Wah Kantorku Didemo

Rabu, 12 Oktober 2011

Hari ini tepat hari ulang tahun Provinsi Jawa Timur. Yang keberapa saya malas menghitungnya. Saya juga tak mau capek menghapalnya (kayak mau ikut lomba kadarkum aja). Ngawi adalah bagian dari provinsi di ujung timur Pulau Jawa ini, maka sebagai pegawai pemerintah daerah, hari ini kami melakukan upacara hari jadinya. Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan. Hanya saja tanggal dan bulannya berbarengan.

Hari ini, ya hari ini berbeda dengan hari kemarin, hari kemarin lusa, apalagi hari bertahun yang lalu. Tapi pernahkah berpikir bahwa hari-hari itu laksana roda. Ia melaju, maka tak ’kan pernah kembali apa yang dilalui. Ia pun berputar, maka ada yang di bawah ada yang di atas.

Kalau bertahun yang lalu saya ikut bagian dari demo bahkan menjadi pimpinannya, maka hari ini giliran saya didemo, ups...GR nih maksudnya kantor tempat saya bekerja didemo. Sama halnya dengan atribut yang pernah saya sandang, mereka adalah mahasiswa. Dan sama juga, yakni dari lembaga ekstra kampus, hanya beda nama dengan yang saya tekuni dulu.

Bukan bermaksud menggurui jika saya ingin memberi masukan dengan jalannya demo ini. Saya rasa setiap gerakan mahasiswa mempunyai cara dan gaya yang berbeda. Bahkan kurun yang berbeda juga turut mempengaruhi.

Dalam satu bulan terakhir ini ada demo segelintir mahasiswa yang rutin terselenggara. Labelnya ya itu-itu saja, berbendera gerakan mahasiswa nasionalis, tentunya orangnya juga orang-orang itu saja. Coba ingat-ingat masyarakat yang berada di tengah kota, pasti akan tahu. Jadwalnya selalu hari Rabu. Kumpul dan memulai aksinya di paseban alun-alun selatan depannya LP (Lembaga Permasyarakatan). Konvoi di depan ada mobil bak terbuka berisi perangkat sound system. Di belakangnya peserta demo naik motor, jumlahnya mungkin tak sampai 20. Sekitar jam 10 siang biasanya lewat di depan kantor saya yang berada di utara alun-alun. Kurang jelas kemana mereka akan menuju. Sayang saya tak pernah tahu apa yang dituntutnya, soalnya koran juga tak pernah memberitakan pada esok harinya. Tak sampai azan dhuhur mereka pun telah kembali ke tempat semula.

Paling tidak ada tiga hal yang menjadi kelemahan dalam demo-demo yang diadakan oleh para mahasiswa lingkup lokal tiap pekan itu, yakni masalah fokus, komunikasi, dan cara penyampaian.

Kelemahan utama demo adalah kurang fokus. Apa tujuannya, apa saja targetnya, siapa sasarannya harus jelas. Apa jadinya jika saban pekan berdemo dengan tujuan, target, dan sasaran yang berubah-ubah.

Demo diselenggarakan tiap pekan tapi anehnya kenapa media tidak pernah memberitakannya. Bahkan masyarakat pun tak tahu persis apa yang dituntutnya, padahal mereka (peserta demo) mengklaim mewakili suara masyarakat. Kenapa tidak membuat pers release untuk dibagikan dan dikirimkan ke berbagai media. Kenapa juga tak membuat leaflet berisi tuntutan mereka (pernyataan sikap), penjelasan siapa mereka, kenapa mereka berdemo, dan sebagainya. Dan dibagikan ke setiap orang di jalan yang mereka lalui. Orasi memang menjadi menu wajib, tapi ada menu-menu lain yang tak kalah bergizinya. Inilah masalahnya, komunikasi. Komunikasi (atau mungkin lebih tepatnya interaksi), terutama dengan jaringan media. Padahal mereka sama membutuhkan. Demo membutuhkan pemberitaan, sedangkan media membutuhkan peristiwa.

Dan terakhir tentang penyampaian. Kebetulan hari ini giliran kantor saya yang didemo, jadi saya bisa mendengar suara mereka, tapi ternyata hanya sayup-sayup. Dua tiga orang berorasi dengan tak jelas (jangan-jangan karena belum menguasai materi). Seringkali pula diselingi dengan ucapan-ucapan yang tak pantas, seperti ”...goblok, takbacok, !@#$%^&*()_+....” dan seterusnya. Orang bilang bahasa menunjukkan kepribadian lho.

Saya teringat sekitar 10 tahun silam saat menjadi bagian dari demo mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang saya ikuti mempunyai semacam pakem yang unik dan berbeda dibandingkan dengan gerakan mahasiswa lain saat berdemo. Malah kayak pengajian, hehehe... Boleh percaya boleh tidak, banyak masyarakat yang merindukan kehadirannya di jalanan karena (mungkin) lebih banyak mahasiswinya dibandingkan mahasiswanya. Cakep kan. Susah lho di jaman sekarang mengajak mahasiswa berdemo apalagi mahasiswi.

Sempat mengetuai di tingkat universitas seringkali saya mengadakan semacam kompetisi penampilan antar fakultas. Saya berikan kesempatan kepada masing-masing fakultas untuk mengisi acara demo. Menarik, karena ada yang orasi, bernasyid (bernyanyi), membacakan puisi, happening art, dan lain-lain. Ya tentunya peserta demo berjumlah lumayan bisa mencapai ratusan orang dan itu semua adalah mahasiswa.

Oke friends...semoga masukan ini bisa menjadi lecutan untuk memperbaiki yang telah terjadi. Sayang tadi tidak ada kesempatan untuk berdiskusi dengan kalian kawan-kawan. Saya tak tahu, apakah pimpinan kantor yang tak ada atau tak mau menemui atau kawan-kawan pendemo yang tak berusaha menyediakan tuntutan untuk beraudiensi dengan sasaran demo. Sayang 'kan kalau sekedar teriak-teriak di pinggir jalan, kepanasan, kecapekan. Kalian kan berstatus mahasiswa, entitas spesial yang terdidik penyambung lidah rakyat. Buatlah yang "sesuatu" banget.

Oke kawan-kawan... Saya ingin melihat demo kalian yang ciamik di hari Rabu minggu depan. Buatlah yang beda, unik, dan ada kekhasannya. Dan semoga "amunisi" kalian masih tersedia. Masalah tuntutan biarlah itu urusan pejabat di kantor, saya hanya pegawai biasa nonjob yang ingin menyaksikan penampilan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)