Membaca dalam Diam

Selasa, 15 September 2026

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang nyaris tak pernah tidur, ada pemandangan yang terasa ganjil sekaligus menenteramkan. Puluhan anak muda duduk berserakan di sebuah taman kota. Tidak ada teriakan, tidak ada permainan, bahkan hampir tidak ada percakapan. Kepala mereka tertunduk, tangan memegang buku, dan mata menatap halaman demi halaman. Mereka berkumpul, tetapi tidak saling berbicara. Mereka datang bersama untuk menikmati kesunyian. Barangkali, inilah bentuk baru perlawanan terhadap zaman.


Di era ketika perhatian manusia diperebutkan oleh notifikasi, video berdurasi belasan detik, dan linimasa yang tak pernah habis digulir, memilih duduk selama satu jam hanya untuk membaca merupakan tindakan yang nyaris radikal. Bukan karena membaca itu sulit, melainkan karena dunia kini membuat kita semakin sulit berkonsentrasi.


Filsuf Jerman, Hannah Arendt, pernah menulis bahwa kemampuan berpikir membutuhkan jeda dari kebisingan. Membaca adalah salah satu cara menciptakan jeda itu. Saat seseorang membuka buku, ia sedang memutus sejenak hubungan dengan dunia yang riuh untuk memasuki percakapan yang lebih sunyi bersama penulisnya.


Yang menarik, gerakan Baca Bareng justru membuktikan bahwa kesunyian tidak harus dijalani sendirian. Sekelompok orang dapat berkumpul tanpa saling mengganggu. Mereka berbagi ruang, bukan percakapan; berbagi waktu, bukan perhatian. Keheningan menjadi bahasa yang dipahami bersama.


Fenomena ini mengingatkan pada Silent Book Club yang lahir di San Francisco, Amerika Serikat, pada tahun 2012. Berbeda dengan klub buku konvensional yang mengharuskan anggotanya membaca buku tertentu lalu mendiskusikannya, Silent Book Club justru membebaskan setiap peserta membawa bacaan masing-masing. Tidak ada kewajiban berbicara. Tidak ada target menyelesaikan buku. Yang ada hanyalah kebersamaan dalam membaca.


Model seperti ini ternyata menyebar ke berbagai negara. Mungkin karena ia menjawab kebutuhan manusia modern yang paradoksal, yaitu ingin menjadi bagian dari komunitas, tetapi juga mendambakan ruang pribadi.


Di Indonesia, kebutuhan itu menemukan rumah di taman kota. Pilihan lokasi juga bukan tanpa makna. Taman merupakan ruang publik yang paling demokratis. Tidak ada tiket masuk. Tidak ada syarat keanggotaan. Siapa pun dapat datang dengan buku apa pun. Mahasiswa membaca filsafat duduk berdampingan dengan pegawai yang menikmati novel romantis. Seorang ibu membuka buku pengembangan diri, sementara anak muda di sebelahnya larut dalam manga Jepang. Semua diterima tanpa hierarki.


Gambaran semacam ini mengingatkan pada tradisi membaca di taman-taman Eropa. Di Jardin du Luxembourg, Paris, atau Hyde Park, London, orang-orang lazim menghabiskan sore dengan membaca di bangku taman. Buku menjadi bagian dari lanskap kota, sebagaimana pepohonan dan burung-burung.


Sayangnya, budaya seperti itu belum terlalu mengakar di Indonesia. Selama ini membaca lebih sering dipersepsikan sebagai aktivitas akademik: dilakukan karena tugas sekolah, ujian, atau pekerjaan. Membaca demi kesenangan masih dianggap kemewahan. Padahal, membaca juga merupakan rekreasi.


Itulah sebabnya kegiatan membaca bersama di ruang terbuka terasa penting. Ia menggeser citra membaca dari aktivitas yang serius dan membosankan menjadi gaya hidup yang menyenangkan. Ketika foto-foto peserta memenuhi media sosial, yang dipamerkan bukan hanya sampul buku, melainkan sebuah kebiasaan baru. Dalam bahasa komunikasi, perilaku yang terlihat berulang akan lebih mudah ditiru dibanding sekadar slogan tentang pentingnya literasi.


Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya tidak anti terhadap buku. Mereka hanya membutuhkan ruang yang sesuai dengan zamannya. Taman yang rindang, akses transportasi yang mudah, kopi, musik, dan komunitas yang tidak menghakimi ternyata cukup untuk menarik mereka kembali kepada bacaan.


Ada ironi yang menarik. Banyak orang menganggap media sosial sebagai penyebab menurunnya minat baca. Namun justru melalui media sosial pula komunitas-komunitas membaca berkembang, mengajak peserta baru, dan memperlihatkan bahwa membaca masih memiliki daya tarik. Teknologi bukan musuh buku. Musuh sesungguhnya adalah hilangnya kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca.


Dalam sejarah Indonesia, taman dan ruang publik pernah menjadi tempat lahirnya berbagai gagasan besar. Di Taman Ismail Marzuki, para seniman dan intelektual berdiskusi hingga larut malam. Di kampus-kampus, halaman rindang menjadi saksi perdebatan mahasiswa mengenai sastra, politik, dan kebudayaan. Kini, tradisi itu menemukan bentuk yang lebih tenang. Bukan lagi perdebatan keras, melainkan keheningan yang sama-sama produktif.


Inilah wajah literasi yang dibutuhkan hari ini. Tidak selalu harus berupa seminar besar atau festival buku yang megah. Kadang cukup dengan selembar tikar, sebuah novel, dan satu jam tanpa notifikasi.


Jorge Luis Borges pernah berkata bahwa surga adalah perpustakaan. Namun bagi anak-anak muda yang berkumpul di Taman Literasi setiap akhir pekan, surga kecil itu tampaknya tidak harus berada di dalam gedung. Ia bisa hadir di bawah rindangnya pepohonan, di tengah suara kendaraan yang berlalu-lalang, ketika puluhan orang memilih membalik halaman buku daripada menggulir layar telepon.


Di kota yang begitu bising, membaca bersama bukan sekadar kegiatan literasi. Ia adalah cara sederhana untuk mengingatkan bahwa manusia masih membutuhkan keheningan agar tetap menjadi manusia.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (300) kepegawaian (179) serba-serbi (131) oase (104) hukum (101) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (64) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)