Menjaga Jarak

Minggu, 19 Juli 2026

Di tengah banjir informasi dan hiruk-pikuk politik, saya sering bertanya: masih adakah intelektual yang berani menjaga jarak dari kekuasaan? Pertanyaan itu kembali muncul ketika membaca esai Kuntowijoyo tentang Umar Kayam yang dimuat Gatra pada 21 Juni 1997. Tulisan itu sesungguhnya bukan sekadar obituari atau penghormatan kepada seorang sahabat. Ia adalah renungan tentang keberanian yang kini terasa semakin langka.


Kuntowijoyo adalah sejarawan, sastrawan, sekaligus intelektual yang memberi warna penting dalam perkembangan historiografi Indonesia. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) ini dikenal sebagai penggagas konsep “Ilmu Sosial Profetik”, sebuah ikhtiar mempertemukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan transendensi. Sebagai sejarawan, ia menolak melihat sejarah hanya sebagai deretan peristiwa politik. Baginya, sejarah adalah ruang tempat gagasan, budaya, sastra, dan agama saling berkelindan membentuk perubahan sosial. Cara pandang itulah yang membuat tulisan-tulisannya terasa reflektif.


Sosok yang ditulisnya pun bukan figur biasa. Umar Kayam adalah budayawan lintas disiplin: sosiolog, cerpenis, novelis, akademisi, sekaligus birokrat yang pernah menjabat Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film pada awal Orde Baru. Setelah meninggalkan birokrasi, ia memilih kembali mengajar di UGM dan menghasilkan karya-karya sastra. 


Di kampus UGM, Umar Kayam dan Kuntowijoyo bukan sekadar kolega, melainkan sesama intelektual yang saling menghormati. Keduanya aktif dalam dunia akademik dan kebudayaan Yogyakarta, kerap berdialog dalam berbagai forum, serta sama-sama meyakini bahwa kebudayaan adalah fondasi penting bagi kehidupan bangsa. Karena itu, ketika Kuntowijoyo menulis tentang Umar Kayam pada tahun 1997, yang berbicara bukan hanya seorang pengamat, melainkan seorang sahabat yang memahami watak, pilihan hidup, dan integritas orang yang dikenangnya.


Kuntowijoyo membuka esainya dengan sebuah pernyataan yang sederhana, tetapi menghentak. Andaikan ia menulis biografi Umar Kayam, tema utamanya adalah keberanian. Bukan keberanian berorasi di depan massa, bukan pula keberanian merebut kekuasaan, melainkan keberanian mengatakan “tidak” ketika kekuasaan justru membuka pintunya.


Keputusan Umar Kayam meninggalkan jabatan Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film pada awal Orde Baru menjadi contoh yang dipilih Kuntowijoyo. Di saat banyak orang memandang birokrasi sebagai tangga menuju pengaruh dan prestise, Umar Kayam memilih kembali menjadi dosen dan menekuni dunia sastra. Ia menukar gemerlap kekuasaan dengan ruang kelas, buku, dan kebebasan berpikir.


Pilihan itu tampak biasa jika dilihat sekarang. Namun dalam konteks Indonesia akhir 1960-an, ketika negara sedang mengonsolidasikan kekuasaan dan jabatan birokrasi menjadi simbol keberhasilan, keputusan tersebut adalah tindakan yang tidak lazim. Barangkali justru karena tidak lazim itulah Kuntowijoyo menyebutnya sebagai keberanian.


Esai itu kemudian bergerak lebih jauh. Yang dipersoalkan bukan politik itu sendiri, melainkan kecenderungan ketika semua orang merasa harus masuk ke dalam politik praktis agar dianggap berguna. Kuntowijoyo menulis pada momentum Pemilu 1997, ketika banyak akademisi, seniman, ulama, dan budayawan direkrut menjadi juru kampanye. Baginya, persoalannya bukan soal hak politik mereka. Yang mengkhawatirkan adalah hilangnya ruang simbolik yang selama ini menjadi sumber kritik dan imajinasi bangsa.


Di sinilah letak gagasan paling menarik dalam esai tersebut. Sejarah, menurut Kuntowijoyo, tidak hanya digerakkan oleh partai politik atau negara. Ia juga dibentuk oleh sastra, seni, pendidikan, media, agama, dan kebudayaan. Nasionalisme Indonesia tidak lahir semata dari pidato politik, tetapi juga dari roman, puisi, lagu perjuangan, surat kabar, organisasi kepanduan, hingga ruang-ruang diskusi yang melahirkan kesadaran baru.


Pandangan itu mengingatkan kita bahwa perubahan sosial hampir selalu diawali oleh perubahan cara berpikir. Sebelum sebuah revolusi terjadi di jalanan, revolusi itu lebih dulu berlangsung dalam gagasan. Karena itulah Kuntowijoyo menghadirkan nama-nama seperti Ahmad Dahlan, Samanhudi, Marah Rusli, hingga Chairil Anwar. Mereka menjadi pembaru bukan karena memegang kekuasaan, melainkan karena berani keluar dari realitas zamannya dan membayangkan kemungkinan yang lain.


Membaca bagian ini hari ini terasa seperti bercermin. Kita hidup di masa ketika hampir semua hal diukur dari kedekatan dengan pusat kekuasaan. Akademisi berlomba menjadi pejabat, pakar menjadi juru bicara, budayawan menjadi konsultan politik, sementara ruang publik semakin dipenuhi suara yang seragam. Tidak ada yang keliru ketika seorang intelektual memilih masuk ke pemerintahan. Namun sebuah bangsa juga membutuhkan orang-orang yang tetap berdiri di luar lingkar kekuasaan agar kritik tidak kehilangan independensinya.


Kuntowijoyo bahkan membuat pembedaan yang tajam. Ilmuwan yang hanya sibuk dengan ilmunya sendiri hanyalah sarjana. Ilmuwan yang menjual ilmunya kepada satu golongan hanyalah klerek. Adapun intelektual sejati ialah mereka yang peduli pada persoalan bangsa tanpa kehilangan kebebasan berpikir.


Metafora yang ia gunakan sangat indah sekaligus mengena. Intelektual, tulisnya, seperti ikan yang hidup di air laut, tetapi tidak menjadi asin. Ia hidup di tengah masyarakat, memahami denyut politik, bahkan ikut memikirkan nasib bangsanya. Namun ia tidak larut menjadi corong kepentingan.


Itulah sebabnya Kuntowijoyo begitu mengagumi kejujuran Umar Kayam. Ia mengenang sebuah tulisan di pintu rumah sahabatnya, “Sapa durung sholat?” (Siapa belum sholat?”) Lalu Umar Kayam sendiri menunjuk ke arah dirinya sambil menjawab, “Kula” (“Saya”). Pengakuan sederhana itu menunjukkan sesuatu yang lebih besar, yaitu keberanian untuk jujur kepada diri sendiri.


Tiga dekade telah berlalu sejak esai itu ditulis. Indonesia telah berganti rezim, pemilu berlangsung lebih terbuka, dan kebebasan berekspresi jauh lebih luas. Namun pertanyaan yang diajukan Kuntowijoyo ternyata belum usang. Siapa yang akan menjaga kebebasan berpikir jika semua orang mengejar posisi dan seluruh perhatian tersedot ke dunia kekuasaan? 


Di situlah warisan terbesar Umar Kayam. Ia menunjukkan bahwa pengaruh tidak selalu lahir dari jabatan. Kadang, keberanian paling besar justru terletak pada kemampuan mengatakan “tidak”, lalu tetap setia mengerjakan apa yang diyakini penting bagi peradaban.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (282) kepegawaian (179) hukum (101) oase (101) serba-serbi (98) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (63) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)