Pada suatu pagi di Batavia abad ke-18, seorang perempuan Eropa berjalan dengan gaun sutra bertepi emas. Tubuhnya penuh perhiasan. Di belakangnya berjalan para budak. Ada yang membawa payung, ada yang mengangkat bagian belakang rok, ada yang membawa tempat sirih, dan ada pula yang membantu sang nyonya naik ke kereta kuda. Di jalan-jalan kota kolonial itu, kemewahan bukan hanya tampilan. Ia adalah pengumuman: siapa yang berkuasa, siapa yang kaya, dan siapa yang harus menunduk.
Tiga abad kemudian, panggungnya berubah. Tidak ada lagi kanal Batavia, kereta kuda enam ekor, atau serambi rumah besar di tepi Kanal Harimau. Yang ada adalah Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai layar telepon yang tak pernah benar-benar tidur. Mobil sport, jam tangan mahal, tas bermerek, rumah megah, tumpukan uang, hingga pesta arisan miliaran rupiah menjadi bahan tontonan baru. Kita menyebutnya flexing: pamer kekayaan, gaya hidup, dan status sosial.
Istilah itu tampak modern, tetapi hasrat di belakangnya sangat tua. Sejak manusia hidup dalam masyarakat bertingkat, kekayaan selalu digunakan sebagai bahasa untuk membedakan diri. Yang berubah hanyalah medianya. Dahulu, kemewahan dipertontonkan di jalan, dalam pesta perkawinan, dan prosesi pemakaman. Kini, ia dipertontonkan melalui unggahan di internet, video, dan siaran langsung. Dahulu, orang membutuhkan penonton di kota. Kini, orang dapat memiliki penonton di seluruh dunia.
Batavia VOC memberi contoh yang terang tentang bagaimana kemewahan berkaitan dengan kekuasaan. Pada sekitar tahun 1700, kota itu tumbuh sebagai pusat perdagangan dan administrasi kolonial. Rumah-rumah besar berdiri di tepi kanal, terutama di kawasan yang dianggap nyaman dan bergengsi. Bagi pejabat VOC dan orang Eropa kaya, rumah besar dengan serambi, taman, pagar, serta akses ke jalur air bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah tanda kedudukan.
Kemewahan juga tampak dalam kereta kuda, pesta pernikahan, dan penguburan. Sejarawan Hendrik E. Niemeijer mencatat bahwa kereta kuda merupakan salah satu penanda paling kuat dari status elite Batavia. Kendaraan itu mahal, membutuhkan perawatan, kusir, kuda, serta infrastruktur jalan. Ketika VOC menjemput utusan Kerajaan Mataram dengan kereta kuda Eropa pada tahun 1653, yang dipamerkan bukan sekadar kemajuan teknologi. VOC sedang melakukan diplomasi visual, dengan memperlihatkan kemakmuran, ketertiban, dan superioritas kekuasaan kolonial.
Masalah muncul ketika kemewahan tidak lagi dimonopoli pejabat Kompeni. Pedagang kaya, warga sipil, serta kelompok non-Eropa yang memiliki modal mulai memakai kereta kuda, mengenakan pakaian mahal, dan mengadakan pesta besar. Batas visual antara penguasa dan orang kaya biasa menjadi kabur. Mona Lohanda mencatat keluhan sejumlah gubernur jenderal yang merasa tersaingi.
Kegelisahan itu melahirkan peraturan. Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker pada tahun 1666 meminta Dewan Hindia membahas pembatasan barang mewah. Rijcklofs van Goens kemudian mencoba mengatur cara berpakaian penduduk Batavia pada tahun 1680. Puncaknya terjadi pada masa Jacob Mossel melalui Reglement ter beteugeling van pracht en praal, aturan yang mengendalikan kebesaran dan kemegahan. Hanya kereta gubernur jenderal yang boleh ditarik enam ekor kuda. Jenis pakaian, topi, perhiasan, payung, hingga jumlah budak yang boleh dibawa ke perhelatan diatur menurut pangkat.
Aturan itu tampak seperti kebijakan anti-pamer. Namun, ia bukan lahir dari keinginan membangun kesetaraan. VOC tidak menolak kemewahan; VOC ingin mengatur siapa yang berhak tampil mewah. Yang dilindungi adalah jarak simbolik antara elite kolonial dan penduduk lainnya. Dalam masyarakat kolonial, penampilan adalah bagian dari tata kekuasaan. Kekuasaan harus terlihat agar dipercaya, ditakuti, dan ditaati.
Warisan cara pandang itu tidak hilang begitu saja. Dalam masyarakat modern, kemewahan masih menjadi alat untuk membangun status, meskipun aktornya tidak lagi hanya pejabat kolonial. Di Makassar, misalnya, perhiasan emas yang dikenakan seorang perempuan dan arisan Rp 2,5 miliar sempat menjadi perbincangan nasional. Banyak orang menyebutnya sebagai flexing. Namun, fenomena itu tidak dapat dibaca hanya sebagai kegemaran baru terhadap emas dan uang.
Dalam kebudayaan Bugis-Makassar, kekayaan memiliki akar nilai yang panjang. Filosofi assugireng menempatkan kekayaan sebagai kemampuan untuk hidup layak, menjaga martabat keluarga, dan memperluas manfaat sosial. Dorongan merantau atau sompeq juga berhubungan dengan usaha mencari penghidupan yang lebih baik. Emas secara historis bukan semata perhiasan, melainkan simpanan keluarga dan alat investasi. Ketika jumlahnya cukup, emas dapat dialihkan menjadi tanah, ternak, atau modal usaha.
Masalahnya muncul ketika kekayaan bergeser dari sarana menjadi pertunjukan. Dalam masyarakat konsumsi, seperti dijelaskan Jean Baudrillard, orang tidak membeli barang hanya karena fungsinya. Mereka membeli tanda yang melekat pada barang itu. Mobil mahal tidak sekadar membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain; ia menyampaikan pesan tentang kelas sosial. Tas mewah tidak sekadar menyimpan barang; ia menyampaikan pesan tentang selera, akses, dan prestise. Emas bukan lagi cadangan ketika masa sulit, melainkan alat untuk menarik perhatian.
Media sosial mempercepat perubahan itu. Ia mengubah kekayaan menjadi konten dan perhatian menjadi mata uang. Dalam logika platform digital, sesuatu yang mencolok lebih mudah memperoleh respons. Kemewahan, sensasi, dan kontroversi bekerja lebih baik daripada kesederhanaan. Orang lalu terdorong bukan hanya untuk sukses, tetapi untuk terlihat sukses. Yang penting bukan hanya memiliki, melainkan mampu memperlihatkan kepemilikan itu kepada sebanyak mungkin orang.
Di sinilah flexing menjadi lebih dari sekadar pamer barang. Ia adalah pamer eksistensi. Sosiolog Sawedi Muhammad menyebutnya sebagai megalothymia, atau dorongan untuk dianggap lebih unggul daripada orang lain. Dalam dunia digital, dorongan itu bertemu dengan algoritma yang terus memberi hadiah berupa perhatian. Jumlah pengikut, tanda suka, komentar, dan undangan tampil di televisi dapat membuat kemewahan terasa seperti prestasi tersendiri.
Namun, ada sisi gelap yang tidak boleh diabaikan. Flexing dapat menciptakan ilusi bahwa kekayaan selalu datang secara cepat dan mudah. Kasus pesohor menunjukkan bagaimana gaya hidup mewah dapat dipakai untuk membangun kredibilitas palsu. Mobil mahal, rumah besar, dan narasi tentang kesuksesan dipakai untuk meyakinkan orang agar masuk ke investasi yang ternyata bermasalah. Kemewahan berubah menjadi alat persuasi, bahkan penipuan.
Kasus pejabat pajak juga memperlihatkan dimensi lain. Ketika gaya hidup mewah dipertontonkan oleh keluarga pejabat, publik segera bertanya tentang asal-usul harta. Dalam demokrasi, pertanyaan itu sah. Pejabat tidak hanya memegang jabatan, tetapi juga kepercayaan. Kemewahan yang berlebihan, terutama ketika dipamerkan secara terbuka, dapat merusak legitimasi institusi karena masyarakat melihat kemungkinan adanya jarak antara penghasilan resmi dan gaya hidup yang ditampilkan.
Karena itu, kritik terhadap flexing bukan berarti membenci orang kaya. Kekayaan dapat lahir dari kerja keras, inovasi, dan usaha yang sehat. Yang perlu dikritik adalah ketika kekayaan dijadikan satu-satunya ukuran nilai manusia, ketika kemewahan dipakai untuk menipu, atau ketika ia dipertontonkan tanpa kepekaan di tengah ketimpangan sosial yang nyata.
Sejarah Batavia mengajarkan bahwa kemewahan selalu terkait dengan kekuasaan. Dari kereta kuda enam ekor milik gubernur jenderal hingga mobil mewah dalam unggahan media sosial, benda-benda itu bekerja sebagai tanda. Mereka mengatakan siapa yang dianggap berhasil, siapa yang memiliki akses, dan siapa yang berhak berada di atas.
Perbedaannya, pada masa VOC, negara kolonial berusaha mengatur kemewahan untuk menjaga monopoli status elite. Kini, negara demokratis seharusnya tidak mengatur siapa yang boleh memakai barang mahal. Tugas lebih pentingnya adalah memastikan bahwa kekayaan diperoleh secara sah, pajak dibayar dengan benar, kesempatan ekonomi tidak dimonopoli, dan institusi publik tidak dipakai untuk membiayai kemewahan pribadi.
Flexing mungkin akan terus ada selama manusia membutuhkan pengakuan. Namun, masyarakat tidak harus menyerahkan seluruh ukuran keberhasilan kepada kilau benda. Kekayaan yang paling bermakna bukan yang paling ramai dipertontonkan, melainkan yang mampu memperluas kesempatan hidup, menjaga martabat, dan memberi manfaat bagi orang lain.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya