Argentina Kontra Inggris

Minggu, 06 September 2026

Ada pertandingan sepak bola yang sekadar menentukan siapa melaju ke final. Ada pula pertandingan yang membawa beban sejarah sebuah bangsa. Semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina termasuk kategori kedua. Bagi sebagian generasi muda, laga itu mungkin hanya mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia. Namun bagi banyak warga Argentina dan Inggris, pertandingan tersebut selalu menghidupkan kembali ingatan tentang Perang Malvinas (Falklands) tahun 1982.


Selama 90 menit, rumput hijau seolah berubah menjadi panggung tempat sejarah, nasionalisme, dan memori kolektif saling berhadapan. Pertandingan selesai ketika peluit panjang berbunyi, tetapi perang dalam ingatan belum pernah benar-benar berakhir.


Perang Malvinas berlangsung relatif singkat, hanya sekitar 74 hari, dari April hingga Juni 1982. Sengketa dipicu perebutan Kepulauan Malvinas—atau Falklands menurut Inggris—yang terletak sekitar 500 kilometer dari pesisir Argentina, tetapi lebih dari 12.000 kilometer dari Kepulauan Britania. Kedua negara sama-sama mengklaim wilayah tersebut sebagai bagian dari kedaulatannya.


Argentina di bawah junta militer Jenderal Leopoldo Galtieri menganggap pendudukan Malvinas sebagai upaya merebut kembali wilayah yang “dirampas” Inggris sejak abad ke-19. Sebaliknya, Inggris memandang tindakan tersebut sebagai invasi terhadap wilayah yang telah lama berada di bawah administrasinya.


Ketika pasukan Argentina mendarat pada tanggal 2 April 1982, para pemimpin junta tampaknya meyakini Inggris tidak akan mengirim armada perang sejauh itu. Perhitungan tersebut terbukti keliru. Perdana Menteri Margaret Thatcher justru mengirim gugus tempur besar yang akhirnya berhasil merebut kembali Port Stanley pada tanggal 14 Juni 1982.


Perang berakhir dengan kekalahan Argentina. Sebanyak 649 prajurit Argentina gugur, sementara Inggris kehilangan 255 personel militer. Ratusan keluarga di kedua negara kehilangan ayah, anak, atau saudara mereka hanya dalam waktu dua bulan. Namun korban terbesar sesungguhnya bukan hanya angka statistik. Yang paling sulit dipulihkan adalah harga diri nasional.


Bagi Argentina, Malvinas berubah menjadi luka sejarah. Kekalahan itu memang menggulingkan junta militer dan membuka jalan bagi kembalinya demokrasi. Akan tetapi, rasa kehilangan atas kepulauan tersebut tetap hidup dalam memori nasional. Hampir setiap pemerintahan Argentina sesudahnya tetap mempertahankan klaim melalui jalur diplomasi internasional.


Sebaliknya, bagi Inggris, kemenangan di Falklands menjadi simbol keberhasilan mempertahankan kedaulatan negara. Popularitas Margaret Thatcher yang sempat menurun, menjadi melonjak tajam setelah perang tersebut, memperkuat posisinya dalam pemilu berikutnya.


Di sinilah sejarah kemudian menemukan panggung baru, yakni sepak bola. Empat tahun setelah perang usai, Inggris dan Argentina bertemu pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Pertandingan itu kemudian dikenang sebagai salah satu laga paling ikonik sepanjang sejarah sepak bola.


Diego Maradona mencetak dua gol yang sama-sama abadi. Gol pertama lahir melalui sentuhan tangan yang kemudian dikenal sebagai “Hand of God”. Gol kedua justru dianggap sebagai salah satu gol terbaik sepanjang sejarah setelah Maradona menggiring bola melewati hampir seluruh pemain Inggris.


Yang menarik bukan semata gol tersebut, melainkan pengakuan Maradona sendiri. Ia menyebut gol pertama sebagai “balas dendam simbolis” atas Perang Malvinas. Dalam satu kalimat itu, sepak bola berubah menjadi medium pelampiasan memori kolektif sebuah bangsa. Bagi warga Inggris, gol itu adalah kecurangan. Bagi banyak warga Argentina, gol itu adalah kemenangan moral. Di sinilah olahraga memperlihatkan wajahnya yang unik. Ia memang bukan perang, tetapi sering kali menjadi ruang tempat bangsa-bangsa menegosiasikan kembali harga diri mereka.


Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah menjelaskan bahwa olahraga merupakan arena pertarungan simbolik (symbolic struggle). Yang diperebutkan bukan sekadar skor, melainkan prestise, identitas, dan pengakuan. Karena itu, tidak mengherankan jika setiap kali Inggris dan Argentina bertemu di Piala Dunia, publik selalu mengaitkannya dengan Malvinas.


Padahal, para pemain yang turun di lapangan saat ini lahir jauh setelah perang berakhir. Pelatih Argentina Lionel Scaloni bahkan menegaskan bahwa pertandingan itu “hanya pertandingan sepak bola”. Penyerang Jose Manuel Lopez juga mengatakan para pemain profesional tidak membutuhkan motivasi selain impian mencapai final Piala Dunia.


Namun sejarah memiliki logikanya sendiri. Maurice Halbwachs, pelopor teori collective memory, menjelaskan bahwa ingatan suatu bangsa tidak diwariskan melalui gen, melainkan melalui pendidikan, keluarga, media, simbol, dan ritual sosial. Itulah sebabnya generasi yang sama sekali tidak mengalami perang tetap dapat merasakan emosi yang diwariskan pendahulunya. Suporter Argentina yang masih menyanyikan lagu tentang Malvinas pada Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa memori sejarah belum benar-benar selesai. 


Dari sudut pandang hukum internasional, sengketa Malvinas juga memperlihatkan benturan dua prinsip fundamental. Argentina mendasarkan klaimnya pada asas integritas teritorial, yakni bahwa wilayahnya tidak boleh dipisahkan secara sepihak. Sebaliknya, Inggris bertumpu pada prinsip hak menentukan nasib sendiri (self-determination). Referendum pada tahun 2013 menunjukkan hampir seluruh penduduk Falklands memilih tetap menjadi bagian dari Inggris.


Kedua prinsip tersebut sama-sama memperoleh pengakuan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena itu, penyelesaiannya tidak mungkin dilakukan melalui kekuatan militer semata. Adagium hukum inter arma enim silent leges (di tengah perang hukum sering kali terdiam) menjadi pengingat bahwa penggunaan kekuatan hampir selalu mempersempit ruang dialog. Sebaliknya, Piagam PBB melalui Pasal 2 ayat (3) menegaskan bahwa sengketa internasional harus diselesaikan dengan cara damai.


Sejarah Malvinas juga mengandung pelajaran politik yang tidak kalah penting. Junta militer Argentina menggunakan isu kepulauan tersebut untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis ekonomi dan pelanggaran hak asasi manusia. Nasionalisme dijadikan instrumen konsolidasi kekuasaan. Strategi itu berhasil membangkitkan semangat rakyat, tetapi gagal memenangkan perang.


Ironisnya, justru kekalahan di Malvinas mempercepat runtuhnya rezim militer dan mengembalikan Argentina kepada demokrasi. Hal tersebut membuktikan bahwa nasionalisme dapat menjadi perekat bangsa, tetapi ketika dijadikan alat menutupi kegagalan pemerintahan, ia mudah berubah menjadi bumerang.


Semifinal Piala Dunia 2026 kembali mempertemukan Inggris dan Argentina. Para pemain mungkin hanya mengejar tiket menuju final. Namun bagi jutaan penonton, pertandingan itu tetap membawa gema sejarah yang panjang.


Inilah keistimewaan sejarah. Ia tidak selalu hadir dalam ruang kelas, arsip negara, atau museum. Kadang-kadang sejarah justru muncul di stadion sepak bola, melalui sorak-sorai suporter, lagu-lagu kebangsaan, dan sepasang gawang yang mengingatkan bahwa sebuah perang memang bisa berakhir oleh perjanjian damai, tetapi ingatan tentang perang sering kali hidup jauh lebih lama daripada dentuman meriamnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (300) kepegawaian (179) serba-serbi (122) oase (104) hukum (101) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (64) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)