Turun Paksa Bis Kota

Senin, 01 Oktober 2012

Suatu hari saya harus menghadiri acara penting di kampus UGM. Karena sendirian, saya putuskan naik bis saja, lebih murah. Berangkat dari rumah saya usahakan pagi agar tiba di Jogja tidak terlalu sore. Meskipun di Ngawi telah tersedia terminal baru yang sangat luas (tapi sangat sepi) saya mengambil pilihan menanti bis di terminal lama. Pilihan itu pula yang dilakukan sebagian besar penumpang bis di Ngawi. Lebih mudah dan praktis. 

Setelah agak lama datanglah bis Surabaya-Jogja. Tak disangka ternyata penuh, padahal ini bukanlah hari libur. Yah, akhirnya dengan kondisi penuh sesak, berdirilah saya berpegangan pada bangku penumpang sembari sesekali menepi jika ada pedagang asongan atau kernet yang melintas. Memasuki Sragen barulah saya mendapati bangku kosong. Jadi, paling tidak satu jam saya berdiri di dalam bis. Kesempatan duduk itu saya pergunakan sebaik-baiknya untuk memejamkan mata, meskipun susah untuk pulas.

Seperti biasa (maksudnya seperti biasa dulu waktu kuliah) saya tak turun di terminal tapi di pertigaan Janti. Kalau harus ke terminal untuk menuju kampus UGM terlalu jauh. Belum lagi bis kotanya juga tidak mengambil rute terdekat seperti kalau kita menggunakan kendaraan pribadi. Turun dari bis banyak tukang ojek menawarkan jasa. Dulu sepertinya tak sebanyak itu. Saya tolak karena saya sudah berniat untuk naik bis kota saja, lebih murah. Cukup menyeberang jalan menunggulah saya di sana, bersama beberapa ibu setengah baya.

Dulu (dulu itu maksudnya ya sekitar 10 tahun yang lalu) setiap saya turun dari bis Surabaya-Jogja dan menyeberang jalan, di sana pasti sudah menanti bis kota jurusan 7. Kadang-kadang malah ada dua. Bis jalur7 itulah yang siap mengantar ke kampus UGM. Tapi kali ini saya mengalami keanehan. Tidak ada bis kota sama sekali. Ah, paling-paling sedang belum sampai, pikir saya.


10 menit, 20 menit, 30 menit, saya mulai was-was. Sepertinya ada yang tidak beres nih. Tidak seperti biasanya selama ini (sekali lagi saya masih memakai standar dulu waktu jaman kuliah). Hampir satu jam saya menunggu. Saya mulai mempertimbangkan untuk menggunakan jasa ojek atau taksi, hingga akhirnya si jalur 7 itu pun nongol dari arah selatan. Alhamdulillah. Bismillah. Hup... naiklah saya.

Berapa tarifnya? Saya cari-cari di sekitar jendela dan pintu, biasanya ada stiker tarif. Tapi tidak ada. Saya kasih saja uang 5.000 kepada kernet, ternyata tarifnya 2.500 perak. Dulu di awal kuliah ongkos itu masih 150. Hehehe... jauh banget ya. Tapi tetap murahlah, jauh dekat tarifnya ya seperti itu. Biasanya malah ongkos untuk mahasiswa dan pelajar di bawah umum.

Sepertinya baru kali inilah saya mengalami penantian bis kota yang amat lama di Jogja. Kata teman saya yang saya nunuti untuk menginap, memang sepertinya jumlah armada bis kota berkurang banyak. Malah mungkin ada beberapa jalur yang sudah dihapus. Dulu seingat saya jalur bis itu sampai 15, dan sebagian saya pernah mencobanya. Memang saya perhatikan, waktu tiba di kampus UGM, jarang sekali terlihat bis kota. Barangkali juga sekarang sudah bayak orang yang menggunakan kendaraan pribadi, terutama motor. Selain itu juga ada bis Trans Jogja.

Pengalaman menunggu lama bis kota tidak berhenti sampai di situ saja. Masih ada beberapa pengalaman yang itu membuat saya agak kesal juga menggunakan bis kota. Esoknya acara yang  harusnya saya ikuti dengan jadwal dimulai jam 8 ternyata harus diundur ke jam 11. Ya Alah, berarti saya harus mengkalkulasi ulang kemungkinan tiba di rumah. Saya sudah tidak berniat bermalam lagi di Jogja, apalagi sudah pamitan kepada teman saya.

Acara selesai menjelang Asar. Sholat Dhuhur saya jamak dengan sholat Asar. Setelah makan siang menjelang sore di warung lesehan sekitar lembah UGM, saya putuskan mencegat bis kota. Tinggal menyeberang jalan, di depan Fakultas Hukum, tempat dulu saya menempuh pendidikan, berdirilah saya. Prinsinya, saya tak pilih-pilih bis kota, pokoknya seadanya bis itulah saya menyegatnya. Daripada lama nunggu bis jalur 7 atau jalur 4. Toh, semuanya berujung ke terminal juga.

Saya naik jalur 15, karena inilah yang pertama lewat di depan saya. Saya pastikan lagi, apa ke terminal, iya jawab kernetnya. Sesampai di perempatan Fakultas Kehutanan, si kernet menyarankan saya pindah bis di belakangnya, jalur 4. Lebih cepat sampai terminal katanya. Okelah, saya juga setuju. Pindahlah saya ke jalur 4. Jalur 4 ini dari dulu termasuk jalur favorit karena melewati Stasiun Tugu, Malioboro, Beringharjo, Gembira Loka.

Kalau saya pikirannya segera sampai terminal Giwangan, naik bis ke Ngawi, sampai di rumah dengan selamat. Tak terbersit untuk mendatangi beberapa lokasi wisata yang dilewati bis kota ini. Sebagian besar penumpang turun di Malioboro. Tinggal saya dan 2 orang perempuan yang ternyata turun di Taman Pintar. Berarti penumpang tinggal saya sendiri.

Hari semakin beranjak sore. Saya sudah berpikiran tak enak, jangan-jangan dioper, karena penumpang tingga satu, dan sore seperti ini armada akan dikandangkan. Dheg, dugaan saya benar. Waktu ditanya kernet hendak turun mana, saya jawab Giwangan. Sesaat kemudian ongkos saya dikembalikan. “Mas, turun sini aja ya, oper bis di belakang”. Yah, lagi-lagi dioper. Saya turun (dengan terpaksa sembari beristighfar dalam hati berkali-kali). Bis kota kencang melaju meninggalkan saya sendirian di pinggir jalan.

Bis operan yang saya tunggu ternyata tak datang-datang juga. Hampir satu jam barulah ada bis kota datang. Itu pun dengan kondisi penumpang berdesak-desakkan. Tak apalah yang penting bisa terangkut. Saya lupa jalur berapa, mungkin jalur 12. Sungguh tersiksa di dalam bis. Saya berdiri pas di pintu belakang, dengan hanya satu kaki. Satu kaki yang lain tak bisa diletakkan karena memang tak ada lokasi untuk meletakkannya. Sekitar setengah jam “penyiksaan” ini berlangsung, hingga akhirnya satu-persatu penumpang mulai turun. Akhirnya, duduk juga deh. Sesaat lagi akan tiba di Terminal Giwangan.

Pengalaman kurang enak dengan bis kota lagi-lagi terjadi, beberapa minggu kemudian. Saya harus ke Jogja lagi, ada keperluan penting yang harus saya selesaikan. Bis antar kota antar provinsi jurusan Surabaya-Jogya masih tetap menjadi pilihan untuk menuju Jogja. Mengingat pengalaman sebelumnya yang begitu lama menanti bis kota maka saya sudah berniat, begitu nanti tiba di Janti, kalau belum ada bis kota jalur 7 yang ngetem, maka saya akan naik ojek ke UGM. Iya, karena saya mesti berburu dengan waktu.

Eh, ternyata saat turun di Janti di seberang jalan telah menanti jalur 7. Hup, setengah berlari saya seberangi jalan, takut kalau-kalau bis kota meninggalkan saya. Pilihan naik ojek akhirnya tercoret. Nah, inilah pengalaman tak enaknya. Sesampai di perempatan Kentungan, kira-kira jalan Kaliurang Km 5,7 bis tidak menuju ke kampus UGM. Yah, seperti kejadian yang lalu, saya diturunkan di tengah perjalanan lagi. Tak jelas benar alasannya. Memang sih ongkos saya dikembalikan tapi lokasi tujuan saya lumayan jauh juga meskipun sama-sama jalan Kaliurang-nya.

Padahal dulu selama empat tahun lebih tinggal di Jogja, tak pernah saya diturunkan di tengah jalan. Yah, nasib-nasib. Inilah nasib penumpang bis, di kota yang berhati nyam-nyam. Menunggu lama, berdesak-desakkan, dan diturunkan “paksa” di tengah jalan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)