Mencari Makna Hari Kartini

Sabtu, 23 April 2011

Fauzan saat lomba antar PAUD di Hari Kartini setahun lalu
Dulu di ruang kelas saya yang terletak di pojok sekolah, kelas 4 SD, di antara gambar pahlawan nasional terpasang sosok wanita, Ibu Kartini. Sama dengan gambar-gambar yang lain, tiap saya tatap wajahnya seolah matanya menatap saya juga. Saya gelengkan kepala ke kiri, matanya mengikuti saya. Saya gelengkan ke kanan, mata itu terus mengikuti. Deg! Jantung berdegup kencang. Ah cuma gambar kok. Sulit melukiskan apakah beliau di gambar itu senyum atau sedih. Cerita dari teman-teman menambah seru. Kabarnya ada yang pernah melihat gambar itu sedang menangis. Yang lebih seru lagi, saat malam hari ada yang mendengar suara tangisan wanita berasal dari ruang kelas. Wau lari, ambil langkah seribu! Saya yang bertubuh paling kecil pun tertinggal paling belakang. Menabrak bangku dan pintu kelas.

Saat saya sekolah, mulai TK, SD, SMP, dan SMA perayaan Hari Kartini dimaknai dengan pemakaian kebaya bagi para pelajar putri. Para guru wanita pun juga tak ketinggalan. Berdandan pakaian tradisional, bersanggul, memakai jarik dan selendang, dan tak lupa bermake up. Hari itu puluhan, ratusan, mungkin ribuan orang yang seperti itu. Itulah yang dicontoh Ibu Kartini. Karena beliau sudah meninggal maka fotonyalah (atau mungkin lebih tepat gambar yang mirip foto) yang bisa dilihat generasi sekarang. Dari fotonyalah itu sebagian masyarakat meniru busana beliau. Beliau pahlawan pejuang emansipasi wanita. Hari kelahirannya setiap 21 April diperingati di seluruh nusantara. Tak jarang peringatan Hari Kartini dirayakan dengan lomba-lomba. Lomba peragaan busana, lomba memasak bagi laki-laki, lomba pidato, dst. Di SMA malah ada lomba pemilihan Kartini dan Kartono.

Saat masuk bangku kuliah akhirnya perayaan simbol dan formal seperti ini jarang bahkan hampir tak pernah saya temui di lingkungan kampus. Kalaupun ada biasanya berbentuk seminar. Pernah juga beberapa mahasiswi melakukan aksi/demonstrasi di pinggir jalan, mengingatkan perjuangan Kartini kepada pengguna jalan sembari membagikan bunga. Hingga akhirnya kemarin di lingkungan kerja para pekerja wanita memakai busana ala Kartini. Ehm, lama juga saya tidak menjumpai ”Kartini-Kartini” modern ini. Perintah dari atasan-lah yang mengharuskan mereka patuh. Untung tidak ada Hari Kartono.

Hari itu dan hari-hari yang lalu, saya sedang mencari makna tentang perjuangan Kartini. Dalam konteks sekarang tentunya. Yang tidak sekedar perayaan simbol dan formal, apalagi ajang peragaan busana, lebih-lebih pameran. Saya sudah capek dengan seremonial. Bosan, meskipun bukan pelaku langsung. Satu sisi saya bangga dengan wanita Indonesia. Namun di sisi lain, saya prihatin.

Wanita Indonesia sekarang, telah mengalami era yang berbeda dengan eranya Kartini. Mereka telah mengalami kebebasan. Mereka boleh berpendidikan, menjadi pejabat, mencari nafkah, bepergian kemana mereka suka. Banyak juga yang berprestasi di bidangnya. Olahraga, seni, politik, ekonomi, hiburan, telah terambah.

Namun di tengah perayaan Hari Kartini, masih terngiang dengan jelas berita suram wanita Indonesia. Tenaga kerja wanita disiksa, pelecehan seksual muncul saban hari di media, kekerasan rumah tangga, angka kehamilan di luar nikah remaja putri kita yang tinggi, aborsi, pembuangan bayi (seakan membuang bangkai ayam saja, duh miris...!). Belum lagi kita disuguhi berita kehidupan selebriti. Gaya hidup hedonis, perceraian, obat terlarang, perselingkuhan. Seorang artis yang kabarnya diva, baru menikah sebulan yang lalu ternyata kini telah hamil 4 bulan. Ia bukan anak-anak lagi yang pikirannya jenaka. Bahkan ia telah berputra. Perpisahannya dengan suami terdahulu, konon karena ia menjalin hubungan istimewa dengan seorang pria yang kini suaminya itu. Era sekarang, kaum wanita (dan kaum pria) melihat tontonan menjadi tuntunan, sebaliknya tuntunan menjadi tontonan.

Wanita dan keluarga bagi saya adalah penopang kejayaan sebuah negara. Dari rahim wanita-lah lahir generasi unggul. Dan dari keluarga-lah proses pembelajaran dimulai. Tataplah gambar Kartini. Lihat dengan seksama. Senyum atau sedih-kah beliau?
 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya

 

Label

kepegawaian (148) coretan (123) serba-serbi (86) saat kuliah (71) oase (67) pustaka (62) keluarga (58) tentang ngawi (58) hukum (49) peraturan (46) tentang madiun (37) album (26) konsultasi (20) tentang jogja (17)