Siapkan Bekal Sebelum Kematian

Rabu, 25 Mei 2011

easyvector.com
Suatu hari saya merasakan sakit di badan. Kepala pusing, perut mual mau muntah, tubuh lemas tak bertenaga, dan tak nafsu makan. Akhir-akhir ini saya memang tidur larut malam, padahal esok paginya masih harus masuk kantor. Minum jahe dan kerokan dari istri memang meredakan, namun belum menghilangkan rasa sakit.

Dalam kondisi agak mendingan saya putuskan tetap ikut futsal Jumat pagi, ini olahraga rutin teman-teman sekantor. Harapan saya, dengan olahraga rasa sakit menjadi hilang. Dengan melawan dingin angin pagi, saya pacu motor menuju lapangan. Dari biasanya main hampir dua jam, saat itu saya hanya sanggup bertahan tak sampai satu jam. Saat keluar lapangan pun sakit saya tambah menjadi. Saat itulah tergambar bayangan pelawak Basuki yang meninggal saat bermain futsal. Bapaknya Basuki yang bernama Pak Wito atau biasa dipanggil Pete yang juga pelawak masih tetangga satu RT dengan saya di Madiun, juga sudah meninggal. Adik Mas Bas dari lain ibu satu kelas dengan saya di SD Sleko.

Pulang ke rumah, mampir beli obat di toko. Ada pikiran untuk ke dokter. Ah, pulang dulu deh, istirahat. Merebah, mata terpejam lagi. Bayangan tentang mati pun muncul. Dalam kondisi mata terpejam dan badan terbaring semakin jelas bayangan itu. Kepala semakin berdenyut. Ya Allah kapankah waktunya. Tergambar bayangan orang tua, istri, anak-anak yang masih kecil. Ya Allah bekal saya masih kurang. Masih banyak kekhilafan dan kealpaan dari hambaMu ini.

Dalam seminggu ini ada dua orang meninggal di kompleks perumahan saya. Tak beberapa lama kemudian ada berita meninggalnya seorang pengarang bernama Nurul F Huda dan anggota DPR bernama Yoyoh Yusroh. Saya tidak mengenal keduanya namun saya mempunyai kaitan dengannya atau paling tidak dengan orang dekat keduanya (ehm GR ya...?).

Nurul F Huda adalah alumni UGM, sama dengan saya, tapi ia dari Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya). Saat kuliah saya sudah sering mendengar kiprahnya, terutama dalam dakwah kampus dan dunia kepenulisan. Ia aktif di Forum Lingkar Pena, sebuah komunitas penulis. Saya punya buku yang dikarang oleh Mbak Nurul. Yang membuat saya tertarik dalam bukunya karena mengambil setting di UGM, sehingga saya lebih bisa merasakan auranya. Ia menikah dengan Purwanto yang kemudian memboyongnya ke Batam. Pak Purwanto ini ternyata di saat kuliah di Yogya pernah nyantri di Pesantren Mahasiswa Daaru Hiraa, dan saya pernah juga nyantri di sana. Pak Pur angkatan II sedangkan saya angkatan IV.

Sedangkan Bu Yoyoh Yusroh adalah anggota DPR dari PKS. Selain itu beliau juga dikenal sebagai pendakwah dan aktif dalam gerakan kepedulian Palestina. Saya pernah menghadiri pengajian beliau. Saat itu beliau baru saja menembus Palestina membawa bantuan dari rakyat Indonesia. Saya tidak mengenalnya namun saya mengenal putra pertamanya, Umar Faruq.

Kematian Bu Yoyoh karena kecelakaan itu karena selesai menghadiri wisuda anaknya di UGM. Dari berita yang saya baca, anaknya yang diwisuda itu adalah Umar. Saya mengenal Umar sekitar 8 tahun lalu. Umar mahasiswa baru Fakultas Ekonomi sedangkan saya hampir menyelesaikan studi di Fakultas UGM. Ia tinggal di Komisariat KAMMI UGM sedangkan saya jadi ketuanya. Meski tidak menjadi anggota KAMMI, ia sering ikut aksi KAMMI terutama yang berkaitan dengan Palestina. Bahkan dalam salah satu aksi ia pernah saya minta memimpin doa.

Mas Basuki, Mbak Nurul, dan Bu Yoyoh telah meninggalkan kita. Mereka tak mungkin kembali lagi di dunia ini. Pada saat waktunya, kita-lah yang akan menyusul mereka. Maka persiapkanlah bekal-bekalnya. 

 

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kata- kata anda yang terakhir itu loh lucu...

atika suman mengatakan...

memangnya anda kenal pak purwanto.., apa di jurusan yang sama?

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)