Meninggalkan Buku

Rabu, 16 September 2026

Ada ungkapan lama yang berbunyi, verba volant, scripta manent—kata-kata yang diucapkan akan berlalu, tetapi tulisan akan tetap tinggal. Sejarah peradaban manusia berkali-kali membuktikan kebenaran pepatah itu. Bangunan dapat runtuh, kerajaan dapat lenyap, perusahaan dapat bangkrut, tetapi buku sering kali hidup jauh melampaui penciptanya. Kisah G. Kolff & Co. adalah salah satu buktinya.


Hari ini, jika berjalan di kawasan Kota Tua Jakarta, hampir tak ada jejak yang menunjukkan bahwa di sana pernah berdiri penerbit dan toko buku terbesar di Hindia Belanda. Orang-orang mungkin melewatinya tanpa pernah tahu bahwa dari tempat itulah ribuan buku pernah menyebarkan ilmu pengetahuan ke berbagai penjuru Nusantara.


Namun, perusahaan itu belum benar-benar hilang. Ia masih hidup di halaman-halaman buku yang tersimpan di perpustakaan, arsip, dan koleksi para peneliti.


Didirikan dari sebuah toko buku kecil pada tahun 1848 oleh Willem van Haren Noman, perusahaan ini berkembang pesat setelah dikelola Gualtherus Johannes Cornelis Kolff. Dalam beberapa dekade, G. Kolff & Co. menjelma menjadi jaringan penerbitan, percetakan, dan toko buku terbesar di Hindia Belanda dengan cabang di berbagai kota seperti Semarang, Surabaya, Madiun, Kediri, Malang, hingga Jember.


Pertumbuhannya bukanlah kebetulan. Abad ke-19 merupakan masa berkembangnya pendidikan kolonial. Sekolah-sekolah mulai bermunculan, kebutuhan buku meningkat, dan budaya cetak perlahan menggantikan tradisi lisan. G. Kolff membaca peluang itu. Mereka menerbitkan buku pelajaran, karya sastra, laporan penelitian, buku pertanian, etnografi, sejarah, hingga catatan perjalanan. Bahkan, perusahaan ini ikut menerbitkan buku-buku berbahasa daerah, termasuk bahasa Sunda, yang berperan dalam perkembangan pendidikan di Nusantara.


Dalam sejarah penerbitan Indonesia, nama G. Kolff sejajar dengan Balai Pustaka sebagai salah satu aktor penting yang membentuk budaya baca masyarakat. Yang menarik, penerbit ini tidak hanya menerbitkan penulis Eropa. Sejumlah tokoh bumiputra juga mempercayakan karyanya kepada G. Kolff. Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat diterbitkan melalui kerja sama dengan Balai Pustaka. Karya-karya R. Kartawibawa, seorang pendidik dan kerabat keluarga Soekarno, juga lahir melalui penerbit ini. Setelah Indonesia merdeka, nama-nama seperti Johannes Leimena dan Abdul Muis pun masih menerbitkan buku melalui G. Kolff.


Akan tetapi, sejarah tidak selalu ramah terhadap dunia buku. Memanasnya hubungan Indonesia dan Belanda akibat sengketa Irian Barat berujung pada nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda pada akhir tahun 1950-an. G. Kolff & Co. ikut menjadi korban gelombang tersebut. Namanya dihapus, asetnya diambil alih negara, lalu dilebur menjadi PN Gita Karya. Berakhirlah perjalanan perusahaan yang telah hidup lebih dari satu abad.


Ironisnya, yang paling lama bertahan justru bukan gedung, mesin cetak, ataupun nama perusahaannya. Yang bertahan adalah buku.


Hal ini mengingatkan kita pada kisah Perpustakaan Alexandria di Mesir. Ketika perpustakaan terbesar dunia kuno itu musnah akibat perang dan kebakaran, banyak orang mengira pengetahuan yang tersimpan di dalamnya ikut lenyap. Ternyata tidak seluruhnya. Sebagian naskah telah disalin ke berbagai wilayah sehingga pemikirannya tetap hidup. Bangunan boleh hancur, tetapi gagasan menemukan jalannya sendiri.


Demikian pula dengan G. Kolff. Gedungnya mungkin telah rata dengan tanah, tetapi ribuan buku yang diterbitkannya masih menjadi sumber rujukan para sejarawan hingga kini. Bahkan, sebagian koleksinya masih dirawat secara khusus oleh perpustakaan dengan laboratorium konservasi karena nilai sejarahnya sangat tinggi.


Di tengah era digital, kisah ini terasa semakin relevan. Hari ini kita hidup dalam banjir informasi. Setiap hari jutaan unggahan lahir di media sosial, tetapi hanya sedikit yang akan bertahan sepuluh tahun mendatang. Tautan internet menghilang, situs web ditutup, format digital berubah, dan arsip elektronik perlahan menjadi usang. Sebaliknya, buku yang dicetak lebih dari seratus tahun lalu masih dapat dibaca hingga sekarang.


Bukan berarti buku cetak lebih unggul daripada media digital. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Namun, sejarah mengajarkan bahwa peradaban membutuhkan keduanya. Teknologi untuk memperluas akses, dan pelestarian untuk menjaga ingatan.


Milan Kundera pernah menulis bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Buku merupakan salah satu bentuk paling kokoh dari ingatan itu. Ia menyimpan gagasan, pengalaman, bahkan semangat suatu zaman.


Karena itulah, kisah G. Kolff & Co. sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang sebuah perusahaan penerbitan yang tutup akibat nasionalisasi. Ia adalah pengingat bahwa umur sebuah institusi mungkin terbatas, tetapi nilai sebuah buku bisa melampaui zamannya.


Gedung boleh runtuh. Nama perusahaan boleh berganti. Mesin cetak bisa berkarat. Namun, selama masih ada orang yang membuka halaman-halamannya, sebuah buku akan terus menghidupkan mereka yang telah tiada. Ibarat pepatah gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, maka G. Kolff & Co. mati meninggalkan buku.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (300) kepegawaian (179) serba-serbi (131) oase (104) hukum (101) saat kuliah (71) pustaka (69) tentang ngawi (64) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)