Tertawa sering kali dianggap sebagai aktivitas sepele, sebuah respons spontan terhadap sesuatu yang janggal atau jenaka. Namun, jika kita menilik ke masa lalu yang jauh hingga ke masa kerajaan Nusantara, humor bukan sekadar intermezo. Dari panggung di zaman kuno hingga layar bioskop yang menghidupkan kembali memori lawak, ada satu benang merah yang nyata, bahwa bangsa ini dirawat oleh tawa.
Keberadaan
pelawak di Nusantara, khususnya di tanah Jawa, telah tercatat sejak zaman kuno
melalui berbagai teks sastra dan prasasti. Dalam Kakawin Sumanasantaka
karya Mpu Monaguna dari abad ke-13, digambarkan suasana pesta pernikahan yang
meriah dengan kehadiran para penghibur seperti widu, pirus, dan men-men.
Pertunjukan mereka yang penuh dengan lelucon terbukti sangat efektif dalam
mengundang tawa dan sorak-sorai dari warga desa yang menonton.
Secara
terminologi, masyarakat Jawa Kuno memiliki penyebutan khusus bagi para pelaku
seni komedi ini. Arkeolog Titi Surti Nastiti menjelaskan adanya dua kategori
utama, yakni mabanol (atau abanol) dan mamirus (atau pirus).
Perbedaan mendasarnya terletak pada teknik penyampaian komedi. Mabanol
lebih mengandalkan gerakan tubuh atau pantomim yang lucu, sementara mamirus
menggunakan kepiawaian mengolah kata-kata dan kalimat jenaka untuk memancing
tawa penonton.
Profesi pelawak pada masa itu tidak hanya dianggap sebagai hiburan jalanan, tetapi juga memiliki kedudukan sosial yang diakui secara resmi. Hal ini dibuktikan dalam Prasasti Poh, di mana juru lawak turut diundang sebagai saksi dalam upacara penetapan wilayah sima (tanah perdikan). Mereka, seperti tokoh Si Lugundung dan Si Kulika, menerima upah berupa kain dan emas atas peran mereka. Selain itu, visualisasi gerakan lucu pelawak juga diabadikan dalam relief Candi Borobudur, yang menunjukkan bahwa seni melawak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat sejak masa lalu.
Melompat
jauh ke era modern, tonggak komedi Indonesia mencapai puncaknya melalui
kelompok Srimulat. Srimulat merupakan kelompok lawak legendaris Indonesia yang
didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo dan Raden Ayu Srimulat. Berawal dari
rombongan seni panggung keliling yang memadukan musik dan komedi, grup ini
bertransformasi menjadi fenomena hiburan nasional yang merambah kota-kota besar
seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Keberhasilan Srimulat terletak pada
kemampuannya menyajikan pertunjukan yang variatif, mulai dari keroncong hingga
jazz, yang dipadukan dengan sketsa komedi yang sangat dekat dengan kehidupan
masyarakat.
Kekuatan
utama Srimulat terletak pada teknik humor yang cerdas dan karakter pemain yang
sangat khas. Srimulat sering menggunakan mekanisme kondensasi kata seperti
plesetan, serta teknik repetisi atau pengulangan untuk memancing tawa. Setiap
anggota, mulai dari Tessy, Nunung, hingga Asmuni, memiliki ciri khas dan
karakter yang sengaja ditonjolkan, sehingga menciptakan interaksi panggung yang
spontan namun tetap memiliki pola yang kuat dalam ingatan penonton.
Meski
secara resmi sempat bubar pada tahun 1989 karena pasang surut dunia
pertunjukan, warisan Srimulat tetap hidup dalam budaya populer Indonesia. Para
anggotanya tetap berkarier dengan membawa karakter yang sama di berbagai acara
televisi, sehingga gaya komedi mereka tetap dikenali lintas generasi. Kelekatan
lelucon dan kekhasan karakter inilah yang membuat Srimulat bukan sekadar grup
lawak biasa, melainkan sebuah institusi seni yang meninggalkan jejak mendalam
dalam sejarah hiburan tanah air.
Upaya
menghidupkan kembali Srimulat melalui film “Srimulat: Hil yang Mustahal”
menunjukkan bahwa humor memiliki “nyawa sambung”. Film ini bukan sekadar jualan
nostalgia. Di balik gelak tawanya, ada narasi perjuangan tentang bagaimana
seniman daerah harus bernegosiasi dengan budaya ibu kota dan bahasa nasional.
Perjuangan pelawak daerah seperti Gepeng dan kawan-kawan untuk diterima di
Jakarta adalah metafora dari perjuangan identitas kelas bawah yang berusaha
naik kelas tanpa kehilangan jati dirinya. Di sini, humor berfungsi sebagai
jembatan yang meruntuhkan sekat-sekat etnis dan strata sosial.
Namun,
mengapa kita begitu terobsesi dengan humor? Jawabannya mungkin ditemukan dalam
dinamika relasi antarmanusia yang sering disebut sebagai daya tarik. Sebuah
artikel di Kompas membahas fenomena psikologis dan
sosial mengapa pria humoris sering kali dianggap lebih memikat bagi perempuan
dibandingkan pria yang hanya mengandalkan ketampanan fisik. Berdasarkan
pengamatan dan berbagai studi perilaku, perempuan cenderung lebih menyukai pria
yang mampu membuat mereka tertawa karena tawa menciptakan rasa nyaman dan
kedekatan emosional. Sebaliknya, pria juga merasa lebih percaya diri ketika
perempuan memberikan respons positif berupa tawa terhadap lelucon yang mereka
sampaikan, menciptakan dinamika interaksi yang menyenangkan bagi kedua belah
pihak.
Selera
humor yang baik ini dipandang sebagai cerminan dari kecerdasan dan kreativitas
seseorang. Kemampuan untuk mengolah kata-kata, melihat situasi dari sudut
pandang yang unik, dan menyampaikan humor pada waktu yang tepat menunjukkan
bahwa pria humoris memiliki ketangkasan kognitif dan empati yang tinggi. Hal
ini menjadi daya tarik intelektual tersendiri karena humor dianggap sebagai
indikator bahwa seseorang mampu menghadapi tekanan hidup dengan cara yang lebih
positif dan tidak kaku, sehingga lebih potensial untuk menjadi pasangan yang
suportif dalam jangka panjang.
Daya
tarik pria humoris melampaui sekadar hiburan semata, melainkan berkaitan dengan
kemampuan membangun koneksi sosial yang kuat. Dalam sebuah pertemuan, lelucon
(bahkan yang sederhana sekalipun) sering kali menjadi pemecah kebekuan yang
efektif untuk meruntuhkan kekakuan komunikasi. Dengan sifat humoris, pria
dianggap lebih terbuka dan mudah didekati, yang pada akhirnya membuat pesona
mereka tetap membekas dalam ingatan meskipun pertemuan telah berakhir.
Jika
kita menggabungkan perspektif sejarah dari zaman Jawa Kuno, perjalanan
legendaris Srimulat, hingga sains tentang daya tarik humor, kita sampai pada
sebuah kesimpulan besar. Humor merupakan mekanisme pertahanan hidup manusia
yang paling elegan. Kita menertawakan zaman bukan karena hidup ini tidak
serius, tapi karena terkadang hidup terlalu serius untuk dihadapi tanpa tawa.
Tawa akhirnya menjadi bahasa universal yang melampaui prasasti batu, panggung sandiwara, maupun layar digital. Dari Si Lugundung di masa kuno hingga para komika di era stand-up comedy saat ini, esensinya tetap sama. Humor menjadi alat untuk memanusiakan manusia, yang mengubah hal berat terasa ringan, yang jauh terasa dekat, dan yang kaku menjadi cair. Jadi, jika hari ini Anda merasa dunia sedang tidak baik-baik saja, mungkin yang Anda butuhkan bukan sekadar solusi, melainkan sedikit tawa untuk menyambung nyawa.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya