Tragedi Tambang

Jumat, 06 November 2015

Di balik peralatan elektronik yang sering kita pergunakan sehari-hari, ternyata ada peluh keringat dan tetes darah ribuan penambang di Afrika, terutama di Kongo. Telepon pintar, laptop, komputer, DVD player, kamera digital termasuk di antaranya. Beberapa produk elektronik menggunakan logam tantalum, yang merupakan hasil pengolahan dari biji coltan. Logam tersebut memiliki kekuatan untuk menahan panas, menahan karat, dan menahan kekuatan listrik tingkat tinggi. Pertambangan coltan terdapat di Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Ethiopia, Mozambique, dan Kongo. Diperkirakan 80 persen dari produksi coltan di dunia dihasilkan di Kongo.

Demikian vitalnya coltan mengakibatkan harganya membumbung tinggi, konon dua sampai tiga kali lipat dari harga emas. Ironisnya, hal tersebut tak sebanding dengan pendapatan para penambang. Upah per hari mereka USD 5 dengan bekerja rata-rata 12 jam setiap hari di bawah tekanan dan kondisi berbahaya. Coltan ditambang melalui proses yang cukup primitif, manual, dan sederhana. Di Kongo, banyak tempat pertambangan yang dikontrol oleh pemberontak selama bertahun-tahun. Hasilnya digunakan membeli senjata untuk berperang. Sekitar 6,9 juta jiwa menjadi korban perang sejak tahun 1998 akibat konflik di Kongo.

Penguasaan tempat pertambangan untuk pembelian senjata digambarkan di dalam film besutan Edward Zwick, berjudul Blood Diamond. Sutradara The Last Samurai ini menyuguhkan cerita tentang pencarian berlian merah muda yang berukuran lebih besar dari lainnya dengan latar kisah nyata konflik etnis yang mengakibatkan terjadinya perang saudara di Sierra Leone, salah satu negara benua hitam Afrika. Di film yang diaktori oleh Leonardo Dicaprio ini kita disuguhi kisah pilu, tentang pembunuhan warga sipil, perbudakan di tambang berlian, dan penculikan para bocah untuk dijadikan tentara pemberontak.

Film lain tentang konflik tambang adalah Fire Down Below yang dibintangi oleh Steven Seagel sebagai Jack Taggart yang merupakan agen EPA. EPA adalah Environmental Protection Agency, sebuah lembaga pemerintah federal Amerika Serikat yang melindungi kesehatan manusia dan lingkungan. Taggart menyamar sebagai relawan pada gereja setempat di kota Jackson, Kentucky untuk menyelidiki dugaan pencemaran yang dilakukan perusahaan pertambangan. Masyarakat tidak banyak memberikan keterangan karena didera ketakutan. Gereja tempatnya bekerja dibakar, pendetanya dibunuh. Taggart sendiri beberapa kali mendapat ancaman fisik pembunuhan. Namun berkat keahlian bela dirinya, ia selamat. Aparat keamanan dan pejabat lokal yang seharusnya melindungi kotanya dari kerusakan, tragisnya bersekongkol dengan pemilik tambang yang dikawal preman.

Lelucon Presiden

Senin, 02 November 2015

Jayanagara adalah raja kedua Kerajaan Majapahit yang memerintah di kala masih berusia belia. Ayahnya, Raden Wijaya, merupakan pendiri kerajaan sekaligus raja pertamanya. Pemerintahan Jayanagara diwarnai banyak pemberontakan atau kudeta, misalnya yang dilakukan oleh Juru Demung, Gajah Biru, Nambi, dan Ra Kuti. Bahkan Ra Kuti sempat berhasil menduduki istana sebelum akhirnya upaya kudetanya digagalkan oleh Gajah Mada, komandan Bayangkara, pengawal khusus raja. Nama terakhir ini di kemudian hari menjadi mahapatih Kerajaan Majapahit. Dan beratus tahun kemudian namanya diabadikan menjadi sebuah perguruan tinggi yang salah satu produknya saat ini menjadi tuan presiden.

Kisah tentang Jayanagara ini dulu banyak didengar oleh generasi tahun 1990-an yang konon kabarnya diklaim sebagai generasi yang amat menyenangkan. Pada era tersebut muncul sandiwara radio berjudul Mahkota Mayangkara yang berarti sebuah kekuasaan semu atau bersifat sementara yang dicapai dengan penuh angkara dan pertumpahan darah. Mahkota Mayangkara merupakan sekuel dari Tutur Tinular, sebuah sandirawa radio  legendaris karya S. Tidjab yang menceritakan perjalanan hidup ksatria Arya Kamandanu dengan latar belakang sejarah berdirinya kerajaan Majapahit. Sedangkan Mahkota Mayangkara sendiri berkisah tentang sejarah Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Jayanagara.

Dalam sandirawa tersebut Jayanagara dikisahkan sebagai raja yang dipenuhi perilaku amoral namun lemah sebagai penguasa sehingga banyak pemberontakan yang timbul di masanya. Ia juga dilanda rasa takut kehilangan tahta. Kedua adik perempuan dari lain ibu ia larang untuk menikah, bahkan hendak ia nikahi sendiri. Dalam kitab Pararaton nama asli Jayanagara adalah Raden Kalagemet. Nama tersebut bernada ejekan, karena Kalagemet bermakna jahat dan lemah, mungkin juga suka bermain perempuan. Ia terkena penyakit kelamin. Kehidupannya berakhir tragis. Seorang tabib istana, Ra Tanca, yang istrinya diganggu, akhirnya membunuh sang raja dengan cara ditikam saat mengobati sakit bisul.

Bermain api dengan perempuan, di jaman modern pun dilakoni oleh sebagian pemimpin negara. Bill Clinton salah satunya. Presiden Amerika Serikat ke-42 ini tersandung skandal dengan seorang perempuan bernama Monica Lewinsky, pekerja magang di Gedung Putih dan Pentagon. Akibat kejadian ini sang presiden musti terseok-seok dan hampir dipecat dari jabatannya (pemakzulan). Ternyata di negara seperti Amerika Serikat, hal seperti ini bisa membuat seorang pemimpin negara menjadi perhatian publik dan nyaris berakhir karirnya. Negara yang terkenal dengan seks bebasnya, namun tak rela jika presidennya menjalin hubungan terlarang dengan perempuan yang bukan istrinya. Sekali lagi urusan moral membawa peran penting.

Pelajaran Antri

Jumat, 23 Oktober 2015


Tak banyak yang mengenal nama Bagus Burhan. Tapi jika disebutkan Ranggawarsita?  Banyak yang paham. Bagus Burhan adalah nama asli dari Ranggawarsita, pujangga besar budaya Jawa (1802-1873). Ayahnya keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya keturunan Kesultanan Demak. Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda. Ia menyaksikan sendiri bagaimana penderitaan rakyat Jawa, terutama ketika program Tanam Paksa dijalankan pasca Perang Diponegoro.

Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tahun 1845. Pada masa inilah dia melahirkan banyak karya sastra. Ia terkenal karena menuliskan tentang datangnya Zaman Edan. Istilah Zaman Edan konon pertama kali diperkenalkannya dalam Serat Kalatida, yang terdiri atas 12 bait tembang Sinom. Salah satu ungkapan yang paling terkenal adalah: “Amenangi zaman edan, yen ora edan ora keduman”.

Amenangi zaman edan, yen ora edan ora keduman. Kurang lebihnya berarti mengalami zaman kegilaan, kalau tidak ikut-ikutan gila tidak akan kebagian. Bila dikaitkan atau dihubungkan dengan kondisi sekarang, zaman edan mendapatkan relevansinya. Banyak orang menghalalkan segala cara (edan, gila) untuk mendapatkan yang diinginkan. Cara edan itu bisa dengan maling, mbegal, menipu, menyuap, korupsi untuk mendapatkan harta, tahta, dan wanita, serta pria (biar imbang). Saling gasak, gesek, gosok.

Amenangi zaman edan ning dalan aspal, yen ora ngedan bakal ditabrak sedan. Ini petuah Ranggawarsita pula? Ah tidak, mana ada sedan di jaman Ranggawarsita. Kalaupun ada, tak sebanyak di zaman Andrea Hirata. Itu sekadar ungkapan untuk perilaku pengendara jalan sekarang. Mengalami kegilaan di jalan raya, kalau tidak ikut-ikutan gila (ugal-ugalan, arogan, mbegundhal) malah celaka ditabrak kendaraan lain.

Polisi Tidur

Senin, 19 Oktober 2015

Suatu pagi dalam perjalanan menuju ke kantor. Saya berhentikan sepeda motor sesaat. Tiga remaja putri berbaju seragam sekolah masih termangu. Terjerat dalam kebimbangan. Ragu-ragu. Sengaja saya berhenti memberinya kesempatan guna menyeberang jalan. Sesaat kami berada dalam kebisuan. Waktu serasa membeku. Bumi berhenti berotasi. Hingga tangan saya pun memberi tanda, barulah mereka yakin bahwa saya benar-benar mempersilakan mereka.

Saya sadari jika mereka ragu, karena seringkali pejalan kaki seolah tak dianggap oleh pengendara kendaraan bermotor. Dalam belantara jalanan, di sini, saat ini, perilaku individual  menjadi kelaziman. Mungkin tak ubahnya begal. Sama-sama merugikan sesama pengguna jalan, apalagi pejalan kaki. Mengalah untuk mendahulukan orang lain menjadi cerita usang di masa lalu.

Di kota seramai Jakarta atau Surabaya, untuk menyeberang jalan dibutuhkan nyali besar. Terkadang rambu lalu lintas serupa lampu merah bukan jaminan, karena seringkali pengendara tak acuh. Jembatan penyeberangan merupakan pilihan yang paling aman meskipun perlu waktu dan sedikit tenaga untuk melaluinya.

Di Jogja, di sekitar kampus UGM, beberapa ruas jalan diberi speed jump. Hal ini dikandung maksud agar para pengendara mengurangi kecepatan laju kendaraannya. Di situ seringkali menjadi tempat penyeberangan pejalan kaki maupun pengendara sepeda. Apakah ini membawa efek keamanan? Belum tentu juga.

Bencana Asap

Jumat, 16 Oktober 2015

“Senang. Saya sudah tua, tapi nggak mati-mati”, kata Milati. Tak ada yang tahu pasti berapa usia perempuan tua itu. Mungkin 80 tahun. Atau bisa jadi 90 tahun. Bahkan mungkin 100 tahun. Bisa juga lebih. Yang disepakati oleh cucu dan para menantunya, usianya tak kurang dari 140 tahun! Di usianya tersebut indera penglihatan dan pendengarannya masih sangat baik. Kegiatan ibadah sholat lima waktu pun masih dilakoni tiap hari di masjid yang berada 150 meter dari rumahnya.

Keluarga Milati menjadi salah satu ikon Gili Iyang. Gili Iyang adalah sebuah pulau kecil di antara gugusan pulau-pulau di sebelah timur Pulau Madura. Pulau seluas tak kurang dari 10 kilometer persegi tersebut memiliki julukan sebagai “pulau awet muda”. Kepala desa setempat menuturkan kepada Jawa Pos bahwa rata-rata usia harapan hidup penduduk di atas 80 tahun. Bandingkan dengan angka harapan hidup nasional yang ‘baru’ mencapai 70,1 tahun.

Kandungan oksigen di pulau Gili Iyang merupakan tertinggi nomor dua di seantero jagat setelah Laut Mati di Yordania. Hal itu dianggap menjadi salah satu penyebab panjang umurnya penduduk setempat. Berdasarkan hasil riset disimpulkan kandungan oksigen menembus angka 21,5 persen atau di atas rata-rata 20 persen. Sebaliknya, CO2 (karbon dioksida) mencapai 265 ppm, jauh di ambang batas 387 ppm. Sedangkan tingkat kebisingan 36,5 db. Sungguh, tempat yang ideal untuk hidup sehat. Udara segar melimpah di sana, meskipun tidak terdapat perbukitan atau gunung. Bernafas pun leluasa.

Di belahan bumi Indonesia lainnya. Di Sumatra dan Kalimantan, berjuta penduduknya kesulitan bernafas. Bencana asap akibat kebakaran (pembakaran?) hutan telah melanda dalam hitungan bulan. Seakan tak berkesudahan. Orang-orang sesak nafas. Bayi-bayi kesakitan, sebagian meninggal. Anak-anak sekolah diliburkan. Aktivitas masyarakat terbengkalai. Tahun 2015 menjadi tahun terparah bencana asap. Melengkapi kepungan asap yang rutin melanda setiap tahun.

Sepuluh Tahun Pernikahan

Jumat, 25 September 2015

4 September 1972, kelompok perlawanan Palestina melancarkan aksi penculikan bersandi operasi Berim Ikrit. Sasarannya perkampungan atlet Israel peserta Olimpiade Munich, Jerman Barat. Saat itu Jerman masih dipisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Setelah menawan atlet, mereka menuntut dibebaskannya 234 tawanan Palestina dari penjara Israel dan 2 pemimpin kelompok kiri Baader-Meinhoff dari penjara Jerman Barat dan rute aman menuju Mesir. Untuk pembebasan tahanan Palestina, pemerintah Israel menolak, sedangkan untuk rute aman tujuan Kairo disanggupi pihak Jerman. Drama penyanderaan 21 jam itu berakhir dengan aksi baku tembak di Bandara Furstenfeldbruck dan peledakan helikopter hingga mengakibatkan kematian semua sandera.

Kelompok perlawanan tersebut dikenal dengan nama Black September, kelompok yang didiskualifikasi dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Peristiwa heroik ini diangkat oleh Steven Spielberg dalam film Munich yang dibintangi oleh Eric Bana. 33 tahun kemudian, pada bulan yang sama lewat beberapa hari menjadi hari yang heroik dalam hidup saya. Sejarah yang manis. Bolehlah disebut White September. Atau Pink September. Atau apalah terserah. Bukan, saya tidak mengukir sejarah dengan aksi culik-menculik. Ini hari, sebenarnya biasa saja bagi sebagian besar orang. Namun tidak untuk saya. Dan dia.

Bergotong royong. Bekerja sama. Bersatu padu. Bersekutu tambah mutu, kata cik gu. Ya, hari ini, tepat sepuluh tahun yang lalu kami berdua berkolaborasi. Bukan membuat album lagu layaknya penyanyi Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora. Atau merilis film percintaan ala aktor Sophan Sopian dan Widyawati. Bukan pula menyandingkan emas olimpiade seperti pasangan atlit tepok bulu Alan Budikusuma dan Susi Susanti. Apalagi kolaborasi pasangan pendekar Gotawa dan Mantili yang menjaga kedaulatan Kerajaan Madangkara di sandiwara radio Saur Sepuh.

Sepultura, sepuluh tahun lalu yang tak terasa. Kolaborasi kami berdua mewujud dalam bentuk buku. Cukup 2 eksemplar, tak lebih. Tak ada niat untuk cetak ulang. Meski saya bukan orang penting, buku tersebut bertandatangan orang penting di negeri ini, kelasnya menteri. Jangan tanya rasa nasionalisme kami, sampul mukanya saja burung garuda mengepakkan kedua sayapnya.

Ternak Relawan

Kamis, 17 September 2015

Lelaki setengah baya itu, kini rambutnya dominan memutih. Tak lagi gondrong sebahu. Kumis hitam tebal yang dulu menghias atas bibirnya, tak lagi nampak. Dicukur habis. Suaranya sedikit serak, sama seperti dulu, namun enak didengar bila berdendang. Sebingkai kacamata menemani kedua matanya di usia senja. Lagu-lagu yang diciptakannya pernah menjadi ikon gerakan melawan kemapanan. Syair-syair yang dibuatnya telah menjadi kritik sosial. Tak heran, kuping penguasa terutama di era Orde Baru kerap memerah mendengarnya.

Lebih dasa warsa silam lantang dia menyuarakan lagu untuk presiden baru. Suara yang keluar dari dalam goa penuh lumut kebosanan. Turunkan harga secepatnya. Berikan kami pekerjaan. Tegakan hukum setegak-tegaknya, adil dan tegas tak pandang bulu. Bila itu terwujud akan kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa, katanya.

Berselang lama kemudian, presiden baru itu pun berganti presiden baru yang lain. Lelaki setengah baya itu pun semakin menua. Entahlah, apakah dia masih sanggup berteriak seperti dulu mengkritik penguasa sebagaimana lagu-lagunya. Karena tampaknya dia mulai menemukan sosok manusia setengah dewa. 

Seusai perebutan singgasana presiden yang menguras banyak energi, lelaki itu pun didaulat sebagai duta desa. Harga yang setimpal, mengingat pengorbanannya yang luar biasa di masa kampanye. Hebatnya, ia tak sendiri. Berduyun-duyun relawan maupun politisi pendukung tuan presiden mendapatkan jatah layaknya. Anggota kabinet sebagian diisi oleh orang-orang partai. Lingkar istana diisi oleh eks tim sukses. Posisi terhormat di BUMN diberikan kepada orang-orang yang dulu berjerih payah. Memang, relawan sedang naik daun, kayak ulat bulu.

Mencintai Bahasa Indonesia

Rabu, 09 September 2015

Sekolah Pascasarjana Universita Indonesia pernah kedatangan tamu beberapa orang profesor dari Universitas Leiden, Belanda. Setelah ngobrol ngalor-ngidul (dalam bahasa Inggris, tentunya) bertukar visi, misi, dan informasi antara kedua pihak, tiba-tiba ada salah satu anggota delegasi Belanda yang bertanya, ”Apakah di sini digunakan bahasa Inggris sebagai pengantar?” Para doktor dan profesor UI bengong semua.

Kemudian salah satu dari pihak UI menjelaskan bahwa di UI yang digunakan sebagai bahasa pengantar adalah bahasa Indonesia, kecuali untuk kelas-kelas khusus internasional. Atas pertanyaan itu, profesor Belanda malah tambah bingung, ”Nah, terus apa gunanya dipersyaratkan tes TOEFL dengan skor minimum 550?” tanya dia lagi.

Beberapa orang dari UI mencoba memberi alasan bahwa bahasa Inggris diperlukan karena buku-buku banyak berbahasa Inggris, agar mahasiswa dan lulusan mampu berkomunikasi di tingkat internasional, istilah-istilah dalam internet pun menggunakan bahasa Inggris. Tetapi sang profesor dari Belanda tampak tetap tidak mengerti. Mengapa harus 550? Untuk memahami bahasa Inggris secara pasif cukup skor 300 sampai dengan 400-an saja. Bahkan untuk mengoperasikan program komputer tidak perlu bisa bahasa Inggris sama sekali.

Kisah di atas diceritakan oleh Profesor Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang berpendapat bahwa tes TOEFL untuk ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia adalah sia-sia. Mahasiswa Amerika yang mau kuliah di UI harus mengambil tes kemampuan bahasa Indonesia, tetapi mahasiswa Indonesia tidak perlu dites TOEFL untuk kuliah di negeri sendiri.

 

Label

coretan (290) kepegawaian (179) hukum (101) oase (101) serba-serbi (101) saat kuliah (71) pustaka (68) tentang ngawi (63) keluarga (59) peraturan (46) tentang madiun (38) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (19)