Belajar dari Serbia

Sabtu, 25 Juli 2026

Sebuah atap stasiun kereta runtuh di Novi Sad, Serbia, pada November 2024. Enam belas orang meninggal. Sekilas, peristiwa itu tampak seperti kecelakaan konstruksi yang lazim terjadi di berbagai negara. Namun sejarah sering menunjukkan bahwa sebuah bangunan yang roboh dapat menjatuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada beton dan baja.


Hampir dua tahun kemudian, Presiden Aleksandar Vučić mengumumkan mengundurkan diri dan membuka jalan bagi pemilu lebih awal. Yang runtuh ternyata bukan hanya atap stasiun, melainkan juga legitimasi sebuah pemerintahan yang selama lebih dari satu dekade tampak begitu kokoh.


Menariknya, perubahan itu tidak dipimpin oleh jenderal, partai oposisi, ataupun kelompok bersenjata. Penggeraknya justru mahasiswa. Di situlah Serbia menghadirkan pelajaran sejarah yang menarik. Korupsi ternyata bukan hanya persoalan hukum. Ia dapat menjadi energi politik yang menggerakkan sebuah bangsa.


Bagi masyarakat Serbia, tragedi Novi Sad hanyalah puncak gunung es. Bangunan yang baru direnovasi beberapa tahun sebelumnya ambruk karena diduga lemahnya pengawasan proyek. Dugaan suap kepada pengawas konstruksi segera berkembang menjadi kemarahan publik terhadap praktik patronase yang dianggap mengakar dalam pemerintahan.


Anak-anak muda menjadi kelompok yang paling vokal. Mereka melihat korupsi bukan semata-mata membuat negara kehilangan uang, melainkan juga mencuri masa depan mereka. Korupsi akhirnya dipahami bukan lagi sebagai kejahatan elite, melainkan sebagai hambatan bagi mobilitas sosial generasi muda. Ketika prestasi tidak lagi menjadi jalan memperoleh pekerjaan, pendidikan kehilangan maknanya.


Dalam keadaan seperti itu, demonstrasi menjadi bentuk pertahanan terhadap masa depan. Gerakan mahasiswa Serbia juga memperlihatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Belgrade memiliki tradisi panjang perlawanan mahasiswa. Pada tahun 1968, mahasiswa Yugoslavia ikut bergabung dalam gelombang demonstrasi yang melanda Paris, Berlin, hingga Berkeley. Mereka menuntut sosialisme yang lebih demokratis.


Tiga dekade kemudian, mahasiswa kembali turun ke jalan menentang Slobodan Milošević. Gerakan Otpor menjadi simbol perlawanan sipil yang akhirnya berkontribusi pada tumbangnya rezim pada tahun 2000. Kepalan tangan hitam-putih milik Otpor kemudian bahkan menginspirasi berbagai gerakan pro-demokrasi di negara lain.


Karena itu, demonstrasi 2024–2026 sesungguhnya bukan peristiwa baru. Ia adalah bab terbaru dari tradisi panjang kaum muda Serbia yang memandang kampus sebagai ruang menjaga republik. Dalam sejarah dunia, mahasiswa memang sering menjadi “alarm demokrasi”. Mereka tidak memenangkan pemilu, tetapi berkali-kali berhasil mengingatkan masyarakat ketika institusi mulai kehilangan arah.


Indonesia mengalami hal serupa pada tahun 1966 dan 1998. Korea Selatan pada dekade 1980-an. Polandia melalui gerakan Solidarność. Bahkan Revolusi Beludru di Cekoslowakia juga lahir dari keberanian kaum muda.


Ada satu pola lain yang juga berulang dalam sejarah. Ketika demonstrasi membesar, pemerintah Serbia berulang kali menuduh adanya campur tangan asing. Presiden Vučić menyebut miliaran euro mengalir kepada organisasi masyarakat sipil dan kelompok oposisi. Nama filantropis George Soros ikut disebut. Pemerintah juga menggagas aturan yang memperketat pelaporan dana asing bagi lembaga swadaya masyarakat.


Benar atau tidak tuduhan tersebut, narasi seperti ini sesungguhnya bukan barang baru. Dalam Perang Dingin, hampir setiap gelombang protes dituduh sebagai operasi CIA atau KGB. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan sosial memang dapat dipengaruhi aktor luar. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa campur tangan asing tidak akan pernah berhasil apabila tidak ada kemarahan yang tumbuh dari dalam masyarakat sendiri. Api mungkin bisa ditiup angin dari luar, tetapi bara harus lebih dahulu menyala di dalam. Dalam kasus Serbia, bara itu adalah korupsi.


Yang menarik, pengunduran diri Vučić kemungkinan bukan akhir dari karier politiknya. Ia masih memiliki pengaruh besar dalam partai yang berkuasa dan berpeluang kembali sebagai perdana menteri. Di sinilah pelajaran sejarah berikutnya.


Mengganti pemimpin lebih mudah daripada memperbaiki institusi. Marcos pernah jatuh di Filipina, Ben Ali tumbang di Tunisia, Milošević lengser di Serbia. Namun pekerjaan sesungguhnya selalu dimulai setelah euforia berakhir: membangun negara yang lebih bersih, lebih adil, dan lebih dipercaya rakyatnya. Pada akhirnya, kemenangan terbesar mahasiswa Serbia bukanlah membuat seorang presiden mengundurkan diri.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (286) kepegawaian (179) hukum (101) oase (101) serba-serbi (99) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (63) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)