Ada banyak alasan seseorang bertahan di sebuah kota. Pekerjaan, sekolah anak, rumah yang sudah dicicil bertahun-tahun, atau barangkali karena di sana tinggal orang-orang yang dicintai. Namun, ada alasan lain yang tampak remeh, tetapi sering kali lebih jujur, misalnya kota itu punya makanan yang membuat kita betah pulang.
Bukan semata restoran mahal dengan daftar menu yang sulit dibaca. Yang membuat kota terasa akrab justru sering berupa hal-hal sederhana, seperti nasi pecel di dekat kantor, mi ayam yang kuahnya selalu pas ketika hujan, kopi sachet dari gerobak kecil di depan stasiun, atau warteg yang pemiliknya sudah hafal bahwa kita tidak suka sambal terlalu banyak.
Di tengah ritme kota yang tergesa-gesa, makanan menjadi jeda. Ia memberi kesempatan kepada warga untuk berhenti sejenak dari rapat, macet, tagihan, target kerja, dan berita politik yang kadang lebih melelahkan daripada perjalanan pulang. Sepiring nasi hangat tidak menyelesaikan semua masalah, tetapi ia cukup untuk mengembalikan tenaga dan, kadang, kewarasan.
Dalam kajian tentang kota, pengalaman semacam ini kerap disebut urban foodscape, yakni lanskap makanan yang membentuk cara warga mengalami ruang hidupnya. Kota tidak hanya dibaca melalui gedung, jalan layang, taman, atau pusat perbelanjaan. Kota juga dikenali melalui aroma bawang goreng, kepulan asap sate, bunyi ulekan sambal, antrean bakso, hingga teriakan penjual nasi goreng menjelang tengah malam.
Bagi warga Indonesia, penanda waktu sering kali justru datang dari makanan. Pagi dibuka suara penjual bubur atau roti keliling. Menjelang siang, warung makan mulai ramai oleh pekerja yang mencari menu cepat dan murah. Sore hari, gerobak gorengan mengambil alih sudut jalan. Malam ditutup aroma mi tek-tek, martabak, atau sate yang mengepul dari tenda-tenda kaki lima. Artinya, makanan bukan hanya barang dagangan. Ia adalah jam sosial kota.
Di warung kecil, perbedaan kelas juga kerap mencair. Pegawai kantor, pengemudi ojek daring, mahasiswa, pekerja proyek, dan warga sekitar dapat duduk berdekatan di meja yang sama. Mereka mungkin tidak saling mengenal, bahkan tidak berbicara, tetapi sama-sama menunggu pesanan sambil mengipas lalapan atau mengaduk es teh. Dalam ruang sesederhana itu, kota terasa lebih setara daripada di lobi gedung perkantoran atau mal yang dingin dan berkilau.
Susan Parham, penulis Food and Urbanism, menyebut makanan sebagai unsur penting kota yang ramah dan hidup. Ruang makan publik, seperti pasar, warung, dan pedagang kaki lima, bukan hanya menyediakan pangan, tetapi juga menciptakan perjumpaan. Di sana, warga tidak hadir sebagai angka dalam statistik penduduk, melainkan sebagai manusia yang punya selera, kebiasaan, dan cerita.
Pengalaman itu terasa kuat di kota-kota Indonesia. Di satu ruas jalan, kita bisa menemukan pecel Madiun, soto Lamongan, nasi Padang, mi ayam Wonogiri, sate Madura, pempek Palembang, dan gudeg Yogyakarta. Keberagaman menu tersebut bukan sekadar pilihan kuliner. Ia adalah catatan perpindahan manusia, sejarah merantau, perkawinan budaya, dan kemampuan kota menerima orang dari berbagai daerah.
Seporsi makanan sering menyimpan perjalanan panjang. Pecel Madiun yang dijual di Jakarta, misalnya, bukan hanya soal daging dan bumbu kacang. Di baliknya ada keluarga perantau, jaringan pasokan, tenaga kerja, serta pengetahuan memasak yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Begitu pula mi ayam, sate kambing, nasi uduk, ketoprak, atau pecel lele. Makanan jalanan adalah arsip hidup yang tidak disimpan di museum, tetapi terus diproduksi setiap hari.
Karena itu, pedagang kaki lima tidak seharusnya selalu dilihat sebagai gangguan ketertiban kota. Tentu, kebersihan, keamanan pangan, dan penggunaan ruang publik perlu diatur. Namun, penataan tidak boleh berarti pengusiran. Ketika warung dan gerobak hilang dari kota, yang lenyap bukan hanya pilihan makanan murah, melainkan juga ruang perjumpaan warga.
Ramainya pedagang makanan jalanan menunjukkan bahwa sektor ini bukan semata ekonomi informal. Ia menjadi bagian dari sistem pangan kota: menyediakan makanan terjangkau, dekat dengan permukiman dan tempat kerja, sekaligus menopang kehidupan banyak keluarga. Pelajaran itu relevan bagi kota-kota Indonesia yang masih sangat bergantung pada warung kecil dan pedagang keliling.
Perubahan teknologi juga membuat lanskap makanan kota semakin menarik. Dulu, pelanggan datang membawa uang tunai dan menunggu pesanan. Kini, penjual gorengan pun bisa menerima QRIS. Warung kecil dapat memanfaatkan aplikasi pesan antar. Pelanggan dapat memesan nasi goreng dari rumah tanpa harus keluar menghadapi hujan atau kemacetan.
Kota yang baik bukan hanya kota dengan jalan lebar dan gedung tinggi. Kota yang baik adalah kota yang memberi ruang bagi warganya untuk makan dengan layak, murah, aman, dan manusiawi. Kota yang tidak menyingkirkan warung kecil demi tampilan seragam, tetapi merawatnya sebagai bagian dari identitas.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya