Ada pengakuan yang sering diucapkan setengah berbisik. “Sebenarnya saya cuma iseng nonton satu episode”. Kalimat itu hampir selalu berakhir dengan pengakuan kedua: tahu-tahu dua jam berlalu, puluhan episode habis, dan pekerjaan yang seharusnya diselesaikan malah tertunda.
Itulah nasib banyak penonton drama China, atau yang akrab disebut dracin. Ia menjadi guilty pleasure zaman digital. Banyak yang mencibirnya sebagai tontonan “receh”, penuh cerita CEO kaya raya yang menyamar menjadi orang miskin, pewaris kerajaan yang terbuang, atau perempuan biasa yang mendadak menjadi istri konglomerat. Plotnya sering terasa mustahil, dialognya kadang berlebihan, bahkan aktingnya tak jarang mengundang gelak.
Namun justru di situlah letak kekuatannya. Dracin mengajarkan satu hal yang mulai langka dalam kehidupan modern: kepastian bahwa kebaikan akhirnya akan menang.
Di tengah dunia nyata yang semakin rumit, penuh ketidakpastian, dan sering kali tidak adil, dracin menawarkan dunia alternatif yang sederhana. Tokoh baik pasti menang. Tokoh jahat pasti kalah. Orang miskin bisa berubah menjadi kaya. Orang yang diremehkan akan membuktikan dirinya. Cinta sejati selalu menemukan jalannya.
Kita tahu semua itu tidak realistis. Namun, bukankah manusia memang hidup bukan hanya dengan kenyataan, tetapi juga harapan?
Sosiolog Jerman Max Weber pernah mengatakan bahwa manusia digerakkan bukan semata oleh kepentingan material, tetapi juga oleh makna. Dalam konteks budaya populer, dracin menyediakan makna yang mudah dipahami, dunia pada akhirnya memiliki keadilan moral. Barangkali karena itulah jutaan orang rela menghabiskan waktu berjam-jam menontonnya.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru dalam sejarah. Pada abad ke-19, masyarakat Eropa tergila-gila pada novel bersambung karya Charles Dickens atau Alexandre Dumas. Pembaca rela menunggu berminggu-minggu hanya untuk mengetahui nasib tokoh favorit mereka. Di Indonesia, generasi 1980-an dan 1990-an tumbuh bersama sandiwara radio seperti Saur Sepuh, Misteri Gunung Merapi, Tutur Tinular, atau sinetron yang membuat penonton menebak-nebak episode berikutnya. Yang berubah hanyalah medianya.
Kini, rasa penasaran itu dipelihara oleh algoritma. Episode berdurasi satu atau dua menit diakhiri dengan cliffhanger yang memancing jempol untuk terus menggulir layar. Psikolog menyebut mekanisme ini sebagai variable reward, sistem hadiah yang tidak selalu muncul secara teratur sehingga membuat seseorang terus mencoba. Prinsip yang sama dipakai media sosial, permainan digital, bahkan mesin judi.
Artinya, dracin bukan hanya soal cerita. Ia juga hasil rekayasa teknologi yang memahami kelemahan psikologi manusia. Namun, jika hanya mengandalkan algoritma, dracin tidak akan menjadi fenomena global. Ada sesuatu yang lebih mendasar.
Banyak cerita dracin bertumpu pada fantasi sosial yang diam-diam diinginkan banyak orang. Si miskin dipertemukan dengan orang kaya. Pegawai rendahan ternyata pewaris perusahaan. Anak yang selama ini dihina mendadak diketahui sebagai putra keluarga terpandang. Semua itu sebenarnya berbicara tentang mobilitas sosial—impian untuk naik kelas dalam masyarakat yang semakin timpang.
Dalam kehidupan nyata, kesempatan semacam itu semakin sulit. Harga rumah melambung, pekerjaan berkualitas terbatas, dan kesenjangan ekonomi melebar. Maka, dracin menawarkan kompensasi emosional. Jika dunia nyata tidak selalu memberi kemenangan, dunia fiksi akan memberikannya.
Tidak mengherankan apabila tema CEO, konglomerat, pewaris kerajaan, atau pengusaha sukses terus diulang. Cerita itu bukan semata tentang kekayaan, melainkan tentang keinginan manusia untuk dihargai setelah sekian lama diremehkan.
Yang menarik, pemerintah China sendiri justru beberapa kali mengkritik kecenderungan tersebut. Otoritas penyiaran China pernah meminta produsen drama mengurangi cerita yang mengagungkan kemewahan, kekuasaan, dan pernikahan dengan orang superkaya. Mereka khawatir fantasi semacam itu membentuk nilai yang keliru di masyarakat.
Namun, pasar berbicara lain. Penonton di Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Amerika Latin tetap memburunya. Bahkan lahir bisnis penyewaan hanfu, wisata bertema Tiongkok kuno, hingga aplikasi khusus mikrodrama yang menghasilkan miliaran dolar setiap tahun. Semua itu menunjukkan bahwa dracin telah melampaui status sebagai tontonan. Ia telah menjadi industri budaya global.
Tentu saja, dracin bukan tanpa kelemahan. Banyak ceritanya repetitif, stereotip, dan terlalu hitam-putih. Karakter perempuan kadang direduksi menjadi sosok yang menunggu diselamatkan, sementara tokoh laki-laki digambarkan nyaris tanpa cela. Jika dikonsumsi tanpa daya kritis, penonton dapat membawa ekspektasi yang tidak realistis ke dalam kehidupan nyata.
Namun, kita juga tidak perlu terlalu keras menghakiminya. Setiap zaman memiliki bentuk pelariannya sendiri. Dahulu orang tenggelam dalam roman picisan, komik silat, atau sinetron beratus-ratus episode. Kini orang memilih menggulir mikrodrama di layar ponsel.
Selama manusia masih hidup dalam dunia yang penuh ketidakpastian, selama masih ada orang yang merasa diremehkan, selama keadilan terasa lebih mudah ditemukan di layar daripada di kehidupan sehari-hari, dracin akan terus memiliki penonton. Karena yang dijual oleh drama China bukan sekadar kisah cinta, harta, atau takhta. Yang sesungguhnya dijual adalah harapan, betapa pun mustahilnya harapan itu terjadi di dunia nyata.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya