(Belum) Bosan Jadi Pegawai (Lho)

Sabtu, 10 Maret 2012

Ulama terkenal asal Mesir sekaligus pendiri gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna, dalam buku Risalah Ta’alim berpesan kepada anggotanya, “Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sebagai sesempit-sempit pintu rezeki”. Pegawai Negeri gajinya pas-pasan, tapi banyak yang berusaha memperebutkannya di tengah menggelembungnya angka pengangguran. Pegawai Negeri bisa diartikan orang yang bekerja pada instansi pemerintah dan digaji dengan uang negara. Pengertian ini luas yakni terdiri dari pegawai negeri sipil baik pusat maupun daerah, anggota TNI dan Polri, pegawai BUMN, pegawai BUMD. Namun secara sempit biasanya diartikan sebagai PNS saja.

Kata Mbah Hassan di atas itu sempitnya pintu rejeki barangkali karena gaji sebagai PNS yang cenderung tetap saban bulan. Lebih, cukup, atau kurang sebenarnya relatif bagi setiap orang. Pendapatan memang pas asalkan tidak dibelanjakan berlebihan, namun kalau tidak bermanuver tak ’kan kaya Pegawai Negeri itu. Singkatnya kalau ingin kaya raya jangan jadi PNS.

Saya yakin kalau hanya mengandalkan gaji dan beberapa tunjangan, hil yang mustahal seorang PNS bisa memiliki kekayaan milyaran rupiah, tabungan ribuan dolar, deposito selangit, mobil mewah, rumah megah. Lalu pertanyaannya tak bolehkan PNS kaya raya? Ya tentu saja boleh-boleh saja, wong istri Nabi saja kaya kok. Dengan cara apa? Jangan mengandalkan gaji. Wirausaha kek, punya usaha sampingan kek, tekek kek.

Menyitir ucapan Aa’ Gym, bahwa saya tidak ingin kaya, tapi saya harus kaya. Kaya biasanya identik dengan beruang. Maksudnya punya banyak uang, bukan layaknya bianatang liar yang hidup di hutan. Punya uang memang tidak menjamin kebahagiaan tapi paling tidak bisa memperbaiki hidup. Saya ingin naik haji, merenovasi rumah, melunasi hutang, membiayai pendidikan, membayar zakat, berderma. Dengan apa? Dengan uang ’kan. Kalau begitu musti cari jalalain alias jalan lain.

Tahu tidak, dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, sembilan di antaranya adalah pedagang. Pintu rezeki pun dibuka lebar-lebar dengan cara berdagang. Berdagang? Ingin sekali. Tapi saya belum terbiasa. Modal belum punya. Ah, mind set ini yang sebenarnya keliru, tapi gimana lagi karena sistem pendidikan yang bertahun-tahun saya ikuti memang (kata orang-orang pintar) mengarahkan murid menjadi pegawai. Apalagi tradisi di keluarga yang semuanya menjadi pegawai, dari mbah, orang tua, dan kakak-kakak. Tapi percayalah saya suka sekali melihat, mendengar, membaca kisah sukses para pengusaha. Dan mereka berawal dari titik nol, bahkan tak sedikit dari titik minus.

Kerja keras, pantang menyerah, selalu mencoba dan mencoba. Luar biasa mereka. Jujur, saya ingin seperti mereka. Meski mungkin nantinya saya belum berkesempatan menjadi pedagang, pengusaha, atau wirausahawan, tapi prinsip dan semangat mereka akan saya jadikan teladan. Bukannya tidak pernah, saat kuliah pernah kok saya jualan. Misalnya jualan beras, saya jual ke warung-warung makan. Pernah juga keliling dari kos satu ke kos lainnya, menitipkan makanan ringan. Saya beli snack dalam bentuk bal (wadah plastik yang besar seperti karung) kemudian saya bungkus kecil-kecil saya jual eceran. Hasilnya? Balik modal pun kagak, hehehe... Pernah juga ikut MLM, tapi nggak pernah serius.

Berdagang, saya memikirkannya tapi sepertinya belum lagi deh aksinya saat ini, paling-paling membantu istri berjualan di sela-sela waktunya mengajar. Cita-cita saya dulu ingin menjadi dosen dan peneliti. Jadi dosen? Kota yang saya tinggali hanya ada segelintir perguruan tinggi dan saya tidak pernah mendapat akses untuk melamar di sana. Apalagi jenjang pendidikan saya sepertinya masih belum memenuhi persyaratan.

Jadi pengacara? Bukan pengangguran banyak acara, lho. Harus magang dulu. Perlu waktu tersendiri, tak bisa disambi dengan PNS. Begitu juga notaris. Perlu kuliah dulu, perlu uang, halah malah keluar duit.

Oya saya suka menulis. Mungkin ini bisa diandalkan. Fasilitas sudah ada. Ada laptop meski harus berbagi dengan istri dan anak-anak. Sudah ada jaringan internet. Ada ratusan buku sebagai referensi. Ada blog wadah menyalurkan tulisan yang bisa diakses seluruh dunia. Ya benar, saya belum mencoba untuk menjadikannya buku. Siapa tahu dapat royalti. Siapa tahu diundang jadi pembicara bedah buku. Siapa tahu jadi seperti Kang Abik, Bang Andrea Hirata, atau Mbak Asma Nadia.

Saya seorang birokrat, sekaligus penulis, mungkin juga diundang sebagai pembicara dalam seminar-seminar seperti dulu waktu jaman kuliah jadi pemantik dalam diskusi-diskusi lesehan di tempat parkir, emperan mesjid, dan warung angkringan. Siapa tahu nanti juga ditawari jadi dosen. Jadi peneliti. Jadi wirausahawan. Mendirikan taman baca. Membantu anak-anak tak mampu memperoleh pendidikan bermutu. Menyediakan lapangan pekerjaan, biar pemuda setempat tak berharap jadi pegawai negeri, persetan kursi pegawai negeri dengan segenab jabatannya dikapling anak-anak penggedhe.

Hehehe...baru mimpi bro, tak apalah. Kuwi dhisik bae. Melangkah kecil dulu.

3 komentar:

D&A mengatakan...

Ide yang besar selalu diawali dengan hal-hak kecil, namun segera dimulai. :) semoga sukses

wurianto saksomo mengatakan...

siap bos

Aditya Fajar mengatakan...

Ikuti panggilan hati dan tak perlu terlalu banyak pertimbangan. Just do it. Nanti jalan akan terbuka dengan sendirinya, Insha Allah :)

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)