Stigma Teroris

Senin, 06 Agustus 2012

"Banyak orang berpendapat bahwa perang antara komunisme dengan Barat akan segera digantikan oleh perang antara Barat dengan Muslim." (William Pfaff)

Benarkah ramalan bahwa Islam dan Barat suatu saat akan mengalami perbenturan? Apakah Islam sebagai suatu keyakinan yang dipeluk oleh banyak manusia akan menjadi ancaman peradaban dan kepentingan bagi Barat? Inilah pertanyaan kritis saat ini.

Jauh sebelumnya pada tahun 1993, guru besar studi strategis pada Havard University, Samuel Huntington telah mengemukakan tesisnya yang sangat kontroversial, the Clash of Civilization. Ia memprediksikan akan terjadi ketegangan yang semakin parah antara peradaban Islam dan Barat pasca perang dingin.

Huntington mengemukakan lima alasan mengapa benturan peradaban menjadi sumber konflik. Pertama, perbedaan peradaban tidak hanya real, tapi juga mendasar. Kedua, dunia kini sudah kian menyempit sehingga interaksi antara orang yang berbeda peradaban akan semakin meningkat. Ketiga, peran Barat yang begitu dominan menimbulkan reaksi. Keempat, perbedaan budaya kurang bisa menyatukan, dibanding perbedaan ekonomi dan politik. Kelima, kesadaran peradaban bukanlah raison d’etre utama terbentuknya regionalisme politik atau ekonomi.

Tesis ini segera menimbulkan perdebatan di antara ilmuwan, bahkan sebagian kalangan menganggap tesis ini sebagai fantasi belaka. Orang-orang pun menganggap teori ini secara faktual maupun ilmiah lemah. Apalagi di dalam teori tersebut, dalam menghadapi Barat, Islam akan berkolaborasi dengan Konfusionisme. Namun terlepas dari krtitik-kritik yang disampaikan oleh tokoh-tokoh lain terhadap tesis Huntington, kita perlu menyadari bahwa ternyata Dunia Barat tampaknya was-was juga akan kebangkitan Islam.


Perang Dingin yang terjadi pada beberapa masa yang lalu kini telah berakhir. Perang itu melahirkan dua polar antara Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet dengan ideologi komunismenya berhadapan dengan Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan ideologi kapitalismenya. Sejalan dengan runtuhnya Uni Soviet sebagai salah satu dari dua kekuatan negara adi kuasa (super power) di dunia, maka berakhir pula Perang Dingin. Ancaman Merah dari dunia komunis sudah tidak diperhitungkan lagi oleh AS, dan sangat mungkin Islam yang akan dianggap sebagai ancaman bagi Barat, lebih-lebih Amerika Serikat, yang mengikrarkan diri sebagai polisi dunia satu-satunya.

“Bagi sebagian orang Amerika, yang mencari musuh baru guna menguji coba kekuasaan setelah runtuhnya komunisme, Islam adalah pilihannya. Namun menyatakan Islam sebagai musuh Amerika sama dengan menyatakan Perang Dingin kedua yang tidak mungkin berakhir dengan kemenangan gemilang.”(Patrick J. Buchanan, 1990).

Beberapa pemimpin negara Islam seringkali menolak dominasi Amerika Serikat yang berdalih untuk menegakkan Hak Asasi Manusia sehingga AS seringkali berlaku campur tangan di dalam negara-negara lain. Perubahan sikap kaum Muslim terhadap Barat, dari memuji dan meniru ke memusuhi dan menolak, oleh Bernard Lewis direduksi menjadi clash dua peradaban yang terpisah dan tersendiri. Dan Barat pun menuduh adanya fundamentalis Islam yang berencana melawan kehendak dan hegemoninya. Maka timbullah stereotipe: Islam lawan Barat, fundamentalisme lawan modernitas, tradisi yang statis lawan perubahan yang dinamis. (John L. Esposito, 1992).

Toleransi dan kebebasan disamakan dengan Barat, begitu pula liberalisme. Sedangkan non liberalisme dikaitkan dengan Islam. Islam dan Muslim digambarkan sebagi agresor, bahkan seringkali dikaitkan dengan terorisme dan anarkisme. Umat Islam dituduh sebagai orang-orang yang gemar berperang serta anti perdamaian, tidak toleran terhadap umat lain. Islam terus digunakan sebagai sesuatu yang jelek dalam tulisan para penulis Barat. Voltaire menggambarkan Nabi Muhammad sebagi tiran yang teokratis. Ernest Renan menuliskan bahwa Islam tidak sesuai dengan sains, dan bahwa kaum Muslim tidak mampu belajar ataupun membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru. Dan yang menggemparkan adalah karya Salman Rushdie dalam The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) yang pada akhirnya menyebabkan Ayatullah Khomeini dari Iran mengeluarkan fatwa mengutuk Rushdie, menghukum mati, dan menyerukan agar Rushdie dieksekusi.

Kini, tampaknya Islam muncul kembali sebagi kekuatan global yang kuat. Negara-negara Islam maupun berpenduduk mayoritas Muslim, para pemimpin dalam pemerintahan maupun tokoh-tokoh oposisinya menggunakan agama sebagai cara untuk mendapatkan legitimasi dari rakyat. Dari Sudan sampai Indonesia, para aktivis Islam menduduki posisi pemerintahan, dan organisasi-organisasi keagamaan serta partai-partai politiknya mendapat hati di kalangan masyarakat.

Kebangkitan Islam di belahan bumi ini tampaknya tidak mendapat “restu” dari Dunia Barat. Maka diciptakanlah istilah “fundamentalisme Islam”. Walaupun sebenarnya arti fundamental adalah kembali ke kepercayaan dasar, dalam hal ini berarti orang Islam menerima Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad sebagi model hidup normatif, namun persepsi orang Barat kata ini berarti ekstrimis. Acapkali dianggap secara umum mengacu kepada orang-orang yang literalis dan ingin kembali ke masa lalu.

Bagi banyak orang, akhirnya fundamentalis dipersepsikan dengan citra massa yang meneriakkan jihad melawan Amerika Serikat, pengeboman kedutaan besar, pembajakan pesawat terbang, pembakaran simbol-simbol Barat dan Yahudi. Dan akhirnya frame “fundamentalis Muslim” telah menjadi cara yang pas bagi media Barat dan pemerintahannya untuk menyamakannya dengan orang-orang yang menyebarkan teror atau dengan kata lain sebagai teroris. Hal ini diperkuat lagi dengan film-film di Barat tentang terorisme yang mana pelakunya berwajah Timur Tengah, sebagai simbolisasi bahwa ia orang Islam.

Tentu saja tuduhan yang diciptakan oleh Barat ini sangat subyektif dan diskriminatif. Islam sendiri adalah agama yang menganjurkan pemeluknya berlaku damai dan bersikap toleran. Islam pun melarang aksi-aksi yang dibarengi dengan kerusakan karena hal itu membuat ketakutan dan kerugian bagi orang lain.

Sebenarnya stereotipe yang diciptakan oleh Barat terhadap Islam di atas menunjukkan bahwa mereka tidak memahami Islam secara benar. Kalaupun ada orang yang beragama Islam melakukan perbuatan yang negatif, itu bukan berarti mewakili umat Islam secara keseluruhan. Islam sendiri berasal dari kata salima yang berarti selamat sentosa. Dari asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat. Kata aslama itulah yang menjadi pokok kata Islam, karena itu orang yang melakukan aslama atau masuk Islam dinamakan Muslim.

Tujuan Islam adalah kesejahteraan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Ia mengajarkan hubungan antara manusia dan Tuhannya di satu sisi (dimensi vertikal), dan di sisi yang lain mengatur manusia dengan sesamanya dan hubungannya dengan alam (dimensi horisontal). Jadi sebenarnya anggapan yang negatif tentang Islam itu hanyalah sesuatu yang mengada-ada saja.

1 komentar:

Islamic University of Indonesia mengatakan...

Terimakasih Infonya
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
:)
twitter : @profiluii

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)