Ternak Relawan

Kamis, 17 September 2015

Lelaki setengah baya itu, kini rambutnya dominan memutih. Tak lagi gondrong sebahu. Kumis hitam tebal yang dulu menghias atas bibirnya, tak lagi nampak. Dicukur habis. Suaranya sedikit serak, sama seperti dulu, namun enak didengar bila berdendang. Sebingkai kacamata menemani kedua matanya di usia senja. Lagu-lagu yang diciptakannya pernah menjadi ikon gerakan melawan kemapanan. Syair-syair yang dibuatnya telah menjadi kritik sosial. Tak heran, kuping penguasa terutama di era Orde Baru kerap memerah mendengarnya.

Lebih dasa warsa silam lantang dia menyuarakan lagu untuk presiden baru. Suara yang keluar dari dalam goa penuh lumut kebosanan. Turunkan harga secepatnya. Berikan kami pekerjaan. Tegakan hukum setegak-tegaknya, adil dan tegas tak pandang bulu. Bila itu terwujud akan kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa, katanya.

Berselang lama kemudian, presiden baru itu pun berganti presiden baru yang lain. Lelaki setengah baya itu pun semakin menua. Entahlah, apakah dia masih sanggup berteriak seperti dulu mengkritik penguasa sebagaimana lagu-lagunya. Karena tampaknya dia mulai menemukan sosok manusia setengah dewa. 

Seusai perebutan singgasana presiden yang menguras banyak energi, lelaki itu pun didaulat sebagai duta desa. Harga yang setimpal, mengingat pengorbanannya yang luar biasa di masa kampanye. Hebatnya, ia tak sendiri. Berduyun-duyun relawan maupun politisi pendukung tuan presiden mendapatkan jatah layaknya. Anggota kabinet sebagian diisi oleh orang-orang partai. Lingkar istana diisi oleh eks tim sukses. Posisi terhormat di BUMN diberikan kepada orang-orang yang dulu berjerih payah. Memang, relawan sedang naik daun, kayak ulat bulu.


Setali tiga uang dengan jabatan duta besar. Seorang mantan dubes, di hari ulang tahun Kementerian Luar Negeri ke 70 menuliskan keprihatinannya karena sepertiga dari daftar nama calon dubes merupakan mantan anggota tim relawan tuan presiden. Konon, semula tuan presiden menghendaki separo calon dubes berasal dari para relawan atau pendukungnya dan menghendaki mereka ditempatkan di pos-pos strategis. Lebih rumit, beberapa kelompok relawan, kabarnya, mengirimkan nama-nama tokohnya untuk menjadi dubes langsung ke Kemenlu tanpa koordinasi ke Sekretariat Negara sebagaimana lazimnya selama ini.

David Easton, profesor Universitas Chicago Amerika Serikat, pernah memprediksi bahwa ini akan terjadi dalam politik. Easton menggariskan bahwa ada atribut yang disebut input-output dalam sistem politik. Input berasal dari masyarakat yang isinya tuntutan dan dukungan, sementara output adalah hasil kerja politik yang berasal dari tuntutan dan dukungan. Bila dikaitkan dengan relawan saat pilpres lalu, relawan sedang memainkan fungsi tuntutan kembali setelah output telah tercapai. Demikian, saya kutip dari opini Hendri B Satrio, dosen Paramadina.

Masuknya para relawan dan politisi pendukung di lingkar elit tuan presiden tidaklah mengejutkan. Era sebelumnya pun jamak seperti itu. Bahkan dianggap sesuatu yang demikian wajarnya. Partai politik yang berpayah-payah menjadikannya tuan presiden, amatlah layak dianugerahi kursi jabatan bagi para kadernya. Beribu musabab bisa menjadi dalih. Beragam alasan dapat menjadi pembenar.

Tapi bukankah dulu tuan presiden pernah berjualan janji untuk tidak menjalankan politik transaksional, yakni bagi-bagi kursi jabatan. Lupakah dia. Ah, perkara lupa janji pun sudah demikian lumrah dilakoni setiap pemimpin negeri ini. Toh, hampir semua pernah melakukannya. Dari segala tingkatan. Kepala dusun, kepala desa, kepala daerah, kepala negara, anggota dewan. Janji indah yang terpampang di baliho, menjadi gula-gula di pesta demokrasi.

Saya jadi teringat dengan sajak ”Telur” karya Pak Zawawi Imron. Ia katakan, dubur ayam yang mengeluarkan telur lebih mulia ketimbang mulut yang menjanjikan telur. Jika saya katakan kini tuan presiden sedang lupa janji menjadikan sebagian orang sensitif, maka lupakanlah. Barangkali sahaja, dulu pewarta media salah kutip ucapannya. Atau rakyat yang sedang membumbung tinggi harapannya yang salah dengar.

Anda pernah ke Yunani? Negara ini tertuduh oleh tuan presiden sebagai salah satu penyebab lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Gegara gagal bayar utang. Tapi bukan ini yang ingin saya sampaikan. Saya hanya ingin bercerita salah satu mitologi di negeri banyak dewa itu. Tersebutlah dongeng tentang Sisifus yang dihukum oleh para dewa untuk mendorong sebuah batu besar ke atas gunung. Bersusah payah ia dorong batu, namun begitu sampai di puncak, batu itu meluncur lagi ke bawah. Ia dorong lagi ke atas, namun jatuh lagi ke bawah. Demikian seterusnya. Berulang-ulang.

Sejatinya, mitologi itu tak pernah mati menjalar keseharian kita.  Batu itu ibarat harapan rakyat di mulut manis janji pemimpin dan tangan kuasa elit politik. Didorong ke puncak, dibuai janji setinggi langit. Lalu dilemparkan ke dasar, dilupakan. Dinaikkan lagi, dilempar lagi. Demikian seterusnya. Berulang-ulang.

Nun jauh ribuan kilo dari ibukota yang seringkali gaduh dengan perilaku elit, seorang kenalan sedang  memupuk harapan. Usianya barangkali sepantaran dengan lelaki yang saya utarakan di muka tadi. Keluarlah cerita dari mulutnya, jika di masa tuanya ini ingin sekali mengembangkan usaha ternak lele. Tempat tinggalnya di lereng gunung Lawu sangatlah cocok untuk pembibitan. Pemasaran bukan menjadi permasalahan karena pembeli dari luar kota telah tersedia.

Di hadapan saya ia bermaksud berhenti dini dari pegawai negeri. Harapannya kelak selembar kertas berisi keputusan pensiunnya bisa ditukar dengan rupiah dari bank sebagai modal memperbesar usaha ternak lelenya. Ada binar cita di matanya. Berharap ternak lele itu dapat menambah rejeki di masa purna tugas. Ia tak sendiri. Bersama beberapa teman yang juga pensiun, dilakoninya usaha ternak itu.

Beberapa hari kemudian saya mulai berpikir, sepertinya ada usaha ternak yang lebih menjanjikan. Ternak relawan. Siapa tahu suatu saat nanti diganjar dengan kursi jabatan di BUMN atau kursi duta besar di luar negeri. Anda tertarik?

2 komentar:

Reni mengatakan...

Selamat siang... maaf ya komentarnya OOT
Aku sekarang di inspektorat sejak April kemarin
BTW aku masih suka intip blog ini utk cari referensi lho
Makasih yaa....
BTW kalau ke Madiun kabar-kabari semoga bisa ketemu :)

wurianto saksomo mengatakan...

oke bu reni

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)