Kasidah

Selasa, 09 Juni 2026

Ada masanya ketika lagu Perdamaian dari Nasida Ria terdengar hampir di mana-mana. Dari radio tetangga, pengeras suara musala, hingga siaran televisi saat Ramadan. Bagi generasi 1970-an dan 1980-an, suara perempuan-perempuan berjilbab dari Semarang itu menjadi bagian dari lanskap bunyi Indonesia, sama akrabnya dengan lagu-lagu dangdut atau pop yang mengisi udara sore.


Namun tidak banyak yang tahu bahwa musik itu pernah menjadi bahan perdebatan serius. Kasidah modern pernah dituduh terlalu Arab, terlalu dangdut, terlalu modern, bahkan dianggap tidak cukup Islami. Anehnya, justru karena terus dipersoalkan, ia berhasil bertahan.


Pada tahun 1982, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menulis sebuah esai pendek berjudul Qashidah. Ia bercerita tentang kegelisahan seorang pengelola kursus musik yang mempertanyakan mengapa setiap acara Islam di TVRI selalu identik dengan kasidah atau gambus. Pertanyaannya sederhana tetapi mengandung daya ledak besar. Jika Islam bersifat universal, mengapa ekspresi musiknya harus selalu berwajah Arab?


Pertanyaan itu sesungguhnya bukan tentang musik. Ia menyentuh persoalan yang lebih dalam. Apakah sesuatu disebut Islami karena bentuknya atau karena nilai yang dikandungnya?


Gus Dur tidak menolak kasidah. Ia juga tidak menganggap budaya Arab sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Yang ia kritik adalah kecenderungan menyamakan Islam dengan simbol-simbol budaya tertentu. Bagi Gus Dur, pengalaman religius dapat hadir melalui berbagai bentuk kebudayaan. Keagungan Tuhan bisa dirasakan lewat musik Arab, tetapi juga melalui simfoni Beethoven. Tuhan terlalu besar untuk dikurung dalam satu genre musik.


Menariknya, beberapa tahun setelah esai itu ditulis, perdebatan yang sama muncul dalam dunia kasidah modern. 


Menurut catatan sejarah, kasidah modern mulai berkembang pada awal 1970-an ketika Agus Sunaryo dan kelompok Bintang-bintang Ilahi memasukkan instrumen modern seperti keyboard, gitar elektrik, dan bas ke dalam musik kasidah. Bersama penyanyi Rofiqoh Dharto Wahab, mereka memperkenalkan wajah baru musik dakwah yang lebih dekat dengan telinga masyarakat perkotaan. Dari sinilah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai kasidah modern.


Puncaknya terjadi ketika Nasida Ria muncul dari Semarang pada pertengahan 1970-an. Mereka tidak hanya menyanyikan pujian keagamaan. Lagu-lagu mereka berbicara tentang perdamaian dunia, pembangunan, kehidupan sosial, bahkan masa depan manusia. Di tangan Nasida Ria, dakwah tidak lagi hanya berkhotbah, tetapi juga berdialog dengan realitas sehari-hari.


Namun keberhasilan itu justru mengundang kritik. Sebagian ahli gambus menganggap kasidah modern telah merusak pakem musik Arab. Musisi Debby Nasution mengkritik pengaruh dangdut yang dianggap terlalu kuat. Sementara Emha Ainun Nadjib menilai kasidah modern terlalu sibuk mengurus tema-tema pembangunan seperti keluarga berencana dan transmigrasi sehingga kehilangan kedalaman spiritualnya.


Jika diperhatikan, kritik-kritik tersebut sebenarnya berangkat dari kegelisahan yang sama, yaitu apa batas antara agama dan budaya? Kapan sebuah bentuk seni masih bisa disebut sebagai media dakwah, dan kapan ia berubah menjadi sekadar hiburan? Pertanyaan itu terus berulang hingga hari ini.


Kini kita hidup di zaman ketika selawat diaransemen dengan musik elektronik, dakwah hadir dalam video pendek media sosial, dan lagu-lagu religi bersaing dengan tren digital. Sebagian orang melihatnya sebagai kemajuan, sebagian lain menganggapnya sebagai kemunduran. Perdebatan yang dahulu menyertai kasidah modern kini muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.


Namun sejarah tampaknya mengajarkan satu hal penting, bahwa kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang mampu berdialog dengan zamannya.


Kasidah modern bertahan bukan karena ia paling murni, melainkan karena ia berani berubah. Ia menyerap pengaruh baru tanpa sepenuhnya kehilangan akar lamanya. Sama seperti Islam di Indonesia yang tumbuh melalui perjumpaan panjang dengan budaya lokal, bahasa daerah, tradisi seni, dan pengalaman sosial masyarakatnya.


Di sinilah relevansi pemikiran Gus Dur. Islam tidak harus kehilangan identitas ketika berjumpa dengan modernitas. Sebaliknya, ia justru menunjukkan daya hidupnya melalui kemampuan beradaptasi. Yang perlu dijaga bukanlah bentuk luarnya semata, melainkan nilai yang dikandungnya.


Kasidah modern mungkin hanya sebuah genre musik. Tetapi di balik denting keyboard, irama rebana, dan suara para penyanyinya, tersimpan sebuah pelajaran penting tentang Indonesia, bahwa agama dan kebudayaan tidak selalu harus saling mencurigai. Keduanya dapat berjalan beriringan, saling memperkaya, dan bersama-sama menemukan cara baru untuk berbicara kepada setiap generasi.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (268) kepegawaian (177) hukum (99) oase (97) serba-serbi (95) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)