Ada satu kalimat yang dahulu begitu akrab di telinga para orang tua, “Carilah pekerjaan yang tetap.” Menjadi pegawai negeri, karyawan bank, atau bekerja di sebuah pabrik besar dianggap sebagai jaminan masa depan. Gaji datang setiap bulan, anak dapat disekolahkan, rumah bisa dicicil, dan hari tua terasa lebih pasti. Namun, keyakinan itu perlahan memudar.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kembali meningkat sepanjang tahun 2026 menjadi pengingat bahwa pekerjaan tetap ternyata tidak selalu berarti hidup yang pasti. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan puluhan ribu pekerja kehilangan pekerjaan hanya dalam enam bulan pertama tahun ini. Di saat yang sama, survei Litbang Kompas memperlihatkan semakin banyak masyarakat merasa sulit memperoleh pekerjaan baru. Rasa aman, yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kehidupan kelas menengah, mulai terkikis.
Sesungguhnya, fenomena seperti ini bukan pertama kali terjadi dalam sejarah. Pada akhir abad ke-18, Revolusi Industri di Inggris mengubah wajah dunia kerja secara dramatis. Mesin tenun bertenaga uap mampu menghasilkan kain jauh lebih cepat dibandingkan para penenun tradisional. Bagi pemilik pabrik, itu berarti efisiensi. Namun bagi ribuan pekerja, mesin adalah ancaman terhadap mata pencaharian.
Kecemasan itu melahirkan gerakan Luddites pada awal abad ke-19. Mereka bukan sekadar anti-teknologi, sebagaimana sering disalahpahami. Para pekerja itu sesungguhnya sedang mempertahankan rasa aman yang selama ini mereka miliki. Ketika mesin menggantikan keterampilan manusia, mereka merasa masa depan ikut dirampas.
Dua abad kemudian, kecemasan yang sama kembali muncul, hanya dalam bentuk yang berbeda. Kini bukan mesin uap yang menjadi simbol perubahan, melainkan kecerdasan buatan (artificial intelligence), robot industri, dan otomatisasi digital.
Perusahaan-perusahaan di berbagai negara melakukan efisiensi. Sebagian bergabung melalui merger, sebagian lagi memangkas tenaga kerja. Teknologi memungkinkan pekerjaan yang dahulu membutuhkan puluhan orang kini cukup dilakukan oleh beberapa orang dengan bantuan perangkat lunak.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa ancaman terhadap pekerjaan tidak selalu datang dari teknologi. Pada 1930-an, dunia mengalami Depresi Besar (Great Depression). Ribuan bank bangkrut, pabrik berhenti beroperasi, dan jutaan pekerja kehilangan pekerjaan. Di Amerika Serikat, tingkat pengangguran pernah mencapai sekitar 25 persen. Bukan karena mesin menggantikan manusia, melainkan karena roda ekonomi berhenti berputar.
Presiden Franklin D. Roosevelt kemudian meluncurkan program New Deal, salah satunya melalui proyek-proyek infrastruktur berskala besar yang menyerap jutaan tenaga kerja. Jalan raya, bendungan, jembatan, hingga taman nasional dibangun bukan semata untuk pembangunan fisik, melainkan juga untuk mengembalikan rasa percaya diri masyarakat bahwa negara hadir ketika pasar gagal menyediakan pekerjaan. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan. Ia juga sumber martabat.
Hal serupa dapat ditemukan di Jepang setelah Perang Dunia II. Banyak perusahaan besar menerapkan sistem lifetime employment, yakni kebijakan mempertahankan pekerja hingga pensiun. Sistem ini memang tidak berlaku bagi semua orang, tetapi berhasil membangun loyalitas tinggi antara pekerja dan perusahaan. Jepang memahami bahwa rasa aman bekerja dapat menjadi modal sosial bagi pertumbuhan ekonomi.
Sayangnya, globalisasi mengubah banyak hal. Persaingan semakin ketat, pasar bergerak lebih cepat, dan perusahaan dituntut semakin efisien. Sistem kerja seumur hidup perlahan ditinggalkan, bahkan di Jepang sendiri.
Indonesia kini menghadapi tantangan yang hampir serupa. Di satu sisi, perlambatan ekonomi global mengurangi permintaan ekspor sehingga industri melakukan penyesuaian. Di sisi lain, otomatisasi terus berkembang tanpa dapat dibendung. Dunia kerja menjadi semakin fleksibel, tetapi sekaligus semakin rapuh.
Ironisnya, yang paling terasa bukan hanya bertambahnya angka PHK, melainkan hilangnya rasa aman. Seorang pekerja yang masih memiliki pekerjaan pun kini dapat hidup dalam kecemasan: apakah bulan depan giliran saya?
Dalam psikologi, Abraham Maslow menempatkan rasa aman sebagai kebutuhan dasar manusia setelah kebutuhan fisiologis. Ketika kebutuhan ini terganggu, produktivitas, kreativitas, bahkan kesehatan mental ikut terdampak. Itulah sebabnya gelombang PHK tidak hanya memengaruhi mereka yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga mereka yang masih bekerja.
Pengalaman menunjukkan bahwa setiap revolusi ekonomi selalu melahirkan profesi baru. Revolusi Industri menciptakan insinyur, teknisi, dan operator mesin. Revolusi digital melahirkan pengembang perangkat lunak, analis data, hingga pembuat konten. Kemungkinan besar revolusi AI pun akan menciptakan jenis pekerjaan yang hari ini bahkan belum kita kenal.
Namun, proses transisi itu tidak pernah berlangsung tanpa rasa sakit. Karena itu, tugas negara bukan menghentikan perubahan, melainkan memastikan masyarakat mampu melewatinya. Pendidikan vokasi yang adaptif, pelatihan ulang (reskilling), peningkatan keterampilan (upskilling), perlindungan sosial, dan penciptaan lapangan kerja baru menjadi jauh lebih penting daripada sekadar merayakan angka pertumbuhan ekonomi.
Pekerjaan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Yang seharusnya tetap adalah rasa aman bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bekerja, belajar kembali ketika tertinggal, dan bangkit ketika kehilangan pekerjaan. Sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa banyak lapangan kerja yang mampu diciptakannya, tetapi juga dari seberapa besar harapan yang masih dimiliki warganya ketika menghadapi ketidakpastian.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya