Imbuhan sering dianggap sekadar aksesori tata Bahasa. Padahal, dalam bahasa Indonesia, imbuhan dapat bekerja seperti belokan tajam di jalan raya. Kata yang semula tampak searah dapat tiba-tiba menuju tujuan makna yang berbeda. “Betul” dan “benar”, misalnya, tampak seperti saudara kembar. Keduanya lazim dipakai bergantian untuk menyatakan sesuatu yang tidak salah. Namun, ketika diberi imbuhan, keduanya tidak selalu lagi berjalan beriringan. Dari sana kita belajar bahwa kebetulan tidak sama dengan kebenaran.
Dalam percakapan sehari-hari, orang bisa mengatakan, “Jawabanmu betul,” atau “Jawabanmu benar.” Kedua kalimat itu sama-sama dapat diterima. Kata “betul” dan “benar” sama-sama menunjuk pada kesesuaian antara pernyataan dengan fakta, antara jawaban dengan soal, atau antara tindakan dengan aturan. Keduanya juga dapat berarti tidak bohong, tidak keliru, dan tidak menyimpang dari keadaan yang sesungguhnya.
Namun, bahasa tidak berhenti pada kata dasar. Ketika “betul” memperoleh imbuhan ke-an, lahirlah “kebetulan”. Ketika “benar” memperoleh imbuhan yang sama, lahirlah “kebenaran”. Secara bentuk, keduanya tampak serupa: sama-sama kata benda, sama-sama berawalan ke- dan berakhiran -an. Akan tetapi, maknanya justru berjarak jauh.
“Kebetulan” menunjuk pada sesuatu yang terjadi tanpa direncanakan, tanpa disengaja, atau datang secara tidak terduga. “Saya kebetulan bertemu dia di pasar,” misalnya, tidak berarti pertemuan itu benar atau sesuai fakta. Kalimat itu justru menyatakan bahwa pertemuan tersebut tidak dirancang sebelumnya. Ada unsur kejadian acak di sana, seolah dua orang yang berjalan di jalur masing-masing mendadak berpapasan.
