Membaca Dunia

Kamis, 27 Agustus 2026

Laut menelan begitu banyak hal. Ada manusia, kapal, rempah-rempah, surat cinta, catatan dagang, juga rahasia kerajaan. Pada suatu pelayaran dari Asia menuju Portugal, sebuah kapal yang membawa kiriman Alfonso de Albuquerque tenggelam di tengah perjalanan. Bersama lambung kapal yang pecah dan muatan yang karam, ikut hilang sebuah peta istimewa: peta bertuliskan huruf Jawa.


Tak ada yang tahu persis di titik mana peta itu lenyap. Mungkin ia robek dihantam ombak. Mungkin tinta huruf Jawanya larut sebelum sempat dibaca di istana Raja Portugal. Mungkin pula ia kini tinggal sebagai serpihan yang membusuk di dasar laut, bercampur dengan kayu kapal dan keramik dagang. Tetapi sebelum tenggelam, peta itu telah menyampaikan satu kabar penting kepada dunia Eropa: orang-orang nusantara tidak memasuki laut dengan mata tertutup.


Alfonso de Albuquerque adalah pemimpin armada Portugis yang merebut Malaka pada tahun 1511. Penaklukan itu membuka jalan bagi Portugis untuk memasuki jaringan perdagangan Asia Tenggara yang telah ramai berabad-abad. Mereka datang untuk mencari rempah-rempah, tetapi juga menemukan sesuatu yang tidak kalah penting: pengetahuan maritim penduduk kepulauan.


Dalam Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17, sejarawan Adrian B. Lapian mencatat bahwa bangsa Portugis mengetahui keberadaan peta-peta lokal pada awal abad ke-16. Peta dengan huruf Jawa yang dikirim Albuquerque menjadi petunjuk kecil, tetapi kuat, bahwa pengetahuan geografis di nusantara telah berkembang. Laut bukan ruang asing yang hanya dapat ditaklukkan dengan teknologi Eropa. Ia telah lama dibaca, dihafal, dan dilayari oleh para pelaut dari Jawa, Bugis, Melayu, Makassar, Maluku, dan banyak komunitas lain.


Peta nusantara pada masa itu tentu tidak serupa atlas modern. Ia mungkin tidak memakai garis lintang-bujur, skala baku, atau batas wilayah yang rapi. Namun, ketidakhadiran koordinat bukan berarti ketiadaan pengetahuan. Pelaut tradisional mengenali arah angin, musim, arus, warna air, bentuk pantai, gugusan karang, posisi bintang, hingga kebiasaan burung laut. Pengetahuan itu sering diwariskan melalui pengalaman, cerita, nyanyian, dan ingatan kolektif.


Sejarawan Uji Nugroho Winardi menyebut adanya konsep ruang tradisional yang disebut sak pandelengan, yakni sejauh sapuan mata memandang. Dalam cara pandang ini, ruang tidak pertama-tama ditentukan oleh garis batas yang kaku. Kekuasaan seorang raja dapat dibayangkan sejauh wilayah yang bisa diawasi, dijangkau, atau membuat orang-orang di dalamnya mengakui kekuasaannya.


Karena itu, kerajaan-kerajaan maritim di nusantara tidak selalu memiliki perbatasan seperti negara modern. Kekuasaan lebih mirip jaring daripada kotak. Ia bertumpu pada pelabuhan, jalur perdagangan, sungai, selat, dan hubungan kesetiaan. Sebuah pulau mungkin berada dalam pengaruh satu kerajaan pada musim tertentu, tetapi berhubungan dagang dengan kerajaan lain pada musim berikutnya. Laut bukan pemisah, melainkan penghubung.


Kedatangan bangsa Eropa perlahan mengubah cara melihat ruang itu. Peta menjadi alat yang lebih keras. Ia digunakan untuk mengukur, membagi, mengklaim, dan menguasai. Pada tahun 1594, Petrus Plancius membuat peta Insulae Moluccae Celeberrimae, yang menggambarkan Maluku sebagai pusat rempah-rempah dunia. Peta tersebut bukan hanya karya kartografi. Ia juga alat promosi dagang bagi para pemodal Belanda.


Di atas peta, Maluku tampak sebagai gugusan pulau kecil yang dapat dijangkau dan dikuasai. Cengkih dan pala berubah menjadi komoditas yang dapat dihitung dalam angka keuntungan. Jarak laut yang berbahaya berubah menjadi peluang investasi. Dengan kata lain, peta membantu mengubah pengetahuan geografis menjadi modal.


Di sinilah kartografi bertemu dengan kolonialisme. Sebelum wilayah ditaklukkan dengan senjata, ia sering lebih dulu digambar. Sebelum tanah dikuasai perusahaan, ia dipetakan. Sebelum penduduk dikenai pajak, mereka dicatat dalam wilayah administrasi. Peta memberi kesan bahwa dunia dapat disederhanakan menjadi garis, warna, dan nama-nama tempat.


Padahal, setiap garis batas menyimpan cerita. Ada perang, perjanjian, survei, sengketa, dan pemindahan penduduk di belakangnya. Nama-nama geografis pun tidak netral. Toponimi dapat menyimpan jejak kekuasaan: nama yang dipertahankan, nama yang diganti, serta nama lokal yang hilang karena dianggap tidak sesuai dengan bahasa administrasi kolonial.


Itulah sebabnya peta seharusnya tidak hanya diperlakukan sebagai ilustrasi dalam buku sejarah. Peta adalah dokumen politik. Peta laut Bugis dapat membantu memahami jaringan pelayaran lokal. Peta kolonial dapat membuka kisah pembentukan kota, pembukaan perkebunan, hingga lahirnya batas-batas daerah yang kini kita anggap alamiah.


Indonesia hari ini masih menghadapi persoalan yang sama: jumlah pulau terus diperbarui, batas laut dinegosiasikan, dan konflik tanah kerap bermula dari peta yang berbeda. Negara membawa peta sendiri, perusahaan membawa peta sendiri, sementara warga sering membawa ingatan tentang batas yang diwariskan turun-temurun.


Peta bertuliskan huruf Jawa yang karam bersama kapal Portugis itu memang telah hilang. Namun, kisahnya bertahan sebagai pengingat: jauh sebelum peta modern datang bersama kolonialisme, Nusantara telah memiliki cara sendiri untuk membaca ruang. Laut bukan halaman kosong. Ia adalah arsip besar, dan orang-orang kepulauan telah lama belajar membacanya.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (300) kepegawaian (179) serba-serbi (118) hukum (101) oase (101) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (64) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)