Budaya Literasi

Kamis, 17 September 2026

Ketika berbicara tentang budaya membaca, pembahasan kita sering berhenti pada satu pertanyaan sederhana, mengapa masyarakat Indonesia kurang gemar membaca? Jawaban yang muncul pun nyaris seragam. Karena jumlah buku kurang, harga buku mahal, atau kualitas bacaan belum memadai. Semua itu memang benar. Namun, seperti diingatkan oleh Ariel Heryanto, persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar buku. Yang perlu dibangun bukan hanya buku, melainkan seluruh ekosistem intelektual yang menghidupinya.


Sebuah buku besar tidak lahir dari kerja seorang penulis semata. Di belakang sebuah karya yang mengubah dunia, ada editor yang mengasah kalimat, penerbit yang berani mengambil risiko, desainer yang membuatnya menarik, penerjemah yang memperluas jangkauan pembaca, pustakawan yang merawatnya, toko buku yang mempertemukannya dengan pembaca, hingga pengulas yang menghidupkan kembali gagasan-gagasan di dalamnya. Buku sesungguhnya adalah hasil kerja kolektif sebuah peradaban.


Lihatlah bagaimana Das Kapital karya Karl Marx, The Origin of Species karya Charles Darwin, atau tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer terus dibaca lintas generasi. Yang membuat karya-karya itu bertahan bukan semata kualitas penulisnya, tetapi juga keberadaan jaringan intelektual yang terus mendiskusikan, menerjemahkan, mengkritik, dan memperkenalkannya kepada generasi baru.


Di Indonesia, kita sering mengukur kemajuan literasi dari jumlah buku yang diterbitkan setiap tahun. Padahal, buku hanyalah salah satu mata rantai. Sebuah buku yang hebat tidak akan berarti jika tidak ada pembaca yang kritis. Sebaliknya, pembaca yang haus pengetahuan juga akan kesulitan berkembang apabila tidak tersedia ruang diskusi, perpustakaan yang hidup, toko buku yang nyaman, media yang mengulas buku secara bermutu, dan komunitas yang menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup. Inilah yang dimaksud Ariel Heryanto sebagai ekosistem intelektual.


Dalam beberapa tahun terakhir, sebenarnya tanda-tanda optimisme mulai terlihat. Toko buku tidak lagi sekadar tempat membeli buku, melainkan menjadi ruang komunitas. Perpustakaan bertransformasi menjadi ruang kreatif. Komunitas membaca bermunculan di taman kota. Festival literasi digelar di berbagai daerah. Semua itu menunjukkan bahwa literasi tidak hanya tumbuh melalui ruang kelas, tetapi juga melalui ruang publik.


Namun, masih ada satu mata rantai yang sering luput dari perhatian, yakni penerjemah. Padahal, kemajuan peradaban mungkin diawali oleh gerakan penerjemahan. Pada abad ke-9, Bait al-Hikmah di Baghdad menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab. Beberapa abad kemudian, karya-karya itu diterjemahkan kembali ke bahasa Latin dan menjadi bahan bakar Renaisans Eropa.


Indonesia pun memiliki pengalaman serupa. Tulisan Als Ik Eens Nederlander Was karya Ki Hadjar Dewantara baru mengguncang pemerintah kolonial setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu sehingga dapat dibaca masyarakat luas. Demikian pula karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang dikenal dunia karena diterjemahkan ke berbagai bahasa. Artinya, penerjemah bukan sekadar pengalih bahasa. Ia adalah jembatan antarperadaban.


Ironisnya, profesi ini masih sering dipandang sebelah mata. Nama penerjemah bahkan kerap dicetak lebih kecil daripada nama penerbit. Padahal, kualitas sebuah terjemahan dapat menentukan apakah sebuah karya akan dicintai atau justru diabaikan.


Hal lain yang juga disoroti Ariel Heryanto adalah kondisi dunia akademik Indonesia. Kita sering menuntut dosen menghasilkan publikasi internasional, tetapi lupa menyediakan lingkungan yang memungkinkan hal itu terjadi. Penelitian tidak tumbuh hanya karena target angka kredit. Ia membutuhkan perpustakaan yang kaya koleksi, arsip yang mudah diakses, seminar yang hidup, kebebasan akademik, dan waktu yang cukup untuk berpikir.


Universitas-universitas terbaik dunia memahami hal itu. Mereka memberi kesempatan sabatikal kepada dosen, menyediakan dana penelitian, membuka akses jurnal internasional, dan membangun budaya diskusi yang sehat. Prestasi ilmiah bukan lahir dari tekanan administratif, melainkan dari iklim intelektual yang subur.


Pelajaran yang sama berlaku bagi masyarakat luas. Minat baca tidak dapat dipaksa melalui slogan atau lomba sesaat. Ia tumbuh ketika anak-anak melihat orang tuanya membaca di rumah. Ketika sekolah memiliki perpustakaan yang hidup. Ketika media massa rutin mengulas buku. Ketika toko buku menjadi ruang bertemu. Ketika penulis dihargai secara layak. Ketika pustakawan dipandang sebagai mitra belajar, bukan sekadar penjaga rak. Semua itu membutuhkan kesabaran.


Membangun budaya literasi tidak berbeda dengan menanam pohon. Bibit terbaik sekalipun tidak akan tumbuh jika tanahnya tandus. Sebaliknya, bibit biasa dapat menjadi pohon besar apabila dirawat dalam lingkungan yang baik.


Masa depan literasi Indonesia tidak cukup diukur dari berapa banyak buku yang diterbitkan setiap tahun. Ukuran yang lebih penting adalah apakah kita berhasil membangun sebuah ekosistem yang membuat buku terus dibaca, dibicarakan, diperdebatkan, diterjemahkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Seperti ditegaskan Ariel Heryanto, buku hanyalah satu unsur penting dalam pendidikan. Dan pendidikan sendiri hanyalah satu bagian dari pembangunan peradaban. Sebuah bangsa akan menuai apa yang selama bertahun-tahun ia tanam dan rawat. Jika yang dirawat hanyalah bukunya, sementara ekosistemnya dibiarkan layu, maka peradaban akan sulit bertumbuh. Namun jika seluruh mata rantai itu dipelihara bersama, buku tidak hanya menjadi benda yang dibaca, melainkan benih yang terus melahirkan pengetahuan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (300) kepegawaian (180) serba-serbi (173) oase (104) hukum (102) pustaka (71) saat kuliah (71) tentang ngawi (66) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (40) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)