Pernahkah Anda merasa, baru saja membuka Instagram untuk melihat satu notifikasi, eh, tahu-tahu sudah dua jam berlalu karena asyik menonton video kucing atau scrolling tanpa henti di TikTok? Jika iya, Anda tidak sendirian. Kita sedang hidup di era di mana layar bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang tamu, pasar, hingga medan tempur opini bagi jutaan orang.
Berbicara
soal media sosial di Indonesia, kita bicara soal dinamika yang sangat unik.
Menurut data yang dirilis oleh Kompas, wajah media sosial kita hari ini
sangatlah muda. Pengguna media sosial di Indonesia kini didominasi oleh Gen Z,
yaitu generasi yang lahir antara akhir tahun 1990-an hingga awal tahun 2010-an.
Bagi mereka, media sosial bukan barang baru yang harus dipelajari dengan buku
manual. Media sosial ibarat bahasa ibu digital mereka.
Dominasi
Gen Z dalam lanskap digital Indonesia membawa warna baru. Bagi mereka, media
sosial adalah tempat utama untuk mengekspresikan diri, mencari hiburan, hingga
mencari nafkah. Fenomena content creator muda yang sukses bukan lagi
cerita langka. Namun, di balik kemilau filter estetik dan transisi video yang
halus, ada pergeseran cara kita mengonsumsi informasi.
Gen Z cenderung menginginkan segala sesuatu yang cepat dan ringkas. Itulah mengapa format video pendek menjadi primadona. Sayangnya, kecepatan ini sering kali mengorbankan kedalaman. Kita menjadi generasi yang tahu sedikit tentang banyak hal, tapi jarang yang tahu banyak tentang satu hal. Di titik inilah, media sosial mulai menunjukkan sisi pedang bermata duanya.
Satu
hal yang sering kita lupakan saat jempol asyik bergulir di layar adalah kontrol
diri. Masalah muncul ketika penggunaan media sosial sudah melampaui batas
kewajaran. Berdasarkan laporan dari Kompas, terdapat korelasi yang cukup
mengkhawatirkan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan
penyebaran hoaks.
Mengapa
bisa begitu? Logikanya sederhana namun fatal. Ketika seseorang menghabiskan
terlalu banyak waktu di dunia maya, mereka sering kali masuk ke dalam kondisi
kelelahan kognitif. Dalam kondisi ini, kemampuan otak untuk menyaring informasi
secara kritis menurun drastis. Akibatnya, ketika ada berita bombastis yang
lewat di beranda (terlepas dari benar atau tidaknya) jari kita lebih cepat
memencet tombol share daripada otak kita memproses kebenarannya.
Penggunaan
media sosial yang berlebihan membuat kita terjebak dalam ruang gema (echo
chamber). Kita hanya mendengar apa yang ingin kita dengar dan hanya melihat
apa yang sesuai dengan keyakinan kita. Saat ada informasi palsu yang mendukung
prasangka kita, kita cenderung langsung memercayainya tanpa verifikasi. Di
sinilah hoaks tumbuh subur seperti jamur di musim hujan.
Lucunya,
meski disebut media sosial, penggunaan yang berlebihan justru sering kali
membuat kita merasa terisolasi secara sosial di dunia nyata. Kita mungkin punya
seribu teman di Facebook atau puluhan ribu pengikut di Instagram, tapi berapa
banyak dari mereka yang bisa kita ajak bicara saat kita sedang merasa
benar-benar terpuruk?
Gen
Z, sebagai penguasa ranah ini, memikul beban mental yang cukup berat. Ada
tekanan untuk selalu terlihat sempurna, selalu up-to-date dengan tren
terbaru (sering disebut FOMO atau Fear of Missing Out), dan keinginan
untuk selalu divalidasi lewat jumlah likes. Tekanan inilah yang kemudian
mendorong seseorang untuk terus-menerus terpaku pada layar, yang pada akhirnya
memperbesar risiko mereka terpapar dan menyebarkan misinformasi.
Lalu,
apakah solusinya adalah berhenti menggunakan media sosial sama sekali? Tentu
tidak. Menutup diri dari media sosial di zaman sekarang hampir sama mustahilnya
dengan mencoba menghentikan hujan dengan tangan kosong. Kuncinya bukan pada
pelarangan, melainkan pada kesadaran.
Kita
perlu melakukan diet digital. Sama seperti kita menjaga apa yang masuk ke dalam
perut kita, kita juga harus menjaga apa yang masuk ke dalam pikiran kita
melalui layar ponsel. Sebagai pengguna, terutama bagi Gen Z yang mendominasi,
penting untuk kembali menumbuhkan budaya tabayyun atau verifikasi.
Sebelum menyebarkan sebuah berita, tanyakan pada diri sendiri,“Apakah ini
benar? Apakah ini bermanfaat? Atau ini hanya akan memperkeruh suasana?”
Pihak
penyedia platform memang punya tanggung jawab untuk memberantas hoaks
dengan algoritma mereka. Namun, benteng pertahanan terakhir tetap ada pada
literasi digital penggunanya. Literasi bukan hanya soal bisa membaca, tapi soal
kemampuan membedakan mana fakta yang objektif dan mana opini yang dibungkus
seolah-olah fakta.
Media
sosial ibarat cermin dari masyarakat kita. Jika kita melihat banyak hoaks,
kemarahan, dan kepalsuan di sana, mungkin itulah yang perlu kita perbaiki dalam
cara kita berinteraksi secara kolektif. Dominasi Gen Z di media sosial
Indonesia sebenarnya adalah peluang besar. Generasi ini punya kreativitas tanpa
batas dan energi untuk membawa perubahan positif.
Bayangkan
jika energi yang digunakan untuk scrolling berjam-jam dialihkan untuk
menciptakan konten edukatif atau menyebarkan gerakan sosial yang nyata.
Bayangkan jika dominasi jumlah pengguna ini dibarengi dengan tingkat kritis
yang tinggi, maka Indonesia bisa menjadi negara dengan ekosistem digital paling
sehat di dunia.
Sebagai
penutup, mari kita ingat bahwa media sosial hanyalah alat. Ia bisa menjadi
perpustakaan terbesar atau bisa menjadi tong sampah informasi terbesar di dunia,
tergantung bagaimana kita menggunakannya. Mari berhenti sejenak, letakkan
ponsel, ambil napas dalam-dalam, dan lihatlah dunia nyata di sekitar kita.
Karena pada akhirnya, kehidupan yang sesungguhnya terjadi di luar layar, bukan
di dalam kolom komentar.
Jadilah
pengguna yang cerdas, bukan sekadar pengguna yang aktif. Sebab, di era banjir
informasi ini, kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir adalah kemewahan
sekaligus senjata yang paling ampuh.

0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya