Pepaya California

Selasa, 18 Agustus 2026

Di pasar tradisional, toko buah, hingga rak swalayan, pepaya California sudah lama menjadi salah satu buah yang paling mudah dikenali. Bentuknya relatif seragam, ukurannya pas untuk satu keluarga, dagingnya jingga kemerahan, dan rasanya manis. Nama “California” pun memberi kesan tertentu: modern, unggul, dan—barangkali yang paling menentukan—berasal dari luar negeri.


Padahal, pepaya yang selama ini populer dengan nama pepaya California itu bukanlah buah impor dari Amerika Serikat. Nama varietas resminya adalah Callina atau IPB-9, hasil pemuliaan tanaman yang dikembangkan oleh tim peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB). Salah satu tokoh penting di baliknya ialah Prof. Dr. Sriani Sujiprihati, ahli pemuliaan tanaman kelahiran Ponorogo, Jawa Timur.


Kisah Callina menarik bukan hanya karena membongkar salah paham tentang asal-usul buah. Ia juga memperlihatkan persoalan yang lebih luas: bagaimana karya ilmiah lokal dapat berhasil di pasar, tetapi justru kehilangan nama dan identitasnya ketika menjadi komoditas.


Sriani Sujiprihati menekuni dunia tanaman sejak muda. Kedekatannya dengan kebun keluarga membawanya belajar di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, melanjutkan magister di IPB, lalu meraih doktor dalam bidang pemuliaan tanaman di Universiti Putra Malaysia. Karier akademiknya kemudian dihabiskan untuk mengembangkan tanaman pangan dan hortikultura yang lebih unggul, mulai dari pepaya hingga cabai, pisang, nanas, dan buah-buahan tropis lainnya.


Pemuliaan tanaman bukan pekerjaan yang selesai dalam satu musim tanam. Ia membutuhkan kesabaran seperti merawat sejarah. Tanaman harus diseleksi, diuji, dibandingkan, ditanam ulang, dan diamati berkali-kali. Peneliti tidak cukup menemukan buah yang manis pada satu pohon. Mereka harus memastikan rasa, bentuk, ukuran, produktivitas, dan daya tahan tanaman itu tetap muncul secara konsisten dalam berbagai kondisi.


Bahan awal Callina berasal dari pohon pepaya di kebun seorang warga Bogor. Pemiliknya menyebut benih tanaman itu berasal dari Amerika Serikat, meski asal-usul tersebut tidak pernah benar-benar dapat dipastikan. Dari bahan awal itulah Sriani bersama tim IPB melakukan penelitian dan seleksi selama sekitar tujuh tahun. Hasilnya kemudian resmi dilepas oleh Menteri Pertanian pada 26 Mei 2010 sebagai varietas unggul bernama Callina.


Nama Callina sendiri merupakan gabungan dari California dan Indonesia. Barangkali sejak awal sudah ada kesadaran bahwa nama “California” punya daya jual. Tetapi yang kemudian terjadi justru lebih jauh: di pasar, nama Callina nyaris hilang. Pedagang, distributor, dan pelaku usaha lebih senang menyebutnya pepaya California karena dianggap lebih gampang menarik pembeli.


Di sini kita melihat ironi dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah produk bisa dibuat di Indonesia, dikembangkan oleh ilmuwan Indonesia, ditanam petani Indonesia, dan dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi tetap terasa lebih meyakinkan ketika diberi nama yang terdengar asing. Seolah-olah mutu harus terlebih dahulu memakai aksen luar negeri agar dianggap layak dipercaya.


Padahal Callina tidak diterima pasar hanya karena namanya. Buah ini punya keunggulan yang nyata. Bobotnya sekitar satu kilogram, sehingga praktis dikonsumsi tanpa terlalu banyak sisa. Dagingnya tebal, warnanya menarik, dan rasanya manis. Pohonnya relatif pendek, sehingga lebih mudah dirawat dan dipanen. Tanaman ini juga dapat mulai dipanen sekitar tujuh hingga delapan bulan setelah ditanam serta mampu beradaptasi di berbagai wilayah.


Bagi petani, karakter tersebut sangat penting. Varietas unggul bukan sekadar buah yang enak dipajang di meja makan. Ia harus memberi kepastian yang lebih baik dalam usaha tani, seperti masa panen yang relatif cepat, hasil yang memadai, perawatan yang tidak terlalu rumit, serta peluang diterima pasar. Benih yang baik memang tidak menghapus risiko cuaca, penyakit, atau jatuhnya harga. Namun ia memberi fondasi yang lebih kuat bagi petani untuk memulai.


Keberhasilan Callina juga membantah anggapan bahwa produk lokal hanya layak dibeli karena alasan nasionalisme. Pasar tidak bekerja dengan slogan semata. Konsumen memilih Callina karena kualitasnya dapat dirasakan langsung: manis, praktis, menarik, dan mudah ditemukan. Dengan kata lain, varietas ini berhasil karena ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan sehari-hari.


Namun, mutu saja tidak cukup untuk menjaga identitas. Ketika pemasaran lebih memilih nama “California”, masyarakat menikmati buahnya tanpa mengenal perjalanan ilmiah di belakangnya. Nama Sriani Sujiprihati pun tidak sepopuler pepaya yang ia bantu lahirkan. Ini menunjukkan bahwa kita masih lebih akrab dengan hasil akhir ketimbang proses panjang yang membuat hasil itu mungkin terjadi.


Warisan Sriani sesungguhnya tidak hanya berupa satu varietas pepaya. Ia adalah bukti bahwa penelitian pertanian dapat hadir sangat dekat dengan kehidupan rakyat. Hasil kerja di kebun percobaan dan laboratorium dapat berubah menjadi pendapatan bagi petani, pilihan bagi konsumen, serta kekuatan ekonomi bagi daerah.


Pepaya California, atau lebih tepatnya Callina, mengajarkan satu hal sederhana: karya Indonesia tidak selalu kalah dari produk luar. Kadang ia sudah tumbuh di kebun sendiri dan dijual di pasar sendiri. Yang sering tertinggal hanyalah keberanian untuk menyebut namanya dengan benar, menghargai proses ilmiahnya, dan menjaga identitasnya agar tidak hilang di balik label yang lebih menjual.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (300) kepegawaian (179) serba-serbi (108) hukum (101) oase (101) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (64) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)