Pada suatu hari di tahun 2009, bantuan kemanusiaan Muhammadiyah untuk Gaza menghadapi jalan buntu. Perbatasan Rafah ditutup. Jalur yang biasa digunakan organisasi kemanusiaan internasional tidak dapat dilalui. Bagi banyak orang, itu berarti misi harus ditunda atau bahkan dibatalkan. Namun, bagi Sudibyo Markus, kebuntuan berarti perlunya mencari pintu lain.
Dalam hitungan jam, dokter yang juga aktivis Muhammadiyah itu menghubungi sejumlah kenalan yang tersebar di berbagai negara. Ada tokoh Palang Merah Palestina, pendiri Islamic Relief Worldwide, hingga petugas penghubung lembaga tanggap darurat Israel. Tak lama kemudian, izin masuk melalui wilayah Israel berhasil diperoleh. Bantuan kemanusiaan akhirnya dapat mencapai Gaza.
Tidak ada nota diplomatik. Tidak ada perundingan antarnegara. Tidak ada pula mandat resmi sebagai diplomat pemerintah. Yang bekerja adalah jejaring kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun.
Kisah itu menjadi salah satu alasan mengapa Sudibyo Markus dijuluki “diplomat partikelir Muhammadiyah”. Ia bukan diplomat dalam pengertian formal, tetapi kiprahnya menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu lahir dari gedung kementerian luar negeri. Kadang-kadang diplomasi lahir dari hubungan antarmanusia.
Menariknya, benih perjalanan itu justru tumbuh dari sebuah kota kecil di Jawa Timur. Sudibyo lahir dan besar di Pare, Kediri. Kini kota itu lebih dikenal sebagai Kampung Inggris, tetapi pada awal 1950-an Pare pernah menjadi laboratorium sosial bagi sejumlah peneliti Amerika Serikat. Di bawah pimpinan antropolog Rufus S. Hendon, mahasiswa-mahasiswa Universitas Harvard datang melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa.
Sudibyo kecil yang saat itu berusia sekitar sepuluh tahun menyaksikan kedatangan orang-orang asing ke kampungnya. Ia mungkin belum memahami arti penelitian antropologi, tetapi pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Bertahun-tahun kemudian ia menyadari bahwa Pare dipilih karena dianggap sebagai titik temu berbagai tradisi budaya Jawa.
Dari penelitian-penelitian itulah kemudian lahir karya-karya antropolog Clifford Geertz yang terkenal. Pare bahkan disamarkan dengan nama “Modjokuto”, sebuah lokasi yang kelak menjadi bagian penting dalam studi tentang agama dan masyarakat Jawa. Bagi Sudibyo, pengalaman masa kecil itu lebih dari sekadar kenangan. Ia menjadi jendela pertama untuk melihat dunia yang lebih luas.
Di tengah suasana Indonesia pascakemerdekaan yang masih mencari bentuk, seorang anak kampung berkesempatan berinteraksi dengan para peneliti dari negeri yang sangat jauh. Dari situlah tumbuh rasa ingin tahu terhadap dunia luar, sekaligus keyakinan bahwa perbedaan tidak selalu harus berujung pada pertentangan.
Pandangan tersebut kemudian menemukan wadah di Muhammadiyah. Ketika aktif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting organisasi itu, Sudibyo membawa gagasan Islam yang terbuka terhadap dialog dan kerja sama. Baginya, hubungan antara Islam dan Barat bukanlah hubungan musuh dan lawan. Keduanya adalah peradaban yang dapat saling belajar.
Pandangan semacam ini mungkin terdengar biasa sekarang. Namun, pada masa Perang Dingin, ketika dunia dipenuhi kecurigaan ideologis, dan setelah peristiwa 11 September 2001 ketika relasi Islam-Barat kembali menegang, sikap demikian tidak selalu populer.
Karena itu, kiprah Sudibyo sesungguhnya tidak hanya penting bagi Muhammadiyah. Ia mencerminkan tradisi panjang masyarakat sipil Indonesia yang sering kali bergerak melampaui batas-batas diplomasi resmi.
Sejarah Indonesia mengenal banyak tokoh yang bekerja di ruang semacam itu. Mereka tidak membawa stempel negara, tetapi mampu membangun jembatan yang tidak dapat dibangun oleh politik formal. Ada yang bergerak melalui pendidikan, ada yang melalui agama, ada pula yang melalui kemanusiaan. Sudibyo memilih jalan terakhir.
Pilihan itu tampaknya tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai dokter. Dalam dunia kedokteran, manusia datang terlebih dahulu sebelum identitas politik, agama, atau kewarganegaraan. Seorang pasien harus ditolong bukan karena ia berasal dari kelompok tertentu, melainkan karena ia manusia.
Prinsip yang sama tampak dalam aktivitas kemanusiaannya. Ketika berbicara tentang Gaza, Mindanao, atau wilayah konflik lainnya, Sudibyo selalu berangkat dari kebutuhan untuk membantu manusia yang menderita. Politik boleh berbeda, tetapi penderitaan manusia bersifat universal.
Di zaman ketika hubungan antarnegara semakin rumit dan konflik identitas semakin mengeras, kisah Sudibyo Markus menawarkan pelajaran yang sederhana sekaligus penting. Bahwa kepercayaan, dialog, dan kemanusiaan masih memiliki kekuatan yang sering diremehkan. Ia menunjukkan bahwa terkadang jalan menuju perdamaian tidak dibuka oleh negara, melainkan oleh orang-orang yang bersedia mengetuk pintu yang dianggap mustahil untuk dibuka.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya