Belakangan ini pocong tampaknya sedang naik panggung lagi. Ia tidak keluar dari layar bioskop atau cerita ronda malam, melainkan dari media sosial. Ada video CCTV buram, rekaman jalan kampung yang remang-remang, hingga unggahan tentang “pocong begal” yang konon berkeliaran pada malam hari.
Cerita itu menyebar cepat. Dari Tangerang, Bekasi, dan Jakarta, lalu melompat ke sejumlah daerah di Jawa Timur. Warganet saling berbagi video, menambahkan cerita, dan menyisipkan peringatan bernada darurat. Seperti biasa, tombol “bagikan” bekerja lebih cepat daripada verifikasi.
Yang menarik, pocong modern ini justru banyak yang tertangkap. Di Kediri, misalnya, tiga remaja diamankan setelah berkeliaran dengan kostum pocong demi membuat konten media sosial. Di tempat lain, polisi menemukan video editan, pengamen berkostum pocong, hingga laporan yang tidak terbukti. Aparat di sejumlah daerah pun meminta masyarakat tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.
Namun, persoalannya mungkin bukan lagi apakah pocong itu nyata atau palsu. Pertanyaan yang lebih menarik ialah: mengapa cerita seperti ini begitu mudah dipercaya?
Seorang ibu di Jakarta Selatan yang diwawancarai media mengaku memilih pulang lebih cepat dari pengajian karena mendengar kabar tentang pocong jadi-jadian. Ia tidak melihat langsung. Temannya juga tidak. Tetapi rasa takut sudah cukup bekerja. Rumor bergerak seperti estafet tanpa garis finis.
Fenomena ini sebenarnya tidak baru. Indonesia punya sejarah panjang tentang sosok misterius yang hidup di persimpangan antara mitos dan kecemasan sosial. Kita pernah mengenal kolor ijo pada awal 2000-an. Lebih jauh ke belakang, ada “ninja” pada akhir 1990-an yang bahkan berkaitan dengan kekerasan nyata terhadap orang-orang yang dituduh dukun santet.
Dulu, rumor menyebar lewat obrolan pasar dan pos ronda. Kini penyebarnya bernama algoritma. Penelitian Monash University Indonesia menunjukkan bahwa topik pocong di media sosial bukan kampanye tunggal yang digerakkan satu pihak. Mayoritas percakapan justru berasal dari akun-akun biasa. Namun seperti api bertemu angin, isu itu membesar ketika disentuh akun besar dan influencer.
Di sini media sosial memainkan peran ganda. Ia bukan sekadar ruang bertukar informasi, melainkan juga mesin reproduksi emosi. Ketika satu video viral muncul, daerah lain segera merasa memiliki cerita serupa. Pocong yang awalnya lokal berubah menjadi nasional. Yang menyebar bukan hanya gambar, melainkan rasa.
Ketua Mafindo Mojokerto Raya, Cahya Suryani, menyebut fenomena ini sebagai bentuk penipuan informasi yang klasik. Produsen isu sebenarnya tidak sedang membangun ketakutan dari nol. Mereka hanya menyalakan bara lama yang sudah tersedia dalam imajinasi masyarakat.
Dan memang, pocong bukan figur asing bagi orang Indonesia. Ia hidup dalam cerita keluarga, film horor, dan folklore lokal. Banyak orang mungkin tak pernah melihat pocong, tetapi hampir semua mengenali simbolnya: kain kafan putih, malam hari, kuburan, dan kematian. Infrastruktur ketakutan itu sudah tersedia.
Karena itu, kabar tentang pocong sering tidak bekerja sebagai informasi, melainkan pemantik emosi. Orang belum tentu percaya sepenuhnya, tetapi cukup merasa tidak aman untuk ikut menyebarkannya.
Psikologi menyebut keadaan ini sebagai bias kognitif. Salah satunya ialah kecenderungan memercayai apa yang dilihat—seeing is believing. Gambar, betapapun buramnya, sering terasa lebih meyakinkan daripada penjelasan panjang. Hoaks visual karena itu bekerja sangat efektif.
Dosen sejarah Endi Aulia Garadian mengingatkan bahwa kemunculan makhluk-makhluk seperti ini sering hadir di tengah ketidakpastian sosial dan ekonomi. Ketika hidup terasa sulit dan rasa aman goyah, masyarakat cenderung mencari bentuk konkret bagi kecemasan yang sebenarnya abstrak.
Kecemasan itu lalu memakai wajah. Kadang wajahnya kolor ijo. Kadang ninja. Kini, mungkin pocong.
Pemikir sosial Erich Fromm pernah menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari rasa aman ketika berhadapan dengan ketidakpastian. Dalam situasi demikian, rasa takut bekerja sangat efektif. Stuart Hall bahkan mengingatkan bahwa sesuatu menjadi menakutkan bukan semata karena sifat alaminya, melainkan karena terus-menerus direpresentasikan sebagai ancaman.
Di media sosial, mekanisme itu bekerja cepat. Yang viral sering kali bukan yang paling benar, melainkan yang paling berhasil menyentuh emosi. Tentu, tidak semua ketakutan harus dibaca sebagai rekayasa atau konspirasi. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa ketakutan kolektif bisa dimanfaatkan, diperbesar, bahkan diarahkan untuk berbagai kepentingan—entah sensasi digital, keuntungan ekonomi, maupun pembentukan opini.
Karena itu, persoalan paling penting bukan apakah pocong itu ada atau tidak. Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapi rasa takut yang diproduksi dan disebarkan tanpa jeda. Sebab sesungguhnya yang paling mengkhawatirkan bukan pocong di ujung gang, melainkan ketika ketakutan sendiri menjadi viral dan kita membiarkannya berjalan tanpa pertanyaan. Di era media sosial, kadang bukan hantu yang gentayangan, melainkan imajinasi kolektif kita sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya