Ada banyak cara mengenang seorang tokoh. Sebagian orang mengingat jabatan, sebagian lain mengingat pidato, prestasi, atau kontroversinya. Tetapi kadang justru cerita kecil dari masa muda yang terasa paling manusiawi. Bukan kisah dari istana atau panggung politik, melainkan dari jalan kampung, ruang sempit, dan perut yang lapar.
Begitu pula kisah masa muda Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pacitan. Artikel Intisari tentang SBY muda menghadirkan sosok yang jauh dari bayangan formal seorang presiden dua periode ini. Bukan figur berjas dengan pengawalan ketat, melainkan seorang remaja desa yang tinggal di rumah pakdenya, tidur di kamar kecil, menimba air setiap pagi, membaca buku sambil makan, dan sesekali ngemil kacang goreng dengan teh manis di dekatnya.
Saya selalu tertarik pada cerita-cerita seperti ini. Bukan karena ingin memoles tokoh menjadi tanpa cela, melainkan karena masa muda sering kali membuka sisi yang tidak tertangkap dalam biografi resmi. Di sanalah manusia biasanya terlihat lebih utuh.
Pacitan pada tahun 1960-an bukanlah kota yang ramai. Daerah pesisir selatan itu hidup dalam kesederhanaan, bahkan kesulitan. Orang mengenalnya sebagai Kota Gaplek, tempat banyak keluarga bertahan dengan singkong dan tiwul. Sekolah masih terbatas, sarana sedikit, dan untuk memperbaiki hidup, banyak anak muda harus pergi jauh merantau. Di lingkungan seperti itulah, SBY muda—atau Bambang, seperti dipanggil teman-temannya—tumbuh.
Yang paling menonjol dari cerita tersebut sebenarnya bukan soal kecerdasan atau ambisi menjadi tentara. Dua hal itu sudah cukup dikenal publik. Yang menarik justru tiga kata sederhana: buku, musik, dan teman.
Buku lebih dulu datang dalam hidupnya. Di kamar mungil tanpa banyak perabot, Bambang dikenal tidak pernah jauh dari bacaan. Buku pelajaran, cerita, sampai komik pewayangan dilahapnya. Bahkan saat makan pun ia masih membaca.
Ada sesuatu yang akrab dari gambaran itu. Banyak keluarga Indonesia mengenal tipe anak seperti ini: dipanggil tidak dengar, duduk lama sambil menunduk, lebih akrab dengan halaman buku ketimbang keramaian sekitar. Kadang membuat orang tua jengkel, tetapi diam-diam juga menumbuhkan rasa bangga.
Mungkin dari kebiasaan membaca itulah muncul kesediaannya membantu teman belajar. Ia bukan tipe murid yang sibuk menjaga posisi sendiri. Saat pelajaran sulit seperti matematika atau bahasa Inggris membuat teman-temannya kebingungan, Bambang justru senang mengajar. Ada orang yang pintar tetapi menjaga ilmunya seperti barang mahal. Ada pula yang merasa ilmunya baru berarti kalau bisa dibagi. Bambang tampaknya masuk kelompok kedua.
Lalu datanglah musik. Bagi generasi sekarang, membentuk band mungkin urusan sederhana. Tinggal meminjam studio atau membeli alat secara daring. Tetapi di Pacitan saat itu, alat musik adalah kemewahan. Bas dibuat dari peralatan seadanya, mikrofon bekas telepon disulap menjadi perangkat suara, speaker radio transistor dipakai sebagai pengeras. Semua serba darurat, tetapi semangatnya tidak darurat.
Mereka memainkan lagu-lagu yang didengar dari radio: Koes Bersaudara, The Beatles, atau Everly Brothers. Saya membayangkan anak-anak muda itu berkumpul malam hari, menyalin lirik, menghafal nada, lalu tampil penuh percaya diri meski dengan alat seadanya. Musik, seperti halnya buku, menjadi cara kecil melawan keterbatasan.
Namun, bagian yang paling mengharukan justru datang dari kisah sepeda. Saat hidup serba susah dan kelompok musik mereka sering tak punya uang bahkan untuk makan, Bambang memilih menjual perlengkapan sepedanya. Lampu dijual, dinamo menyusul, sampai akhirnya sepeda itu sendiri dilego. Alasannya sederhana: supaya teman-temannya bisa makan dan tetap berkumpul.
Cerita ini terasa menyentuh justru karena tidak heroik secara berlebihan. Ia bukan pengorbanan besar yang mengubah sejarah. Tidak ada sorak-sorai atau tepuk tangan. Hanya keputusan seorang anak muda yang tidak tega melihat kawannya lapar.
Di zaman sekarang, ketika pertemanan kadang diukur dari manfaat atau kedekatan digital, kisah itu terasa seperti pengingat lama yang sederhana. Persahabatan bukan soal seberapa sering hadir dalam foto bersama, melainkan seberapa jauh kita bersedia berbagi saat keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Tentu, satu kisah masa muda tidak otomatis menjelaskan seluruh perjalanan politik seseorang. Manusia lebih rumit daripada kenangan masa sekolahnya. Tetapi cerita tentang menjual sepeda demi musik dan perut teman setidaknya menunjukkan satu hal, bahwa sebelum menjadi presiden, SBY pernah menjadi anak kampung yang belajar tentang solidaritas dari kehidupan yang serba terbatas.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya