang belanjaan di depan kasir, tiba-tiba saja ada ibu-ibu yang langsung melempar bungkusan makanan minta dilayani duluan. Tampaknya ia tidak mengikuti alur antrian sehingga langsung minta dilayani. Anehnya si kasir pun mengikuti kemauan ibu tadi, tanpa memperdulikan saya yang dengan setia telah mengantri. Kecewa sekali saya dengan kasir itu, sama kecewanya terhadap ibu yang tidak mau antri itu. Untuk menumpahkan rasa kesal saya, setelah saya membayar barang belanjaan, saya minta slip pada kasir itu. Karena komputer tidak bisa digunakan akhirnya ia harus menulis satu-persatu barang belanjaan saya di secarik kertas. Rasain lu, batin saya.
Di tempat perbelanjaan Alfa saya pernah menegur mbak-mbak yang menyerobot antrean saya, tapi dasar ‘wong Indonesia’ (hehehe) ditegur malah senyam-senyum saja, cuek buebex tetap menyerobot. Batin saya,”Sing waras ngalah wae lah”.
Pengalaman antri yang mengesankan saya alami ketika saya masih kuliah di Jogja. Waktu itu saya akan mengirimkan surat di Kantor Pos Bulaksumur. Di depan saya ada beberapa orang yang antri. Pas tiba giliran saya, tiba-tiba saja ada bapak-bapak yang baru tiba langsung menyerobot ke depan. Namun untunglah kasir yang melayani berkata,”Maaf Pak, mas ini yang lebih duluan antri, silakan Bapak kembali di belakang”. Mak nyes girang sekali hati ini, saya lihat bapak tadi terlihat malu kembali ke belakang saya.
Seharusnya petugas di pusat perbelanjaan harus mempunyai sikap tegas dalam hal antri. Orang yang terlihat menyerobot harus segera diingatkan untuk kembali ke barisan antri. Jangan dilayani kalau ia tetap tidak mau antri. Dahulukan orang-orang yang dengan setia telah mengantri. Jangan karena sudah kenal maka dibiarkan saja. Kemudian perlu juga diberi pembatas, misalnya tali, di depan kasir, untuk meminimalisasi orang-orang yang yang sukanya menyerobot antrian.
Dahulu waktu saya TK dan SD sebenarnya sudah diajarkan untuk antri. Sebelum masuk kelas, kami semua berbaris antri satu-persatu menunggu dipanggil ketua kelas. Waktu kuliah di UGM pun kami juga dibiasakan antri. Sejak terjadinya krisis moneter di negeri ini, imbasnya juga dirasakan oleh para mahasiswa, terutama yang berasal dari luar kota. Untuk membantu para mahasiswa, alumni UGM yang tergabung dalam Kagama mengadakan warung makan murah di kampus, letaknya di sebelah utara Bunderan UGM, dekat Wisma Kagama. Warungnya buka setiap hari kecuali Minggu sekitar jam 09.30 pagi. Dengan uang Rp 500 kami bisa memperoleh seporsi nasi dengan lauk pauk, plus segelas teh hangat, murah meriah bergizi. Nah untuk mendapatkan nasi itu kami harus antri yang panjangnya seringkali sampai harus keluar dari halaman. Juga tidak lupa untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada ibu-ibu pengurus Kagama setelah memperoleh nasi tersebut. Sebab jika tidak mengucapkan terima kasih, wow bisa marah beliau-beliau.
Budaya antri seharusnya dibiasakan sejak dini dan terus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita budayakan antri untuk menuju Indonesia yang lebih baik.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (171) coretan (126) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (68) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)