Mengelola Jejak Digital

Minggu, 09 November 2025

Pernahkah Anda menemukan foto lama di galeri ponsel, lengkap dengan gaya rambut yang menurut Anda sangat keren saat itu, namun kini membuat Anda sedikit mengernyit sambil tersenyum simpul? Begitulah kira-kira rasanya ketika kita secara tidak sengaja bertemu kembali dengan jejak digital politik dari masa lalu.

 

Baru-baru ini saya menemukan sebuah tangkapan layar dari tahun 2019. Tertulis sebuah kutipan tentang kekuasaan dan cara kerjanya, “Pembuat hoax terbaik adalah penguasa, karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media punya.” Dikirim melalui akun resmi sebuah partai politik. Ditanggapi oleh seseorang dengan istilah menarik yang disematkan di sana. Ia menulis, “Kini kita tahu siapa produsen kebohongan dan hoax yang STM (Sistematik, Terstruktur, Massif).” STM, sebuah akronim yang dulu terasa sangat garang, seolah-olah kita sedang membicarakan operasi rahasia dalam novel spionase tingkat tinggi. Postingan tersebut bertiti masa 18 Februari 2019.

 

Menariknya, mereka yang dulu menuliskan atau mendukung narasi tersebut, beberapa tahun berselang berada di posisi yang mereka bicarakan. Ya, karena tawaran koalisi maupun menang pemilihan. Tentunya, sebagai pihak yang memerintah (baca: pemerintah). Ketika mereka berada di luar pagar istana, dunia terlihat seperti hitam dan putih, yang melihat kebijakan sebagai teka-teki yang sengaja dibuat rumit, dan informasi resmi sebagai sesuatu yang harus selalu dicurigai. Saat itu, kata-kata seperti “hoax” atau “produsen kebohongan” menjadi alat tukar komunikasi yang sangat murah dan mudah digunakan untuk mengkritik peralatan yang dimiliki penguasa.

 

Namun, saat kursi kekuasaan itu berpindah dan mereka mendudukinya, dunia tiba-tiba berubah menjadi penuh gradasi abu-abu. Peralatan yang dulu dianggap sebagai mesin pembuat hoax oleh diri mereka di masa lalu, kini tiba-tiba tampak seperti instrumen edukasi publik. Data statistik yang dulu dianggap manipulasi, kini menjadi landasan objektif kebijakan. Media yang dulu dianggap berpihak, kini dipandang sebagai mitra strategis desiminasi informasi.

 

Hal ini merupakan sebuah metamorfosis yang menarik untuk diamati. Bukan karena adanya niat buruk, melainkan karena mungkin memang begitulah sifat alami dari sebuah tanggung jawab. Dari luar, mereka sebagai kritikus film yang bebas mencela akting aktornya. Di dalam, mereka berperan sebagai aktor yang baru menyadari bahwa lampu sorot itu ternyata sangat silau dan naskahnya ternyata sangat tebal.

 

Dalam hidup, kita sering kali perlu melakukan update pada perangkat lunak di gawai agar tetap berfungsi optimal. Di dunia politik, update ini sering kali berupa amnesia atau pura-pura lupa akan masa lalu. Bayangkan jika para pemegang kekuasaan hari ini harus terus-menerus diingatkan pada tweet mereka di tahun 2019 setiap kali mereka akan memulai rapat kabinet. Mungkin rapat tidak akan pernah selesai karena mereka terlalu sibuk mengklarifikasi masa lalu mereka sendiri.

 

Maka, solusinya adalah dengan memperlakukan masa lalu sebagai fase pertumbuhan. Sama seperti kita tidak bisa menyalahkan seorang remaja yang merasa dunia akan kiamat hanya karena jerawat, kita mungkin juga tidak perlu terlalu keras pada politisi yang merasa pemerintah adalah sumber segala masalah sebelum mereka sendiri menjadi pemerintah itu sendiri.

 

Humornya terletak pada betapa halus transisi ini terjadi. Dulu, narasi STM (Sistematik, Terstruktur, Massif) dilemparkan seperti bola api. Sekarang, istilah tersebut mungkin telah disimpan rapi di museum sejarah retorika, digantikan oleh istilah yang lebih ramah di telinga seperti “Sinergi, Kolaborasi, dan Stabilitas”.

 

Politik, jika dinikmati dengan kepala dingin, sebenarnya sebuah komedi situasi yang sangat manusiawi. Ia menunjukkan kepada kita bahwa konsistensi adalah barang mewah yang sulit dipertahankan ketika realitas mulai mengetuk. Kita belajar bahwa kebenaran dalam politik sering kali bergantung pada siapa yang sedang memegang kontrol narasi. Yang dulu disebut sebagai hoax dari pemerintah, hari ini mungkin disebut sebagai klarifikasi resmi demi stabilitas nasional oleh orang yang sama.

 

Namun, sebagai warga negara yang budiman, kita tentu tidak ingin menjadi penonton yang sakit hati. Kita bisa menikmati fenomena ini dengan cara yang lebih santai. Alih-alih merasa tertipu, kita bisa merasa terhibur oleh betapa dinamisnya pemikiran manusia.

 

Kita bisa melihat tangkapan layar tahun 2019 itu sebagai sebuah pengingat, bahwa hidup ini ibarat roda yang berputar. Hari ini Anda yang melontarkan STM, besok bisa jadi Anda yang dituduh melakukannya. Dan saat itu terjadi, Anda akan menyadari bahwa memiliki peralatan lengkap untuk bicara ternyata tidaklah semudah yang Anda bayangkan saat masih menjadi penonton di pinggir lapangan.

 

Pada akhirnya, jejak digital adalah guru yang paling jujur, meskipun terkadang sedikit menyebalkan. Ia mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam memilih diksi, karena kata-kata yang kita lemparkan hari ini bisa jadi menjadi bantal yang akan kita tiduri besok.

 

Bagi rekan-rekan yang kini sudah duduk nyaman di kursi kekuasaan, mungkin sekali-kali perlu menengok kembali postingan lama tersebut. Bukan untuk menyesal, tapi untuk mengingatkan diri sendiri agar tetap rendah hati. Sebab, peralatan yang kalian miliki sekarang adalah titipan, dan penonton yang dulu bersama kalian di luar pagar, masih tetap di sana, mencatat setiap narasi dengan teliti.

 

Setidaknya, jika suatu saat nanti kalian kembali berada di luar, kalian sudah tahu persis rasanya menjadi orang yang “memiliki seluruh peralatan untuk berbohong” tapi memilih untuk tetap bicara apa adanya. Mungkin.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

coretan (231) kepegawaian (175) hukum (93) serba-serbi (93) oase (89) saat kuliah (71) pustaka (64) tentang ngawi (62) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)