Curhat Kantor

Kamis, 30 Juli 2015

Saya mengibaratkan memimpin sebuah organisasi seperti mengendarai kendaraan. Dalam kendaraan paling tidak ada bodi, roda, dan pengemudi. Masalah onderdil yang lain semisal mesin, spion, rem, apalagi bahan bakar untuk sementara belum disebut, ini kan cuma permisalan. Mau dibawa kemana kendaraan tersebut, merupakan kewenangan pengemudi yang sangat vital. Namun demikian kendaraan tersebut tak ada artinya jika roda yang telah terpasang tak berfungsi dengan baik.

Maka jika dikaitkan antara organisasi dan kendaraan, pimpinan adalah pengemudi sedangkan staf adalah roda. Sekali lagi ini hanya permisalan, bukan berarti karena posisi roda di bawah, maka staf harus diperlakukan semena-mena. Apalah artinya pengemudi yang hebat jika roda tak mau bekerja dengannya. Sekaliber pengebut juara formula F1 pun, tanpa roda yang ada di kendaraannya, bisalah apa ia. Pembalap ompong, eh macan ompong. Maka, betapa indahnya bila pengemudi mampu menjaga roda kendaraannya, atau sebaliknya roda mau menjalani perintah kemudinya.

Namun, bisa jadi, boleh jadi, seringkali, kadangkala, mungkin, atau barangkali harapan tak seindah kenyataan, atau dibalik saja kenyataan tak seindah harapan. Makanya, di situ kadang saya merasa sedih hehehe....

Akhirnya, dengan membaca, menimbang, mengingat, akhirnya saya putuskan satu roda lagi dalam kendaraan, saya lepaskan. Saya lepas bukan berarti saya campakkan. Minimal masih saya taruh dalam kendaraan, karena dari sononya (sesuatu yang tak kuasa saya tolak) roda tersebut harus ada di kendaraan saya. Entahlah akan saya gunakan untuk apa roda tersebut.


Saya tak mungkin memaksakan kendaraan dikemudikan dalam kondisi roda bermasalah. Saya hentikan kendaraan, saya periksa, saya perbaiki, hal standar yang memang mesti dilakukan.  Berulang saya lakukan hal itu. Namun, roda yang satu itu masih saja tak mau bergerak dan beranjak. Kalaupun bergerak, hanya sedikit. Sedangkan roda-roda yang lain mulai berpacu dengan kencang. Yah sudahlah, saya mulai berpikir, memang ia yang tak mau bergerak. Saya harus berpikir dan bersikap adil, agar kendaraan tetap bisa berjalan. Kasihan roda yang lain, yang terus saja bergerak. Terpaksa saya lepas. Hanya satu.

Namun jangan dibayangkan kendaraan itu seperti motor atau mobil yang harus beroda dua atau empat, yang bila hilang salah satunya tak kan mungkin motor atau mobil bisa berjalan. Kendaraan tersebut begitu dinamisnya. Fleksibel. Tanpa dua maupun empat roda, ia masih mampu berjalan. Satu roda pun bisa berjalan, kayak akrobat. Malah tak jarang, sang pengemudi bersalin rupa menjadi roda pula.

Perumpamaan, sekali lagi perumpamaan. Kondisi itulah yang bagi saya begitu miripnya dengan kondisi lingkungan kantor, saat ini, dan selama ini. 


Kapan-kapan saya ingin membahas curhat tentang kantor ini lagi. 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)