Gerson Poyk adalah salah satu sastrawan Indonesia. Gerson lahir di Namodeale, Rote, pada 16 Juni 1931. Ia tumbuh dari wilayah yang jauh dari pusat penerbitan, pusat kekuasaan, dan pusat perbincangan sastra Indonesia. Ketika Jakarta menjadi panggung utama politik dan kebudayaan, Nusa Tenggara masih kerap dipandang sebagai daerah yang lebih sering muncul dalam laporan pembangunan ketimbang percakapan sastra. Gerson datang dari ruang yang demikian, tetapi ia tidak menulis dengan nada meminta belas kasihan kepada pusat. Ia menulis dengan mata yang tajam, lidah yang jenaka, dan keberanian untuk memperlihatkan bahwa pusat pun sering kali sama konyolnya dengan pinggiran yang gemar diremehkan.
AS Laksana, cerpenis dan kolumnis, mengenang perjumpaan pertamanya dengan Gerson melalui cerpen Matias Akankari. Cerita itu dimuat dalam Laut Biru Langit Biru, antologi yang disusun Ajip Rosidi dan memuat karya-karya sastra Indonesia dalam rentang 1966–1976. Bagi AS Laksana yang saat itu masih pelajar SMA, Gerson terasa berbeda karena cara bertuturnya yang lincah. Matias Akankari mengisahkan seorang lelaki dari pedalaman Irian Jaya yang berhadapan dengan kehidupan Jakarta. Namun, cerita itu tidak memakai pola lama: orang dari daerah datang ke kota, lalu takjub pada kemajuan.
Yang terjadi justru sebaliknya. Jakarta dipandang dari mata orang luar, dan hasilnya tidak selalu menyenangkan bagi warga kota. Dalam pembacaan AS Laksana, cerita itu menyampaikan ironi bahwa kehidupan kelas atas Jakarta tidak otomatis lebih beradab daripada kehidupan yang oleh orang kota disebut “primitif”. Orang-orang di pusat kekuasaan boleh memakai pakaian mahal, berbicara dengan istilah modern, dan tinggal di gedung bertingkat. Namun, dalam kerakusan, kesombongan, serta cara memperlakukan manusia lain, mereka bisa saja sama telanjangnya.
Di situlah Gerson bekerja sebagai pengarang. Ia tidak membangun kritik sosial lewat kalimat-kalimat yang mengacungkan telunjuk. Ia memakai humor. Tawa menjadi alat untuk membongkar kepalsuan. Pembaca dibuat tersenyum, kemudian merasa sedikit tidak nyaman karena menyadari bahwa yang sedang ditertawakan mungkin adalah dirinya sendiri.
Pilihan itu penting dalam tradisi sastra Indonesia. Sejak masa kolonial, banyak karya sastra kita tumbuh dari pengalaman ketimpangan. Ketimpangan antara penjajah dan terjajah, kaya dan miskin, kota dan desa, pusat dan daerah. Namun, penderitaan sering disajikan dengan nada muram. Orang miskin menjadi tokoh yang terus-menerus kalah, perempuan menjadi korban yang tak berdaya, dan kampung menjadi latar yang hanya pantas dikasihani. Gerson tidak sepenuhnya mengikuti jalur itu.
Tokoh-tokoh dalam cerpennya memang sering berasal dari lapisan bawah. Mereka miskin, terdesak, dan hidup dalam keadaan yang tidak selalu memberi pilihan. Namun, mereka tidak kehilangan kelucuan. Mereka tetap bisa mengejek, mengakali keadaan, bergurau, dan memelihara harga diri. Kemiskinan dalam karya Gerson bukan pajangan sentimental. Ia adalah kenyataan keras yang dihadapi manusia-manusia yang masih memiliki kecerdikan.
Itulah sebabnya kumpulan cerpennya, Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk, meninggalkan kesan kuat bagi AS Laksana. Gerson mampu menulis kemiskinan dengan cara yang “gagah dan lucu”. Dua kata itu penting. Gagah berarti tidak merendahkan tokoh-tokohnya menjadi objek belas kasihan. Lucu berarti tidak membiarkan kesedihan berubah menjadi lumpur melodrama yang menenggelamkan segala hal.
Gerson menulis pada masa ketika Indonesia mengalami pergolakan politik dan kebudayaan besar. Dekade 1960-an hingga 1970-an adalah masa ketika sastra ikut terseret dalam pertarungan ideologi, pembelahan politik, dan luka kekerasan pasca-1965. Dalam situasi semacam itu, suara dari luar Jakarta menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa Indonesia bukan hanya cerita tentang elite politik, rapat kebudayaan, dan pertengkaran ideologi di ibu kota. Indonesia juga terdiri dari kampung-kampung, pulau-pulau kecil, guru-guru, petani, pekerja, dan orang-orang biasa yang menjalani hidup dengan segala kelucuan serta kesulitannya.
Humor Gerson tampaknya bukan hanya strategi estetika, melainkan juga watak hidup. Dalam kenangan AS Laksana, ia adalah orang periang yang gemar mengerjai teman. Ia pernah menyebarkan kabar palsu tentang pinjaman koperasi seniman, lalu membiarkan kabar itu berputar dari satu penulis ke penulis lain hingga akhirnya kembali kepadanya. Ketika ia datang untuk mengambil “jatah” pinjaman, bendahara koperasi tentu kebingungan karena pengarang kabar itu adalah Gerson sendiri.
Anekdot itu menjelaskan sesuatu tentang pengarangnya. Gerson tidak memisahkan hidup dari humor. Bahkan ketika usia telah lanjut dan tubuhnya pernah diserang stroke, ia masih menyebut penyakit itu sebagai tamu menjengkelkan yang harus diusir jauh-jauh. Ia menghadapi hidup bukan dengan penyangkalan, tetapi dengan keberanian untuk tidak menyerahkan diri kepada kesuraman.
Gerson Poyk meninggal pada 24 Februari 2017. Namun, karya-karyanya tetap relevan ketika kita hidup dalam zaman yang gemar memamerkan kemiskinan sebagai tontonan. Di layar televisi dan media sosial, penderitaan sering dipotong menjadi gambar singkat: rumah reyot, anak lapar, air mata, bantuan datang, lalu selesai. Gerson mengingatkan bahwa manusia miskin bukan sekadar wajah sedih untuk membangkitkan iba. Mereka memiliki suara, humor, kemarahan, kecerdikan, dan martabat.
Dari pinggiran Indonesia, Gerson Poyk mengajarkan satu hal yang tidak kecil. Tawa dapat menjadi bentuk perlawanan. Ia bukan cara untuk melupakan luka, melainkan cara agar luka tidak sepenuhnya memenangkan hidup.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya